Uang Gen Z Ke Mana Saja? Mengintip Kebiasaan Belanja di Era Digital

Penulis lepas dan Mahasiswi UNPAM.Fokus menulis seputar ekonomi,pendidikan,dan keseharian manusia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Melati Tambunan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa uang cepat sekali habis padahal tidak membeli barang mahal? Gaji atau uang saku baru masuk, tapi di akhir bulan bingung larinya ke mana. Fenomena ini banyak dirasakan oleh Gen Z sekarang.
Bukan karena kita boros barang mewah, tapi karena godaan kecil yang ada di handphone setiap hari. Dulu kalau ingin membeli sesuatu harus pergi ke toko. Sekarang, sambil rebahan saja kita bisa memesan kopi susu, boba, makanan viral, baju tren TikTok, hingga langganan aplikasi. Semua terasa praktis karena tinggal klik. Kemudahan inilah yang tanpa sadar membuat dompet kita bocor halus.
*Media Sosial Bikin Pengen Beli Terus*
Coba jujur, berapa kali kamu melihat racun di TikTok atau Instagram lalu langsung ingin checkout? Awalnya kita tidak butuh, tapi setelah melihat review dengan kalimat "Wajib beli!" atau "Best outfit!", rasa takut ketinggalan tren atau FOMO muncul dan akhirnya ikut membeli.
Media sosial memang membantu kita mencari informasi dan promo diskon. Namun jika tidak difilter, kita jadi membeli sesuatu karena ikut tren, bukan karena benar-benar butuh. Algoritma yang terus menampilkan barang yang kita lihat sekilas juga membuat keinginan itu semakin besar.
*Bocor Halus yang Tidak Terasa*
Musuh utama keuangan Gen Z sebenarnya bukan cicilan besar, melainkan pengeluaran kecil yang diulang-ulang setiap hari. Contoh paling nyata adalah kebiasaan membeli minuman Rp25.000 sebanyak empat kali dalam seminggu. Jika dihitung, dalam sebulan pengeluaran itu sudah mencapai Rp400.000 untuk minuman saja. Belum termasuk biaya ongkos ojek online, jajan sore, dan langganan streaming film atau musik.
Bukan berarti kita tidak boleh jajan. Self-reward itu perlu untuk menjaga semangat. Masalahnya adalah ketika semua pengeluaran kecil itu tidak pernah dicatat, kita jadi tidak tahu uang kita lari ke mana dan merasa gaji selalu tidak cukup.
*Hati-hati dengan PayLater*
Fitur Buy Now Pay Later memang sangat memudahkan, terutama saat tanggal tua. Kita bisa beli sekarang dan bayar nanti. Tapi banyak yang lupa bahwa kemudahan itu tetaplah utang yang harus dibayar bulan depan.
Kelihatannya cicilan Rp20.000 atau Rp30.000 itu kecil, tapi jika dalam sebulan ada sepuluh transaksi seperti itu, tagihannya akan menumpuk dan membuat kaget saat jatuh tempo. Sebelum mengklik PayLater, coba tanyakan tiga hal ini: apakah barang ini benar-benar butuh atau hanya ingin? Berapa total yang harus dibayar beserta bunganya? Dan apakah sanggup membayarnya saat gajian nanti?
Terus, Gen Z Harus Berhenti Mengikuti Tren?
Tidak juga. Kita tetap butuh bersenang-senang dan nongkrong bersama teman untuk menjaga kesehatan mental. Kuncinya bukan berhenti jajan sama sekali, tapi tahu prioritas.
Kebutuhan utama seperti makan, transportasi, paket data, dan biaya kuliah harus aman terlebih dahulu, baru sisanya dialokasikan untuk hiburan. Kamu tidak harus memiliki semua barang viral untuk bisa terlihat bahagia dan diterima di pergaulan.
Agar keuangan lebih terkendali, ada lima kebiasaan simpel yang bisa mulai diterapkan. Pertama, bedakan mana butuh dan mana ingin dengan bertanya, kalau tidak dibeli hari ini apakah hidup akan terganggu? Kedua, buat anggaran sederhana dengan membagi pos menjadi kebutuhan, tabungan, dan jajan. Ketiga, catat setiap pengeluaran, cukup pakai notes di HP saja agar sadar. Keempat, berikan jeda 24 jam sebelum checkout barang yang tidak penting. Jika besok masih menginginkannya, baru beli. Kelima, sisihkan tabungan di awal, tidak harus besar, yang penting konsisten.
Pada akhirnya, kebebasan finansial itu bukan soal seberapa besar gaji atau uang saku, tapi seberapa bijak kita mengelola apa yang kita punya. Di zaman yang serba tren ini, yang paling keren bukan yang paling banyak barangnya, tapi yang paling bisa mengendalikan keuangannya.
