Konten dari Pengguna

H&M Tidak Punya Pabrik, Tapi Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Upah Pekerja?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meisa Indi Sitorus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

H&M menyerahkan produksi kepada pemasok di berbagai negara, tetapi keputusan bisnisnya tetap dapat memengaruhi pekerja yang berada di balik produk tersebut.

Ilustrasi pekerja menjahit pakaian di sebuah fasilitas manufaktur garmen. Sumber gambar: EqualStock/Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pekerja menjahit pakaian di sebuah fasilitas manufaktur garmen. Sumber gambar: EqualStock/Unsplash.

H&M Bukan Pemilik Pabrik

Ketika seseorang membeli pakaian dengan label H&M, belum tentu ada pabrik milik H&M yang membuat pakaian tersebut. Berbeda dengan gambaran perusahaan besar yang memiliki fasilitas produksi sendiri, H&M Group justru bekerja dengan pemasok dan produsen independen. Per Januari 2026, H&M mencatat bahwa mereka bekerja dengan lebih dari 554 pemasok di lebih dari 969 pabrik Tier 1 di Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Pabrik-pabrik tersebut bukan milik H&M, melainkan dimiliki atau dikontrak oleh para pemasoknya.

Model seperti ini membuat produksi H&M tersebar dalam jaringan yang cukup panjang. Pemasok Tier 1 adalah perusahaan yang berhubungan langsung dengan H&M untuk produksi atau pemrosesan produk, sedangkan tahap lain dapat melibatkan pemasok Tier 2 hingga Tier 6, mulai dari kain sampai bahan mentah. H&M sendiri mengungkapkan daftar pemasoknya dan menyebut bahwa hubungan mereka dengan pemasok rata-rata telah berlangsung selama sekitar sembilan tahun.

Ada Lebih dari Satu Juta Pekerja di Baliknya

Di balik jaringan tersebut terdapat sekitar 1,1 juta pekerja yang bekerja di pabrik pemasok Tier 1 dan Tier 2 yang terhubung dengan H&M. Sekitar 59 persen di antaranya adalah perempuan. H&M juga melaporkan bahwa 36 persen pabrik Tier 1 memiliki perwakilan serikat pekerja.

Namun, pekerja-pekerja tersebut tidak berada dalam hubungan kerja langsung dengan H&M. H&M menjelaskan bahwa karena perusahaan tidak memiliki pabrik, mereka juga tidak membayar upah pekerja pabrik secara langsung. Upah pekerja dibayarkan oleh perusahaan pemasok tempat mereka bekerja. Penjelasan tersebut sebenarnya sudah disampaikan H&M sejak lama dan masih sejalan dengan model rantai pasok yang dijalankan perusahaan saat ini.

Di sinilah persoalannya mulai menarik. H&M memang bukan pihak yang secara langsung menggaji para pekerja tersebut. Tetapi, apakah itu berarti H&M tidak punya pengaruh terhadap upah yang mereka terima?

Pengaruh H&M Tidak Hilang

H&M sendiri mengakui bahwa praktik pembeliannya dapat memengaruhi bagaimana pemasok menjalankan pabrik dan membayar pekerjanya. Dalam kebijakan pembelian mereka, setiap pesanan memasukkan rincian biaya, termasuk komponen khusus untuk biaya tenaga kerja. H&M juga menggunakan data upah dari pemasok untuk memantau persoalan upah dan menjalankan wage management systems pada pabrik-pabrik yang dinilai memiliki risiko terkait upah.

Hal ini menunjukkan bahwa hubungan H&M dengan pekerja tidak berhenti pada hubungan “perusahaan pembeli” dan “pemasok”. Cara H&M merencanakan pesanan, menempatkan pesanan, dan membayar pesanan dapat memengaruhi ruang pemasok dalam mengelola produksinya. Temuan International Labour Organization juga menunjukkan bahwa praktik pembelian perusahaan besar dalam rantai pasok dapat membantu atau justru menghambat kemampuan pemasok untuk meningkatkan upah dan kondisi kerja.

Artinya, tidak memiliki pabrik bukan berarti tidak memiliki pengaruh. H&M memang tidak mengatur pembayaran setiap pekerja secara langsung, tetapi perusahaan tetap merupakan salah satu pihak penting yang menentukan hubungan bisnis di dalam rantai produksinya.

Jadi, Seberapa Besar Pengaruhnya?

Menurut saya, justru di sinilah batas tanggung jawab perusahaan multinasional menjadi menarik. H&M tidak bisa disamakan dengan perusahaan yang secara langsung mempekerjakan seluruh pekerja pabrik karena hubungan kerjanya memang melalui pemasok. Namun, mengatakan bahwa H&M sama sekali tidak punya kaitan dengan persoalan upah juga terlalu sederhana. Perusahaan memiliki posisi sebagai pembeli besar dan bahkan mengakui bahwa praktik pembeliannya dapat memengaruhi cara pemasok membayar pekerja.

Bagi saya, pengaruh tidak selalu berarti kontrol penuh. H&M tidak menentukan sendiri seluruh upah pekerja di setiap negara, tetapi keputusan perusahaan tetap memiliki dampak terhadap lingkungan bisnis tempat upah tersebut ditentukan. Karena itu, ketika kita melihat perusahaan multinasional dalam rantai produksi global, tanggung jawabnya tidak cukup dilihat dari pertanyaan sederhana seperti “apakah pekerja itu karyawan mereka atau bukan?”. Pertanyaan yang lebih menarik adalah seberapa besar pengaruh perusahaan terhadap orang-orang yang membuat bisnisnya tetap berjalan.