Diplomasi Faith-Based Vatikan: Alternatif Potensial untuk Perdamaian Dunia

Meilisa Anggraeni
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada
Konten dari Pengguna
12 Desember 2022 19:16 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Meilisa Anggraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Paus Fransiskus. Sumber: Marco Cantile/LightRocket/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Paus Fransiskus. Sumber: Marco Cantile/LightRocket/Getty Images
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Dunia hampir jatuh ke dalam perang nuklir saat Krisis Misil Kuba tahun 1962. Apabila terjadi, perang nuklir bisa menimbulkan kerusakan yang parah di bumi, umat manusia terancam punah. Krisis Misil Kuba pada dasarnya merupakan akibat dari perang dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet. AS melakukan upaya penyerangan ke Teluk Babi di Kuba, hal ini memicu kemarahan Uni Soviet dan membuat Uni Soviet meletakkan rudal-rudal nuklir di Kuba yang dicurigai AS sebagai ancaman keamanan nasional serius. Bagaimana Kuba bisa terlibat dalam adu kekuatan dua negara superpower ini?
ADVERTISEMENT
Hubungan yang rumit dan ketegangan antara AS dan Kuba dimulai sejak Fidel Castro menggulingkan pemerintahan Fulgencio Batista, presiden Kuba yang didukung oleh Amerika Serikat, pada tahun 1959. Fidel Castro memimpin revolusi Kuba dan menjadikan Kuba sebagai negara sosialis dengan sistem satu partai yaitu partai komunis. Reformasi agraria, nasionalisasi sektor industri dan perbankan Kuba kemudian sangat merugikan AS sebagai pemilik modal asing. Di sisi lain, hubungan Kuba dan Uni Soviet semakin erat dengan Uni Soviet yang memberikan pinjaman jutaan dolar dan menerima ekspor dari Kuba. Kuba pun menjadi sekutu Uni Soviet. Pada 1961, AS resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuba dan melarang warga AS untuk melakukan perjalanan ke Kuba. Tahun berikutnya AS melakukan embargo total terhadap Kuba serta mengecam seluruh negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan AS untuk tidak memberikan bantuan ke Kuba (Benu, 2017). AS berusaha menekan Kuba agar Kuba menjadi negara yang demokratis. Hubungan buruk AS-Kuba terus berlanjut hingga lebih lima dekade lamanya. PBB telah berupaya untuk memperbaiki hubungan keduanya dengan mengadakan banyak pemungutan suara untuk resolusi terkait Necessity of ending the economic, commercial and financial embargo imposed by the United States of America against Cuba, namun tetap tidak dapat mengubah relasi buruk dua negara. Tetapi, melalui jalan faith-based diplomacy yang dilakukan oleh Vatikan, akhirnya hubungan AS-Kuba berhasil dinormalisasi.
ADVERTISEMENT
Faith-based diplomacy
Faith-based diplomacy merupakan salah satu cabang dari multi-track diplomacy. Terdapat sembilan jalur dari konsep diplomasi multi-track, yakni jalur pemerintah, non-pemerintah, bisnis, warga sipil, penelitian, aktivisme, agama, pendanaan, dan media (McDonald, 2012). Setiap jalur menekankan aktor atau alat yang berperan dalam diplomasi. Jalur pemerintah yang dimaksud adalah diplomasi dari aspek-aspek formal pemerintah termasuk didalamnya kebijakan negara. Pada jalur kedua, ditekankan peran aktor non pemerintah untuk mengelola konflik internasional. Jalur bisnis menunjukkan bagaimana perdamaian dapat dicapai melalui kegiatan perekonomian. Warga sipil juga dapat berkontribusi dalam diplomasi, misalnya dengan program pertukaran individu antar negara. Pada jalur kelima yaitu jalur penelitian, diplomasi dapat dilakukan dengan penelitian dan pendidikan untuk sampai pada perdamaian. Selanjutnya ada diplomasi melalui aktivisme dimana perdamaian hendak dicapai dengan advokasi. Pada jalur ketujuh terdapat diplomasi melalui agama. Agama yang berdasarkan pada nilai-nilai moral dapat bergerak mendorong perdamaian. Diplomasi Vatikan termasuk dalam diplomasi jalur ini. Jalur kedelapan adalah jalur pendanaan, perdamaian didorong dengan penyediaan sumber daya. Jalur yang terakhir adalah jalur komunikasi dan media. Diplomasi jalur ini menyoroti bagaimana perdamaian dapat dicapai lewat penyebaran informasi.
