Mengenal Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer

Meilisna Maulina
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Konten dari Pengguna
23 Oktober 2022 21:55 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Meilisna Maulina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
foto ini hasil memotret sendiri, mengapa saya menggunakan foto ini karena di foto ini terdapat gambar pantai
zoom-in-whitePerbesar
foto ini hasil memotret sendiri, mengapa saya menggunakan foto ini karena di foto ini terdapat gambar pantai
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Gadis Pantai merupakan salah satu buku karya pramoedya, buku ini menceritakan seorang gadis yang lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Gadis pantai memiliki rupa yang cukup manis untuk memikat hati seorang priyayi. Keseharian gadis pantai yaitu menunggu perahu-perahu yang berangkat dari subuh hari sampai matahari mulai terbenam.
ADVERTISEMENT
Gadis pantai dinikahkan di usianya yang baru empat belas tahun oleh kedua orang tuanya dengan hati yang terpaksa. Laki-laki yang menikahi gadis pantai adalah seorang priyayi yang kaya raya berasal dari Jawa ia bekerja di (administrasi) Belanda, Bendoro panggilannya. Alasan orang tua gadis pantai menikahkan putrinya dengan bendoro hanya ingin anaknya tidak merasakan kemiskinan sama seperti dirinya. Orang tua gadis pantai tidak mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya, mereka hanya tahu anaknya dinikahi oleh seorang yang kaya raya. Akan tetapi, gadis pantai dinikahi hanya untuk dijadikan sebagai Mas Nganten (perempuan yang melayani kebutuhan seks saja) oleh suaminya.
Saat membaca novel ini perhatian saya tertuju pada sebuah kalimat yang diucapkan di dalam hati si mbok yang ada di halaman delapan puluh, "Seorang Bendoro dengan istri orang kebanyakan tidaklah dianggap sudah beristri, sekalipun telah beranak selusin". Arti dari kalimat tersebut adalah seseorang yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan pada zaman itu, mereka tidak mau menikah dengan wanita yang ada di bawah derajatnya. Tersenyum saya membaca kalimat itu, ternyata pada zaman dahulu sudah ada orang yang memandang sesuatu untuk dijadikan pasangan hidup, tidak beda jauh dengan zaman sekarang.
ADVERTISEMENT
Perkawinan gadis pantai dengan bendoro hanyalah satu latihan bagi bendoro untuk perkawinan sesungguhnya, yang pastinya dengan wanita yang setingkat. Mulanya, pernikahan itu memberi wibawa bagi gadis pantai di kampung halamannya dia dipandang telah dinaikkan derajatnya karena dinikahi bendoro yang kaya raya. Tetapi, itu tidak berlangsung lama. Gadis pantai akhirnya kembali lagi kepada kehidupan semulanya. Suaminya dengan begitu tega membuangnya setelah melahirkan seorang bayi perempuan.
KELEBIHAN
Menurut saya buku ini sangat bagus sekali, buku yang mengandung tentang sejarah yang kuat, dengan membaca buku ini kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan sosial pada zaman dahulu di Jawa dan kita juga bisa mengetahui bahwa adanya unsur feodalisme pada kala itu.
KEKURANGAN
Kekurangan buku ini hanya ada pada penggunaan bahasanya saja, di dalam buku ini masih terdapat banyak sekali Bahasa Jawa yang membuat saya lumayan sulit saat membacanya. Dengan seiring berjalannya waktu saya berharap buku ini ada versi Bahasa terbaru agar mempermudah seseorang untuk membacanya.
ADVERTISEMENT