Konten dari Pengguna

Oman Punya Matahari dan Angin, Tapi Mengapa Air Justru Jadi Masalah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meisa Indi Sitorus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oman sedang serius mengembangkan green hydrogen sebagai energi masa depan. Masalahnya, proses produksinya tetap membutuhkan air di tengah kondisi negara yang memang kekurangan air.

Ilustrasi energi surya di kawasan gurun dalam pengembangan energi terbarukan Oman. Sumber gambar: Priamo Mendez — Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi energi surya di kawasan gurun dalam pengembangan energi terbarukan Oman. Sumber gambar: Priamo Mendez — Unsplash

Oman Punya Alasan untuk Memilih Green Hydrogen

Oman punya beberapa modal yang membuat green hydrogen terlihat seperti pilihan yang masuk akal. Negara ini memiliki potensi matahari dan angin yang besar, lahan yang luas, serta posisi geografis yang cukup strategis untuk menghubungkan pasar Eropa dan Asia. Karena itu, pemerintah Oman mulai serius membangun industri green hydrogen, bukan hanya sebagai proyek energi terbarukan, tetapi juga sebagai bagian dari rencana diversifikasi ekonomi dan pengembangan ekspor energi. Pemerintah bahkan membentuk Hydrogen Oman atau Hydrom pada 2022 untuk mengatur pengembangan sektor tersebut.

Ambisinya juga tidak kecil. Dalam strategi green hydrogen-nya, Oman menargetkan produksi sekitar 1 juta ton hidrogen per tahun pada 2030. Data Hydrom menunjukkan bahwa setelah sejumlah proyek disepakati, kapasitas produksi yang ditargetkan mencapai sekitar 1,38 juta ton per tahun, dengan kebutuhan investasi sekitar US$49 miliar dan kapasitas energi terbarukan sekitar 34,8 GW. Jadi, green hydrogen bukan sekadar percobaan teknologi baru bagi Oman. Negara ini memang sedang menyiapkan industri besar yang diharapkan bisa memainkan peran dalam ekonomi dan perdagangan energi di masa depan.

Sampai di sini, semuanya terdengar cukup masuk akal. Oman memiliki matahari dan angin, dunia sedang mencari sumber energi dengan emisi lebih rendah, dan negara tersebut ingin mencari sumber pendapatan baru selain minyak dan gas. Tetapi ada satu bagian dari cerita ini yang agak berbeda. Untuk menghasilkan green hydrogen, Oman tetap membutuhkan air.

Green Hydrogen Tetap Membutuhkan Air

Green hydrogen memang menggunakan listrik dari energi terbarukan, tetapi listrik tersebut tidak langsung berubah menjadi hidrogen. Hidrogen diproduksi melalui proses elektrolisis, yaitu memisahkan hidrogen dari air dengan menggunakan listrik. IEA menjelaskan bahwa proyek-proyek green hydrogen Oman akan menggunakan listrik terbarukan untuk menjalankan elektroliser yang mengambil hidrogen dari air laut yang sudah didesalinasi. Jadi, matahari dan angin memang menjadi sumber listriknya, tetapi air tetap menjadi bagian dari proses produksi.

Penggunaan air laut sebenarnya bukan hal yang aneh bagi Oman. Negara ini sudah lama mengandalkan desalinisasi karena sumber air tawarnya terbatas. Masalahnya, desalinisasi membutuhkan energi. IEA mencatat bahwa pasokan air dari desalinisasi di Oman meningkat dari sekitar 146 juta meter kubik pada 2010 menjadi 315 juta meter kubik pada 2018, sementara air hasil desalinisasi dan air payau menyumbang lebih dari 80 persen pasokan air minum negara tersebut. Desalinisasi memang membantu Oman mendapatkan air, tetapi prosesnya sendiri membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Masalahnya, Oman Memang Kekurangan Air

Di sinilah rencana green hydrogen Oman menjadi lebih menarik. IEA menyebut Oman sebagai salah satu negara yang paling mengalami tekanan terhadap ketersediaan air di dunia. Perubahan curah hujan dan meningkatnya suhu juga berpotensi membuat sumber air tawar semakin terbatas, sehingga kebutuhan terhadap desalinisasi dapat terus meningkat.

Artinya, ada hubungan yang agak unik dalam rencana energi baru Oman. Negara ini membutuhkan air untuk menghasilkan green hydrogen, sementara untuk mendapatkan air dalam jumlah besar, Oman juga membutuhkan energi untuk melakukan desalinisasi. Energi dibutuhkan untuk menghasilkan air, sementara air dibutuhkan untuk menghasilkan energi baru. Hubungan seperti ini memang tidak membuat green hydrogen menjadi otomatis buruk, tetapi menunjukkan bahwa sebuah teknologi yang disebut “hijau” tetap tidak bisa dilepaskan dari sumber daya lain yang digunakan di belakangnya.

Lalu, Apa yang Menarik?

Menurut saya, justru bagian ini yang sering luput ketika membicarakan transisi energi. Kita biasanya bertanya apakah sebuah energi berasal dari minyak, gas, matahari, atau angin. Ketika jawabannya adalah matahari dan angin, kita cenderung menganggap persoalannya sudah selesai karena sumber energinya lebih bersih. Padahal, proses menghasilkan energi tetap membutuhkan sumber daya lain dan menimbulkan kebutuhan baru yang juga harus dikelola.

Dalam kasus Oman, persoalannya bukan apakah green hydrogen harus dihentikan. Negara ini memang mempunyai potensi energi terbarukan yang besar dan green hydrogen dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus membangun sumber pendapatan baru. Yang menarik adalah bagaimana Oman harus mengejar dua kebutuhan pada saat yang sama: membangun industri energi baru dan menjaga sumber daya air yang sejak awal memang terbatas.

Bagi saya sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, kasus Oman menunjukkan bahwa pembicaraan tentang energi tidak selalu berhenti pada soal sumber listrik atau siapa yang menjual energi kepada siapa. Di belakangnya ada persoalan sumber daya, investasi, perdagangan, dan kepentingan negara. Oman ingin mengambil tempat dalam pasar energi masa depan, tetapi untuk mencapai posisi tersebut, kondisi sumber daya di dalam negerinya sendiri tetap harus diperhitungkan.

Oman memang punya matahari, angin, lahan, dan akses laut yang membuatnya menarik untuk mengembangkan green hydrogen. Tetapi ketika semua keunggulan itu ingin diubah menjadi energi yang bisa digunakan dan dijual kepada dunia, ada satu sumber daya yang tidak bisa dianggap sebagai persoalan kecil adalah air.

Mungkin itu juga yang perlu diingat ketika kita membicarakan energi hijau. Pergantian dari energi fosil ke energi terbarukan memang penting, tetapi prosesnya tidak selalu sesederhana mengganti satu sumber energi dengan sumber energi yang lain. Energi masa depan tetap membutuhkan sumber daya untuk membuatnya. Dalam kasus Oman, salah satunya adalah air.