Tripusat Pendidikan Sebagai Sarana Pengembangan Karakter Anak Bangsa

Universitas Negeri Yogyakarta
Konten dari Pengguna
13 Januari 2022 15:12
·
waktu baca 8 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Meita Dwi Cahyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tripusat Pendidikan Sebagai Sarana Pengembangan Karakter Anak Bangsa (78931)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Pixabay
Pendidikan merupakan suatu hal penting bagi kemajuan anak bangsa. Salah satu tujuan pendidikan yaitu untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya anak-anak generasi penerus bangsa dapat secara aktif mengembangkan potensi dalam dirinya untuk memiliki karakter religius, kecerdasan akhlak mulia, inovasi dalam melakukan sesuatu, dan keterampilan untuk dapat berkarya, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.
ADVERTISEMENT
Proses pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga sebab menjadi lingkungan yang pertama kali dilihat dan dicontoh oleh anak. Setelah tumbuh dan berkembang, anak akan mengenali lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Ketiga lingkungan tersebut akan sangat berpengaruh pada proses pendidikan anak yang dikenal dengan istilah Tripusat pendidikan. Tripusat pendidikan adalah konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara yang dikenal dengan sebutan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan merupakan pendiri Taman Siswa.
Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 13 ayat 1 menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, pendidikan non-formal, dan pendidikan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Sistem pendidikan tidak dapat mencapai tujuan dengan baik apabila hanya dilakukan melalui satu lingkungan saja.
ADVERTISEMENT
Sebagai implementasi dari sistem pendidikan nasional yaitu lingkungan keluarga sebagai pusat pendidikan terpenting berfungsi memberikan pendidikan agama, budi pekerti, dan perilaku sosial yang dicontohkan untuk diterapkan oleh anak pada saat bersosialisasi di lingkungan eksternal.
Lingkungan sekolah sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan berfungsi melatih keterampilan anak dan memperluas pengetahuan, serta wawasannya guna menunjang kehidupan di masa depan. Lingkungan masyarakat sebagai tempat pembentukan kepribadian anak.
Seiring berjalannya waktu, zaman terus berkembang dan semakin maju mengikuti trend yang ada pada saat ini. Kemajuan ini menyebabkan penerapan pendidikan mengalami berbagai macam rintangan dan kendala. Hal tersebut terlihat dari karakter yang tertanam pada diri masing-masing anak. Anak-anak bangsa mulai melupakan sopan santun dan ramah-tamah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Masih terdapat banyak anak yang bersikap tidak sopan, bahkan berani melawan orang tua sendiri di rumah. Anak-anak seperti tidak pernah diajarkan kebiasaan baik hingga perkataan dan perbuatannya bisa melukai hati orang yang pertama kali mengasuhnya.
ADVERTISEMENT
Para siswa di sekolah lebih mengutamakan nilai yang bagus daripada kejujuran sebagai aspek utama yang ditanamkan dalam hati nurani saat melaksanakan ujian. Siswa-siswi tidak segan-segan menghalalkan segala cara untuk menyontek demi angka yang tertulis di rapor tanpa memedulikan bahwa hal tersebut merupakan perbuatan dan karakter yang tercela.
Muda-mudi di kampung sudah tidak pernah saling menyapa sebab sibuk dengan kepentingan pribadinya masing-masing. Tidak ada kegiatan yang berlangsung layaknya di desa-desa seperti zaman dahulu yang dapat mempererat kekeluargaan, kerja sama, dan mengembangkan jiwa kreatif serta inovatif. Mungkin hanya akan ada acara yang memang wajib untuk dilaksanakan sehingga memaksa muda-mudi untuk berkumpul menghadirinya. Pada akhirnya, hal tersebut menyebabkan penurunan kualitas moral anak bangsa.
ADVERTISEMENT
Penurunan moral dan karakter terjadi karena perkembangan zaman yang semakin maju tanpa adanya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, baik dari segi sumber daya manusia maupun alat penunjang untuk melaksanakan pendidikan. Arus globalisasi masuk ke Indonesia tanpa disertai dengan adanya sikap selektif.
Nilai moral yang ditanamkan kepada anak-anak tergerus sehingga mereka lebih menyukai dan memilih kebudayaan dan kebiasaan sehari-hari dari luar yang tidak sesuai dengan adat-istiadat dan ciri khas bangsa Indonesia. Informasi tersebut mereka dapatkan dari sosial media, aplikasi youtube, maupun tayangan di televisi. Anak-anak sudah terpengaruh oleh kebudayaan dari negara lain dan mendapatkan dampak negatif dari adanya globalisasi.