ADVERTISEMENT
Dalam faith-based diplomacy, aktor yang berdiplomasi untuk mengupayakan perdamaian harus memiliki beberapa karakteristik yang juga membedakannya dengan aktor diplomasi lain. Tokoh faith-based diplomacy harus memiliki pengaruh yang besar dalam komunitas internal, reputasi yang baik dalam kekuatan non-politis, kemampuan menjadi mediator, dan kemampuan menggerakkan masyarakat tingkat nasional maupun internasional. Bentuk intervensi dalam konflik yang dapat dilakukan oleh aktor faith-based diplomacy antara lain adalah mengajak pihak yang berseteru untuk melihat harapan dan realitas, menjembatani komunikasi antara pihak berkonflik, melakukan mediasi dengan dialog berbasis spiritual, dan melakukan rekonsiliasi atau pemulihan luka sejarah pihak berkonflik (Johnston, 2003). Paus Fransiskus memiliki semua karakteristik yang dibutuhkan untuk menjadi aktor faith-based diplomacy karena beliau merupakan pemimpin Vatikan dan dikenal sebagai sosok yang penuh kasih. Paus Fransiskus menjalankan misi besar yang disebut dengan ekumenisme atau gerakan penciptaan keharmonisan demi kesejahteraan. Paus Fransiskus juga memakai semua bentuk intervensi yang dapat dilakukan oleh aktor faith-based diplomacy dalam menyelesaikan konflik AS-Kuba yang akan dibahas dibawah ini.
ADVERTISEMENT
Peran Vatikan dalam normalisasi hubungan AS-Kuba
Berdasarkan Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang dianut oleh Vatikan, embargo ekonomi yang dilakukan oleh AS tidak dapat diterima karena dampaknya yang merugikan. Vatikan terdorong untuk membantu normalisasi hubungan dua negara agar tekanan ekonomi dari embargo dapat diminimalisir. Permusuhan AS-Kuba juga menyebabkan terisolasinya Kuba dari dunia luar, ini membuat warga Kuba sulit mendapat kehidupan yang layak ditinjau dari berbagai aspek. Vatikan memerhatikan korban dari kerenggangan hubungan AS-Kuba yaitu masyarakat miskin Kuba yang menderita akibat dari embargo AS, apalagi setelah penyokong utama ekonomi Kuba yakni Uni Soviet jatuh dalam perang dingin. Total kerugian yang dirasakan oleh Kuba mencapai US$116,8 miliar atau Rp1,377 triliun (Armandhanu, 2014).
Vatikan berperan sebagai mediator dalam normalisasi hubungan AS-Kuba. Keterlibatan Vatikan dimulai pada tahun 1996 ketika Paus Yohanes Paulus II bertemu dengan Fidel Castro dan dilanjutkan di tahun berikutnya saat Paus berdiskusi dengan Medeleine Albright, Menteri Luar Negeri AS selaku perwakilan Presiden AS tentang embargo AS terhadap Kuba (Haller, 1998). Dampak dari kedua pertemuan yang dilakukan Paus tersebut adalah pada 1998, Castro membebaskan 200 tawanan politik AS dan Presiden Clinton memberikan bantuan pangan serta obat-obatan ke Kuba secara sementara.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2012, Paus Benediktus XVI mengunjungi Kuba, menyerukan penentangannya terhadap embargo AS dan menyerukan pemulihan hubungan AS-Kuba. Pada tahun 2013, terjadi perundingan antara AS dan Kuba yang bertempat di Kanada, namun belum dapat mencapai resolusi. Negosiasi-negosiasi rahasia lainnya terus dilakukan sejak ini, difasilitasi juga oleh Vatikan. Pada tahun 2013 ini, Paus Fransiskus terpilih menjadi Paus Gereja Katolik Roma. Paus Fransiskus merupakan Paus pertama yang berasal dari Amerika Latin sehingga mengerti permasalahan dan situasi Kuba dengan baik (Pianigiani & Yardley, 2014). Ia lah yang kemudian menjadi penasihat utama bagi proses perbaikan hubungan diplomatik AS-Kuba.
