Konten dari Pengguna

Tapak Tilas Jejak Raffles

Melani Kurnia Riswati Riswati

Melani Kurnia Riswati Riswati

Pranata Humas Ahli Muda-BRIN

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Melani Kurnia Riswati Riswati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Udara sejuk mulai menyergap tatkala menapaki jalanan setapak pada sebuah bukit. Pagi itu, tujuan kami menyambangi sebuah lokasi yang diduga menjadi habitat salah satu tanaman langka Indonesia. Hujan semalam menyisakan kilap pada dedaunan nan hijau dan jalanan yang membuat kami harus ekstra waspada.

Kehadiran kami pun disambut riuh nya berbagai primata yang saling bersahutan. Apalagi kicauan burung seperti terus mengiringi langkah kami menembus belantara. Sungguh sebuah kenikmatan yang mahal untuk bisa dirasakan bagi kehidupan perkotaan. Walau udara terasa sejuk, nyatanya kuyup juga. Naik turun perbukitan, berjalan pada pinggiran bukit dengan jurang yang setiap saat siap menyambut kala kami lengah, menjadi hal yang cukup membuat jantung berdebar. Tentu saja, hutan yang masih tergabung dalam kawasan Bukit Barisan Selatan ini, boleh dibilang jarang terjamah dan memiliki medan yang cukup sulit untuk dilewati. Namun hal tersebut, terbayar dengan pemandangan indah dan suasana yang tercipta.

Seketika pikiran saat itu langsung melesat jauh ke belakang. Bagaimanakah situasi ketika para penempuh hutan saat pertama kali menginjakkan kakinya pada rimba raya nan indah ini. Membuka jalan dan tentunya harus siap menghadapi kemungkinan berjumpa dengan satwa liar yang ganas. Dan Raffles menjadi salah satu penjelajah yang banyak dikisahkan dalam berbagai publikasi ilmiah ataupun populer. Ekspedisi Sir Thomas Stamford Raffles kala itu sangat berharga bagi dunia botani dengan temuan ilmiahnya. Perjalanannya ke bumi Rafflesia bersama seorang ahli tumbuh-tumbuhan Dr. Joseph Arnold menemukan bunga sebesar roda pedati. Tampilan bunga berwarna merah mencolok dengan bau busuk yang menyengat.

Bunga Rafflesia arnoldii yang mekar di Hutan Bengkulu. Foto Dok. Sofian (Komunitas Peduli Puspa Langka)

Awal Penemuan

Mereka takjub dengan temuannya pada rimba Sumatra. Dan lebih terheran-heran lagi manakala menemukan fakta bahwa bunga tersebut ternyata tak memiliki akar, batang dan daun, kok bisa?

Bunga tersebut kemudian diawetkan dan dikirim ke Inggris. Karena Dr. Arnold sakit malaria dan akhirnya meninggal, penyelidikan terhadap bunga tersebut lalu dilanjutkan oleh ahli botani lain bernama Robert Brown. Pada tahun 1820, Brown mengumumkan hasil pengamatannya sebagai penemuan jenis tanaman baru. Robert Brown menamakannya Rafflesia arnoldii R. Br. Nama tersebut sebagai penghormatan terhadap Raffles dan Dr. Arnold. Sedangkan R. Br. merupakan singkatan dari Robert Brown.

Sebenarnya temuan Raffles akan bunga unik tersebut bukanlah kali pertama. Adalah Louis Auguste Deschamps seorang dokter dan penjelajah alam Prancis yang berhasil menemukan pertama kali bunga Rafflesia pada kawasan hutan Jawa Barat yang kemudian dikenal sebagai Rafflesia patma. Ukurannya pun lebih kecil bila dibandingkan dengan Rafflesia arnoldii.

Rimbun nya hutan cukup menyulitkan pencarian. Tak patah semangat, kami pun terus menyibak belantara walau sesekali harus terperosok akibat medan yang licin. Belum lagi pasukan pacet yang siap menyusup dalam langkah kaki. Tak ayal, waktu istirahat jadi media berburu binatang penghisap darah tersebut. Sebelum kenyang mereka tak akan rela melepas gigitan. Tinggalan nya menyisakan lubang kecil pada kulit yang telah diisap nya dengan rasa gatal yang lumayan membuat kurang nyaman.

Rasa lelah pun pupus, manakala bunga yang dicari akhirnya terlihat menyembul dalam balutan hijaunya dedaunan. Warnanya yang merah mencolok pantas lah bila menjadi primadona hutan. Kami pun harus berhati-hati saat mendekat, kuatir menginjak akar inang yang dipenuhi calon bunga atau knop. Dan ternyata kehidupan Rafflesia yang unik juga rentan terhadap gangguan. Tak jarang calon bunga yang siap merekah akhirnya akan terlihat gosong lalu mati. Peneliti harus ekstra hati-hati dalam melakukan pengamatan lapangan.