Sebagai wadah dan acuan untuk memberikan pengontrolan pada anak-anak agar pendidikan moral terus tertanam dalam diri guna menjauhkan dampak negatif dari adanya globalisasi, pemerintah menggalakkan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional yang saat ini telah terintegrasi di dalam kurikulum 2013.
ADVERTISEMENT
Orang tua wajib untuk turut serta dalam menanamkan nilai-nilai karakter secara konsisten dan mengontrol anak-anaknya supaya tidak terjerumus pada hal-hal buruk, seperti kebiasaan tercela dan perilaku menyimpang. Pengembangan karakter juga harus sejalan di lingkungan masyarakat. Proses dan kebiasaan bergaulnya anak di masyarakat juga akan sangat berpengaruh pada sikap dan perilaku yang terbentuk pada anak.
Pendidikan karakter mempunyai peranan yang penting dalam membekali anak supaya tumbuh dan berkembang menjadi individu yang berkepribadian baik dan berkarakter moral yang berkualitas. Pendidikan karakter akan selalu memiliki keterikatan dalam peran keluarga, peran sekolah, dan peran masyarakat sebagai sarana penunjang untuk mencapai tujuan tripusat pendidikan.
Visi TRipusatpendidikan dapat dikatakan berhasil ketika peran dari ketiga lingkungan tersebut dapat mengantarkan anak-anak bangsa menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab atas segala perilaku, perkataan, dan perbuatan yang dilakukannya.
ADVERTISEMENT
Kerja sama yang baik antara peran ketiga lingkungan diharapkan mampu menunjang pendidikan karakter pada anak yang saat ini menjadi rintangan dan kendala dalam pelaksanaan tripusat pendidikan di Indonesia.
Keluarga merupakan kelompok sosial dan pendidikan pertama yang akan mengajarkan sikap dan kepribadian pada anak. Keluarga akan sangat mempengaruhi perilaku anak. Lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama bagi anak akan menjadi sosok yang dicontoh dalam berperilaku dan berbuat. Salah satu fungsi keluarga yaitu lingkungan utama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, pengetahuan, perilaku sehari-hari, dan keterampilan sebagai bekal bagi anak dalam memulai kehidupannya di lingkungan eksternal nanti.
Setiap anak yang dilahirkan pasti akan diajarkan oleh kedua orang tuanya sehingga lingkungan keluarga merupakan aspek penting dalam pengembangan kepribadian, daya nalar keterampilan, dan karakter anak. Jika seorang anak sudah dibiasakan melakukan hal-hal dengan cara yang baik dan sopan, perilaku tersebut akan terus menerus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan.
ADVERTISEMENT
Setelah menjadi kebiasaan sehari-hari, hal tersebut tertanam pada jiwa anak menjadi sebuah karakter yang mencerminkan dirinya. Begitupun sebaliknya, jika anak dibiasakan berbuat buruk, pasti nantinya akan terbiasa untuk melakukan hal-hal yang buruk pula.
Proses mencontoh orang tua merupakan suatu hal yang wajar dilakukan oleh anak, terutama anak usia di bawah umur. Proses pendidikan di lingkungan keluarga dapat dilaksanakan orang tua dengan pembentukan pribadi yang bermoral sehingga baik untuk ditiru oleh anaknya.
Namun, masih banyak orang tua yang belum memahami hal ini sehingga menyebabkan anak tidak mampu menyerap ilmu yang seharusnya menjadi pendidikan yang diajarkan langsung oleh orang tua nya sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan pada lingkungan yang lebih luas. Oleh karena itu, orang tua sebagai sosok yang paling bertanggung jawab terhadap kepribadian dan karakter yang terbentuk pada anak harus dapat memposisikan dirinya sebagai contoh dalam berperilaku dan berbuat baik pada anaknya.
ADVERTISEMENT
Sekolah adalah lembaga yang dirancang sebagai tempat untuk mengajarkan siswa mengenai ilmu, pengetahuan, dan keterampilan di bawah pengendali guru yang disebut sebagai orang tua siswa di sekolah . Lingkungan sekolah merupakan pendidikan kedua setelah lingkungan keluarga. Salah satu fungsi sekolah yaitu membantu keluarga untuk melaksanakan pendidikan dan memberikan pengajaran ilmu-ilmu kepada anak supaya memiliki kepribadian yang baik, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan tumbuh serta berkembang menjadi anak yang berkarakter.