Pada 2014, Paus Fransiskus mengirim surat pribadi terpisah untuk Barack Obama dan Raul Castro, adik sekaligus pengganti Fidel Castro. Paus menghimbau kedua negara untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan, mendesak pertukaran tawanan dan perbaikan hubungan bilateral kedua negara (Hooper, 2014). Surat Paus Fransiskus merupakan bagian penting dalam upaya normalisasi hubungan AS-Kuba karena inilah yang menuntun pada negosiasi dua negara di Vatikan. Sebagai tindak lanjut dari surat-surat itu, pada bulan Oktober 2014 Paus Fransiskus mengundang pemimpin serta negosiator dari kedua negara untuk berkunjung ke Vatikan guna melakukan dialog konstruktif dengan Paus Fransiskus secara langsung. Pertemuan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menemukan solusi yang disepakati kedua belah pihak. Dalam perundingan tersebut akhirnya pihak AS dan pihak Kuba setuju untuk melakukan pertukaran tahanan dan pemulihan hubungan diplomatik, meskipun Kuba tidak mengubah sistem politiknya untuk disesuaikan dengan Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Pada 17 Desember 2014, bertepatan dengan ulang tahun Paus Fransiskus yang ke-78, normalisasi hubungan AS-Kuba diumumkan oleh kedua negara. Obama dan Castro memberikan pernyataan resmi mengenai hal ini melalui siaran televisi di masing-masing negara. Hal ini diikuti dengan pertukaran tahanan kedua negara, Amerika Serikat melepaskan mata-mata The Cuban Five dan Kuba melepaskan mata-mata Rolando Saraff Trujillo. Obama dan Castro juga mengucapkan terima kasih kepada Paus Fransiskus atas perannya yang vital dalam proses normalisasi hubungan kedua negara. Hubungan diplomatik AS-Kuba resmi dibuka kembali pada 20 Juli 2015 setelah terputus selama puluhan tahun dengan pembukaan kedutaan besar di kedua negara. Obama lalu meringankan sanksi embargo terhadap Kuba, meringankan beberapa aturan bagi warganya untuk melakukan perjalanan ke Kuba, dan menghapus Kuba dari daftar negara terorisme (BBC, 2015). Sementara itu, Kuba membebaskan lebih dari 3.000 tahanan umum sebagai wujud perbaikan hak asasi manusia di Kuba.
ADVERTISEMENT
Pada implikasinya, hubungan baik antara AS-Kuba masih memiliki banyak tantangan, seperti bagaimana pergantian presiden AS dapat membawa perubahan pada kebijakan luar negeri AS dan embargo ekonomi ke Kuba kembali diperketat dengan maksud mendorong Kuba untuk menggunakan sistem demokrasi. Namun, ikatan diplomatik yang dibantu proses normalisasinya oleh Paus Fransiskus tetap tidak diganggu, kedutaan besar AS tetap berdiri di Havana dan penerbangan komersil dari AS ke Kuba tetap dijalankan.
Vatikan dalam konflik Rusia-Ukraina?
Diplomasi berbasis agama Vatikan yang sukses mendamaikan permusuhan puluhan tahun dua negara yang memiliki ideologi berbeda menjadi bukti bahwa Vatikan yang direpresentasikan oleh Paus dapat menjadi mediator yang efektif untuk konflik besar di dunia, bahkan Vatikan juga berperan dalam permasalahan internal beberapa negara dengan mengutamakan nilai kemanusiaan. Vatikan turut mendukung upaya peacemaking internasional dengan cara-cara yang khas.
ADVERTISEMENT
Saat ini, masih berlangsung konflik antara Rusia dan Ukraina. Konflik ini mulai memanas seiring dengan isu bergabungnya Ukraina dalam NATO. Ukraina merupakan negara pecahan Uni Soviet, sementara itu Uni Soviet telah menjadi Rusia. Dengan bergabungnya Ukraina dalam NATO yang merupakan organisasi keamanan negara-negara kapitalis demokrasi, itu adalah ancaman keamanan bagi Rusia. Serangan yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina menyebabkan masalah sosial dan pelanggaran HAM di Ukraina. Banyak korban jiwa yang berjatuhan, jutaan warga Ukraina melarikan diri dan menjadi pengungsi. Konflik ini juga memperparah krisis kemanusiaan negara-negara lain seperti Suriah dan Yaman karena harga-harga makanan melonjak (Kasapoglu, 2022).
