Bisnis Digital Butuh Pola Pikir Baru: Transformasi Bukan Sekadar Punya Aplikasi

Mahasiswi Universitas Pamulang, Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Melany Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun terakhir, kata "digitalisasi" terdengar di mana-mana. Pelaku usaha diminta membuat akun marketplace, menerima pembayaran QRIS, dan aktif di media sosial. Seolah-olah begitu semua itu terpasang, sebuah bisnis digital otomatis disebut telah bertransformasi. Menurut saya, anggapan ini keliru dan berbahaya, karena membuat banyak pelaku usaha merasa sudah selesai padahal belum mulai.
Ekonomi digital adalah sistem ekonomi yang aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsinya bertumpu pada teknologi digital dan data. Dalam sistem ini, yang menentukan siapa yang unggul bukan lagi sekadar modal besar atau lokasi strategis, melainkan siapa yang paling cepat memahami pelanggan dan paling lincah beradaptasi. Di sinilah perbedaan antara digitalisasi dan transformasi menjadi penting. Digitalisasi berarti memindahkan cara kerja lama ke medium baru: katalog kertas menjadi katalog di Instagram, buku kas menjadi aplikasi pencatatan. Transformasi berarti mengubah cara bisnis menciptakan dan menyampaikan nilai kepada pelanggan. Warung yang hanya memotret dagangannya lalu mengunggahnya ke marketplace baru melakukan digitalisasi. Warung yang membaca data penjualan untuk mengetahui produk apa yang laku pada jam tertentu, lalu menyesuaikan stok dan promosinya, itulah yang bertransformasi.
Perubahan cara berpikir tersebut bertumpu pada data, aset yang paling sering disia-siakan. Setiap transaksi digital meninggalkan jejak berupa produk yang dilihat, jam pembelian, hingga keluhan pelanggan. Sayangnya, banyak pelaku usaha, terutama UMKM, menganggap jejak itu sekadar arsip. Padahal data adalah bahan baku pengambilan keputusan. Tanpa kemampuan membacanya, platform digital hanya menjadi etalase mahal. Menurut saya, inilah kesenjangan terbesar kita. Akses internet dan perangkat sudah relatif luas, tetapi literasi pemanfaatan data masih tertinggal. Kita sibuk mengajarkan cara berjualan online, tetapi jarang mengajarkan cara menganalisis hasil penjualan online. Akibatnya, banyak usaha yang ramai di platform tetapi tidak tahu apakah mereka benar-benar untung, siapa pelanggan setianya, atau mengapa omzet naik-turun.
Tekanan untuk berubah juga datang dari persaingan yang semakin terbuka. Toko di sebuah kota kini bersaing dengan penjual dari kota lain, bahkan dari negara lain, dan konsumen tinggal membandingkan harga serta ulasan dalam hitungan detik. Bertahan dengan cara lama dalam kondisi seperti ini sama saja dengan memilih tertinggal pelan-pelan. Namun, keterbukaan yang sama juga memberi peluang. Pelaku usaha kecil kini bisa menjangkau pasar yang dulu hanya bisa diakses perusahaan besar, dengan biaya yang jauh lebih murah. Syaratnya satu: mau belajar dan mau berubah.
Untuk itulah sistem informasi berperan. Teknologi bukan tujuan, melainkan alat untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi agar keputusan bisnis lebih tepat. Sistem informasi yang baik membantu pemilik usaha menjawab pertanyaan sederhana tetapi krusial: produk mana yang paling menguntungkan, kapan stok harus ditambah, dan kanal mana yang paling efektif menarik pelanggan. Karena itu, saya berpendapat bahwa transformasi digital seharusnya dimulai dari pertanyaan bisnis, bukan dari pilihan teknologi. Bisnis yang membeli perangkat lunak canggih tanpa tahu masalah apa yang ingin diselesaikan hanya akan menambah beban biaya.
Pada akhirnya, transformasi bisnis di era ekonomi digital adalah perubahan pola pikir: dari berjualan berdasarkan kebiasaan menjadi berjualan berdasarkan data, dari menunggu pelanggan menjadi memahami pelanggan, dari sekadar hadir di dunia digital menjadi memanfaatkannya secara strategis. Teknologi bisa dibeli siapa saja, tetapi kemauan untuk berubah harus dimulai dari diri sendiri. Bagi pelaku usaha, mahasiswa, maupun pembuat kebijakan, pertanyaan yang layak diajukan hari ini bukan lagi "apakah kita sudah digital?," melainkan "apakah cara kita mengambil keputusan sudah ikut berubah?"
