Konten dari Pengguna

Prestasi yang Seharusnya Dibanggakan, Justru Mengundang Perilaku Perundungan

Mela Eka Putri

Mela Eka Putri

Saya seorang mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Pamulang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Saya percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang terus belajar.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mela Eka Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://gemini.google.com/share/cfa83e108a63
zoom-in-whitePerbesar
https://gemini.google.com/share/cfa83e108a63

Dulu, saat masih duduk di sekolah dasar, saya bukan termasuk anak yang sering mendapatkan peringkat kelas. Setiap kenaikan kelas, nama saya tidak pernah masuk dalam daftar ranking. Saya menjalani sekolah seperti biasa dan merasa tidak berbeda dengan teman-teman lainnya.

Namun, semuanya berubah ketika hasil Ujian Nasional diumumkan. Saat itu, nilai akhir atau NEM yang saya peroleh justru menjadi yang tertinggi. Awalnya saya merasa senang dan tidak menyangka bisa mendapatkan hasil tersebut. Saya berpikir pencapaian itu akan menjadi sesuatu yang membahagiakan. Nyatanya, perasaan yang saya alami justru sebaliknya.

Setelah nilai diumumkan, sikap beberapa teman mulai berubah. Saya mulai dijauhi, jarang diajak berbicara, dan tidak lagi ditemani seperti sebelumnya. Dari situ saya menyadari bahwa mendapatkan nilai tinggi tidak selalu berarti mendapatkan dukungan. Prestasi yang seharusnya membanggakan justru membuat saya merasa tidak nyaman.

Perilaku tersebut semakin terasa setelah kelulusan, saat diadakan acara jalan-jalan bersama. Di dalam bus, saya duduk sendirian tanpa ditemani siapa pun, sementara teman-teman lain duduk bersama. Saat itu, saya merasa sedih, bingung, dan benar-benar merasa sendirian di tengah keramaian, hingga akhirnya menangis selama perjalanan.

Anehnya, ketika sudah sampai di tempat tujuan, beberapa teman kembali mendekati saya seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Hingga kini, saya tidak pernah benar-benar memahami alasan di balik perubahan sikap mereka. Meski begitu, kejadian tersebut meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi saya.

Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa prestasi akademik tidak selalu membawa dampak yang menyenangkan. Lingkungan sosial belum tentu siap menghargai pencapaian seseorang dengan sikap yang dewasa. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa di lingkungan sekolah, empati dan saling menghargai memiliki peran yang sama pentingnya dengan prestasi itu sendiri