Tari Tradisional Wonosobo: Bentuk Warisan Budaya Lewat Tari Topeng/Lengger

Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Jurnalistik, UPN Veteran Yogyakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Meirinda Dyah Anugrah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana malam pada sabtu (6/07/2025) di Ngasinan Kidul, Kalikajar, Wonosobo, Jawa Tengah terasa begitu dingin. Namun hawa dingin itu terasa sirna saat warga berkumpul di sebuah ruangan terbuka yang dipenuhi semangat dan nada. Irama gamelan mulai berdentang, memecah kesunyian malam, menandai dimulainya latihan tari yang lebih dari sekadar hiburan ini merupakan sebuah warisan budaya.
Alunan gendang, bonang, saron, demung, peking, kempul, kethuk, hingga gong, berpadu dengan lantunan lagu Jawa yang lantang. Membuat tubuh para penari pun bergerak mengikuti ritme, menciptakan pertunjukan yang tidak hanya indah, tetapi juga serat makna spiritual dan kultural.
Tari Topeng/Lengger ini bukan hanya sebagai seni hiburan semata, ia menyimpan nilai-nilai leluhur, termasuk ajaran keagamaan yang diturunkan dari masa ke masa. Dalam proses Islamisasi di Jawa, Wali Songo dikenal menggunakan pendekatan budaya untuk menyampaikan dakwah salah satunya melalui seni pertunjukan seperti ini.
“Wali Songo menyebarkan Islam lewat kebudayaan. Tari Topeng atau lengger diajarkan dengan nilai-nilai keagamaan, tapi tetap mempertahankan unsur budaya seperti gamelan dan nyanyian Jawa” ujar Budiarto, selaku ketua panitia kelompok Rukun Setia Budaya.
Dalam setiap pertunjukan, pesan moral selalu hadir. Melalui lagu Inayah menyampaikan tentang keyakinan dan keimanan kepada Tuhan. Lagu Sumuyar menceritakan lelaki buta yang baik hati. Sementara Gondang Keli mengisahkan perempuan lembut yang ditinggalkan orang tuanya. Lagu-lagu ini tak hanya dinyanyikan, tetapi dirasakan, menjelma dalam gerak dan ekspresi para penari.
Makna juga tertanam dalam alat musik. Gendang, misalnya, melambangkan semangat untuk cepat dalam bekerja dan beribadah. Gong menandakan keagungan Tuhan sebagai penutup sakral. Sementara pantun atau parikan menjadi ajakan menuju kebaikan, menghubungkan pesan spiritual dengan kehidupan sehari-hari.
Tari ini menampilkan tiga penari utama perempuan yang digambarkan sebagai ratu. Mereka akan berganti pasangan pria sepanjang cerita. Dari 60 anggota Sanggar Rukun Setia Budaya, hanya 20 penari inti yang secara rutin tampil, dengan empat di antaranya memainkan peran tokoh utama.
Sebelum pertunjukan dimulai, para pawang menjalani ritual penyucian diri dan doa. Aroma dupa menguar di udara, menciptakan atmosfer sakral. Pertunjukan pun dimulai. Gerakan pembuka selalu diawali dengan satu penari berdiri dan lainnya setengah duduk, saling berhadapan simbol kehormatan dan harmoni.
Salah satu momen paling memikat yakni saat penari mengalami kesurupan. Tatapan yang kosong menembus langit, dengan tubuh terguncang bersama kuda kepang, yang sebelum akhirnya roboh ke tanah. Bagi masyarakat, ini bukan sekadar teatrikal, melainkan simbol hadirnya leluhur dalam raga manusia.
Ketika penari terlihat meminum sesuatu, itu bukan minuman keras, melainkan air putih. Tindakan ini menggambarkan sujud dan istirahat sejenak sebagai penghormatan kepada orang tua dan Tuhan.
Di Ngasinan Kidul, Tari Topeng atau Lengger tak hanya dipentaskan sebagai hiburan, tetapi menjadi bagian dari berbagai hajatan seperti sunatan, pernikahan, dan terutama selamatan dusun setiap 1 Muharam sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan.
Rukun Setia Budaya, sanggar yang menjadi salah satu penonggak pelestari kesenian budaya ini, berdiri sejak dua tahun lalu. Sejak itu, mereka telah mementaskan lebih dari 10 pertunjukan, termasuk di Kecamatan Bojong, Kendal. Setiap pertunjukan dibagi ke dalam tiga bagian: pembukaan, inti, dan penutup. Pada siang hari, rangkaian lagu biasanya terdiri dari 11 sampai 12 lagu karena waktu yang terbatas. Namun saat malam, jumlah lagu bisa bertambah banyak, karena diyakini energi spiritual lebih kuat.
Pada Sabtu tanggal (12/07/2025), sanggar ini menggelar pentas bertajuk Budaya Tradisional Tari Topeng dan Kuda Kepang untuk memperingati 1 Muharam. Panggung malam itu menjadi ruang tempat seni dan keyakinan berpadu.
“Tari Lengger punya cerita di setiap awalannya, seperti sesembahan, bakti pada orang tua dengan menunduk bukan menyembah,” jelas Budiarto.
Dalam sejarahnya, Lengger berasal dari daerah Banyumas dan Kedu, dikenal sebagai Tayub. Di Wonosobo, Tayub lekat dengan simbol kuda jaran dan tradisi kesurupan. Kesurupan ini terbagi menjadi dua yakni ada yang bersifat negatif karena pengaruh minuman keras, dan ada yang disebut sejati yakni ketika roh leluhur pundensari masuk ke dalam tubuh manusia yang mencintai budaya.
Dulu, penari Lengger adalah laki-laki yang berperan sebagai perempuan. Di Ngasinan Kidul, Maryanto adalah penari pria pertama sebelum akhirnya digantikan oleh perempuan. Kini, tradisi ini berkembang dan disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat, tanpa menghilangkan filosofi dasarnya.
Budiarto menjelaskan bahwa dalam ajaran Sunan Kalijaga, setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki potensi kebaikan. Tari Lengger menjadi pengingat untuk menjaga hati dari hawa nafsu atau tutupe sang roso dan momen magrib menjadi waktu sakral untuk beribadah dan berhenti dari aktivitas duniawi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, komunitas seperti Rukun Setia Budaya adalah penjaga api tradisi. Mereka membuktikan bahwa kebudayaan bukan sekadar milik masa lalu, melainkan juga milik hari ini selama masih ada yang percaya, menari, dan menyanyi.
Tari Lengger menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia adalah ruang spiritual, tempat manusia berdialog dengan dirinya, leluhur dan Tuhannya. Dalam setiap hentakan gamelan dan gerak penari, tersembunyi pesan agar kita tak lupa dari mana kita berasal.
“Bagi saya, menarikan tari Lengger bukan hanya soal tampil di atas panggung, tapi soal menjaga apa yang telah diwariskan," kata Mirna, salah satu penonton pertunjukkan tari.