Anak diharapkan akan tumbuh dengan budi pekerti yang luhur sesuai dengan tujuan tripusat pendidikan. Pendidikan sekolah juga merupakan wadah penanaman nilai pendidikan anak yang berhubungan dengan sikap guna mempersiapkan dirinya menjadi bagian dari kelompok sosial masyarakat dan menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain.
ADVERTISEMENT
Masyarakat merupakan tempat bagi anak yang digunakan sebagai wadah untuk mengembangkan potensi dalam dirinya guna menunjang proses yang akan dilalui oleh anak dalam hal bersosialisasi pada lingkungan yang lebih luas setelah keluarga dan sekolah. Lingkungan masyarakat merupakan tempat yang tepat bagi anak untuk mengembangkan keterampilan yang dimilikinya sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Anak-anak sudah seharusnya dibebaskan untuk mengikuti kegiatan yang berlangsung di masyarakat dibawah pengawasan orang tua. Kegiatan yang dimaksud yaitu kegiatan keagamaan, kegiatan bakti sosial, kegiatan muda-mudi, kegiatan kerja bakti, dan lain sebagainya.
Dengan keikutsertaan anak dalam kegiatan pada lingkungan masyarakat, maka diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan menghindarkan anak dari kegiatan-kegiatan yang dapat menjerumuskan dirinya pada hal-hal buruk. Sebagian waktu luang dapat dimanfaatkan dengan baik dan menunjang pendidikan karakter yang ditanamkan di lingkungan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Tripusat pendidikan yang meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat mempunyai dampak yang sangat penting untuk memantau atau mengontrol perkembangan anak agar sesuai dengan tujuannya dengan menanamkan karakter baik pada anak tersebut. Setiap lingkungan berkontribusi dalam pembentukan karakter anak.
Keselerasan antara ilmu yang diajarkan harus ada dalam setiap lingkungan agar menciptakan kerja sama yang erat dan harmonis, baik dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Harapan dari pendidikan karakter tersebut yaitu untuk menciptakan pendidikan anak secara tepat dan akurat sehingga dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang terdidik, berkualitas, dan menjadi insan yang bertakwa pada Tuhan.
Pendidikan karakter harus mampu membangun anak-anak bangsa dengan kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan, serta mengontrol dirinya sendiri secara maksimal dan penuh tanggung jawab. Kesadaran untuk mewujudkan hal tersebut akan membentuk karakter anak menjadi pribadi yang mandiri sehingga dapat hidup bersama secara lebih berguna dalam kelompok pada kehidupan sosial, baik di lingkungan tempat ia diajarkan maupun lingkungan eksternal.
ADVERTISEMENT
Efektivitas pendidikan karakter dapat dimaksimalkan dengan kerja sama yang baik pada tripusat pendidikan. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus memiliki konsep yang sejalan dengan tujuan tripusat pendidikan. Dengan berjalannya konsep tripusat pendidikan, anak diharapkan dapat menanamkan sikap yang telah diajarkan dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari di mana saja ia berpijak.
Pada dasarnya, tripusat pendidikan merupakan konsep pendidikan sebagai wadah bagi anak untuk mewujudkan pendidikan karakter dan menghindarkan anak dari segala perbuatan buruk dan tercela. Anak yang tumbuh di lingkungan yang baik akan membentuk kepribadian yang baik pula pada anak. Bahkan, anak yang berperilaku buruk sekalipun dapat melebur menjadi anak berkarakter seiring dengan berjalannya waktu apabila ia berada pada lingkungan baik yang dapat mendorongnya untuk berubah dan mengikuti kebiasaan yang ada di lingkungan sekitarnya tersebut.
ADVERTISEMENT
Dengan adanya bukti nyata dalam kehidupan sehari-hari, dapat ditarik kesimpulan bahwa tripusat pendidikan sangat penting dan mempengaruhi karakter pada anak. Ketiga lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat adalah wadah pendidikan yang saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan dalam kaitannya membentuk kepribadian dan karakter baik pada anak.
Oleh sebab itu, ketiga lingkungan tersebut merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai bagian dari kehidupan pendidikan untuk anak.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020