Beragam upaya telah dilakukan untuk menghentikan kekerasan yang terjadi, negara-negara di dunia telah mengecam Rusia atas serangan yang dilakukannya terhadap Ukraina. Pada pertemuan G20 tahun ini, Indonesia yang memegang presidensi juga telah berupaya untuk mengundang dan mempertemukan Rusia dan Ukraina. Namun belum juga menemukan resolusi dan kondisi tidak kunjung membaik. Melihat keberhasilan Vatikan di kasus AS-Kuba, bukan tidak mungkin jika Vatikan menjadi aktor yang dapat mendamaikan Rusia-Ukraina. Vatikan adalah mediator yang netral, tidak memiliki kepentingan dan tidak akan mengambil keuntungan apapun dari situasi. Vatikan tidak berdiplomasi dengan tujuan politik, ekonomi ataupun militer. Sebagai pusat agama Katolik, Vatikan melakukan diplomasi yang berlandaskan ajaran agama yang ideal terkait kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian (Chao, 2000). Diplomasi faith-based Vatikan dapat menjadi alternatif potensial untuk membuka ruang-ruang dialog antara Rusia dan Ukraina yang tidak hanya mendukung satu pihak tetapi mencari solusi yang adil dan terhormat dengan berfokus pada prinsip moral dan isu kemanusiaan yang terjadi.
ADVERTISEMENT
Paus Fransiskus pada Agustus 2022 untuk pertama kalinya menyebutkan bahwa perang di Ukraina diprakarsai oleh Rusia dan Paus menentang hal tersebut karena tidak adil secara moral dan banyak orang tak berdosa yang harus terkena imbasnya (New York Times, 2022). Sebelumnya Paus enggan menyalahkan Rusia secara langsung dan menggunakan cara-cara halus agar Rusia tetap terbuka untuk dialog perdamaian. Namun demikian, Paus Fransiskus juga mengungkapkan optimismenya dalam perdamaian Rusia-Ukraina. Ia berkata bahwa Vatikan bersedia untuk menjadi penengah guna mewujudkan gencatan senjata dan negosiasi perdamaian (Zengarini, 2022). Diharapkan diplomasi faith-based Vatikan dapat mengulang kesuksesannya untuk mengakhiri konflik-konflik yang masih terjadi di dunia baik diskala domestik maupun global, termasuk pada kasus Rusia-Ukraina.
Referensi:
ADVERTISEMENT
Armandhanu, D. (2014). "Embargo AS Rugikan Kuba Rp45,9 triliun". Diakses dari CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20140910114148-134-2913/embargo-as-rugikan-kuba-rp459-triliun
BBC. (2015). "AS hapus Kuba dari daftar negara sponsor terorisme". Diakses dari BBC: https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/05/150529_dunia_as_kuba
Benu, Y. (2017). Diplomasi Vatikan dalam Normalisasi Hubungan Amerika Serikat-Kuba. Journal of International and Local Studies, 1-58
Chao, J. (2000). The Evolution of Vatican Diplomacy. Taipei: Institute of Catholic History, Fujen Catholic University
Haller, V. (1998). "Albright, Pope Discuss Cuba, Eastern Europe". Diakses dari Washington Post: https://www.washingtonpost.com/wp-srv/politics/govt/admin/stories/albright030898.htm
Hooper, J. (2014) "Pope Francis and the Vatican played key roles in US-Cuba thaw, leaders reveal". Diakses dari The Guardian: https://www.theguardian.com/world/2014/dec/17/us-cuba-pope-franicis-key-roles
Johnston, D. (2003). Faith-Based Diplomacy: Trumping Realpolitik. New York: Oxford University Press
Kasapoglu, C. (2022). "Perang di Ukraina memperparah krisis kemanusiaan lain 'yang terlupakan' di Yaman". Diakses dari BBC: https://www.bbc.com/indonesia/dunia-60796699
ADVERTISEMENT
McDonald, J. W. (2014). Multi-track diplomacy: A Positive Approach to Peace. Arlington: Institute for Multi-Track Diplomacy
New York Times. (2022). "The Vatican, for the first time, calls Russia the aggressor in the war". Diakses dari New York Times: https://www.nytimes.com/2022/08/30/world/europe/vatican-pope-russia-invasion.html
Pianigiani, G. & Yardley, J. (2014). "Pope Francis Is Credited With a Crucial Role in U.S.-Cuba Agreement". Diakses dari New York Times: https://www.nytimes.com/2014/12/18/world/americas/breakthrough-on-cuba-highlights-popes-role-as-diplomatic-broker.html
Zengarini, L. (2022). "Pope: peace between Russia and Ukraine is possible, don’t forget the poor". Diakses dari Vatican News: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2022-11/pope-peace-between-russia-and-ukraine-is-possible.html