Terlintas, upaya untuk membungakan selain pada habitat aslinya. Agar masyarakat umum yang ingin menikmati keindahannya atau sekedar menikmati sensasi baunya dapat dengan mudah berkunjung tanpa harus mendatangi habitat aslinya.

Membangun Konservatori Rafflesia di Kebun Raya Bogor

Berbagai upaya dilakukan demi memboyong bunga langka tersebut. Tantangan terbesar adalah menciptakan habitat baru yang tentunya harus sesuai bagi kebutuhan hidupnya. Tak ayal, upaya menjiplak kondisi aslinya diupayakan. Berat memang prosesnya. Butuh ketekunan, kesabaran dan terus ikhtiar. Kegagalan demi kegagalan tak menyurutkan langkah. Malah tambah melecut semangat.

Sebagai tanaman parasit sejati, Rafflesia hidup menempel pada akar atau batang tumbuhan inangnya. Inang tersebut memberi nutrisi dan tempat berbiak. Bunga jantan dan bunga betina tidak terdapat dalam satu bunga. Sehingga dibutuhkan serangga untuk menyerbuki bunga betina. Bau menyengat menjadi strategi dalam mengundang serangga untuk proses penyerbukan. Kajian literatur menyebutkan dari kuncup hingga mekar dibutuhkan waktu lebih dari setahun. Sayangnya, saat merekah bunga hanya dapat bertahan 5 hari saja. Selanjutnya bunga akan membusuk. Bila pada bunga betina terjadi pembuahan, bakal buah akan terbentuk. Saat matang, ratusan biji mirip pasir harus siap bertarung melanjutkan kehidupan.

Lima tahun berlalu. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti hidup segan mati tak mau. Tiap kali muncul knop berakhir dengan legam. Apa yang salah? Namun harapan tak hampa, manakala satu knop yang bandel menunjukkan tanda. Berbagai gangguan lingkungan bisa dilaluinya dengan mulus. Hingga pada medio Juni 2010 satu knop akhirnya mekar. Hampir dua minggu begadang bertambat pada bunga yang diduga akan mekar. Letih dan rasa kantuk yang teramat sangat pun hilang seketika. Walaupun kali pertama ini, baru jenis dari Jawa Barat yang berhasil mekar, suka cita menikmati keindahan bunga yang mekar sempurna. Semilir bau bangkai pun nikmat rasanya.

Tugas tentu saja tidak selesai sampai di situ. Selain kegiatan penelitian, upaya memperkenalkan kepada masyarakat perlu dilakukan. Berita mekarnya bunga Rafflesia tentu saja menjadi hits dan menyedot perhatian publik. Tak ayal, ribuan wisatawan bertandang dengan rasa penasaran nya masing-masing. Ada pengunjung yang hanya sekedar ingin membuktikan baunya. Atau penasaran dengan ukurannya, apakah sama seperti gambar yang terlihat di buku pelajaran sekolah? Ekspresipun beragam setelah melihat tampilan bunga. Lho kok bunga nya kecil? Tentu saja, karena yang mereka lihat yakni bunga Rafflesia patma. Salah satu jenis Rafflesia yang berasal dari Jawa Barat, bukan dari Bengkulu.

Bunga Rafflesia patma saat mulai mekar di Kebun Raya. Foto : Dok. Pribadi

Kesempatan berharga bagi Kebun Raya selaku salah satu lembaga riset untuk mengenalkan aset nusantara yang kaya. Pengunjung banyak yang termangu manakala menyaksikan salah satu poster ragam jenis Rafflesia yang sengaja di pasang di salah satu sudut kebun. Dan Sofi Mursidawati, M.Sc salah satu peneliti Rafflesia akan siap menyambut ramah semburan pertanyaan yang dilontarkan pengunjung. Beragam kegiatanpun seperti promosi dan pendidikan lingkungan digelar. Siswa sekolah dan mahasiswa menjadi target utama. Merekapun sangat antuasias menyambut momen langka tersebut.

Salah satu goresan kekaguman pengunjung dari mancanegara. Foto : Dok. Pribadi

Lega rasanya, perjuangan yang tak sia-sia. Benar kata pepatah hasil tidak akan pernah membohongi prosesnya. Terimakasih Tuhan, engkau telah memberikan kesempatan menitipkan setitik karyamu yang megah pada salah satu sudut kebun raya. Semoga Rafflesia akan terus betah di rumah barunya. Tetap lestari kebun raya tercinta. Keberadaanmu sangat berharga bagi pengetahuan. (MKR)