Makan Enak atau Makan Cantik? Ketika Makanan Jadi Konten

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Meinida Nur Imanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Makanan sudah datang ke meja. Aromanya menggoda, tampilannya juga terlihat enak. Tapi tidak ada yang langsung makan.
Handphone lebih dulu dikeluarkan. Makanan dipindahkan sedikit, dicari sudut yang pas, kamera diarahkan dari atas, lalu diambil beberapa foto. Jika masih kurang bagus, coba lagi. Setelah dirasa cukup, barulah makanan benar-benar disantap.
Kita mungkin pernah melakukan hal yang sama. Bahkan, mungkin sudah tidak merasa itu sesuatu yang aneh. Sekarang, sebelum makanan masuk ke mulut, sering kali makanan lebih dulu masuk ke kamera.
Lalu, kenapa kita merasa perlu memotret makanan?
Jika dipikir-pikir, makanan pada dasarnya dibuat untuk dimakan. Yang penting rasanya enak, porsinya cukup, dan harganya sesuai. Tetapi di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan media sosial, ternyata ada satu hal lain yang ikut menentukan apakah sebuah makanan menarik atau tidak: tampilannya.
Makanan tidak hanya harus enak. Ia juga dituntut untuk terlihat cantik. Plating yang rapi, warna yang menarik, bentuk yang unik, kemasan yang estetik, sampai tempat makan yang Instagramable bisa menjadi alasan seseorang tertarik mencoba makanan tertentu. Tidak jarang kita pertama kali mengenal sebuah makanan bukan karena pernah mencicipinya, tetapi karena melihat foto atau videonya berseliweran di media sosial.
Tapi, apakah kebiasaan memotret makanan berarti kita lebih mementingkan konten daripada makanannya?
Belum tentu. Sejumlah kajian psikologi tentang fotografi makanan justru menunjukkan bahwa memotret makanan bisa membuat seseorang lebih memperhatikan apa yang sedang ia makan. Ketika sibuk mencari sudut yang bagus, kita sebenarnya juga sedang memperhatikan bentuk, warna, penyajian, dan detail makanan tersebut.
Dengan kata lain, memotret makanan tidak selalu membuat pengalaman makan menjadi kurang menyenangkan. Dalam kondisi tertentu, justru bisa membuat kita lebih sadar dan lebih menikmati makanan yang ada di depan mata.
Jadi, mungkin masalahnya bukan pada aktivitas memotretnya. Yang lebih menarik adalah: kenapa setelah difoto, makanan itu terasa perlu dibagikan?
Di media sosial, kita sebenarnya tidak pernah hanya membagikan sesuatu. Kita juga sedang menunjukkan sesuatu tentang diri kita. Begitu pula dengan makanan.
Ketika seseorang mengunggah secangkir kopi dari sebuah coffee shop, misalnya, yang terlihat memang hanya kopi. Tapi dari unggahan itu, orang lain bisa melihat lebih banyak hal: tempat yang didatangi, selera yang dimiliki, suasana yang disukai, bahkan gaya hidup yang ingin ditampilkan.
Makanan akhirnya bukan cuma soal rasa. Ia bisa menjadi bagian dari cara seseorang mengekspresikan dirinya. Penelitian tentang foodstagramming juga menunjukkan bahwa aktivitas membagikan foto makanan dapat berkaitan dengan self-expression, atau keinginan untuk mengekspresikan diri. Artinya, ketika kita mengunggah makanan, bisa jadi yang ingin kita bagikan bukan hanya “aku sedang makan”, tetapi juga “ini yang aku suka” atau “ini pengalaman yang sedang aku nikmati”.
Hal ini semakin terlihat dari cara kita memilih foto sebelum mengunggahnya. Dari sekian banyak foto yang diambil, biasanya hanya satu atau dua yang akhirnya masuk ke Instagram Story atau Feed. Foto yang dipilih tentu bukan sembarang foto. Kita memilih yang paling bagus, paling terang, paling estetik, atau paling sesuai dengan suasana yang ingin ditampilkan.
Pengalaman makan pun akhirnya tidak hanya dinikmati, tetapi juga dikurasi. Di sinilah media sosial membuat makanan memiliki fungsi lain. Makanan bisa menjadi bagian dari self-presentation, yaitu bagaimana seseorang ingin dirinya terlihat di hadapan orang lain.
Kita mungkin tidak sadar sedang melakukannya. Tetapi ketika memilih apa yang akan diunggah, sebenarnya kita sedang memilih bagian mana dari diri kita yang ingin diperlihatkan.
Pada akhirnya, kita bisa saja makan karena lapar, memilih makanan karena rasanya, lalu memotretnya karena tampilannya menarik.
Mungkin kita bisa mengingat satu hal sederhana: makanan memang boleh menjadi konten, tetapi jangan sampai kita lupa bahwa sebelum menjadi sesuatu yang menarik di layar, makanan tetaplah sesuatu yang seharusnya kita nikmati.
