AI dan Literasi Media: Teknologi Hebat, tetapi Siapa yang Pegang Kendali?
Tulisan dari Melati Ayu Sogesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kecerdasan buatan seperti ChatGPT bukan sekadar alat bantu pintar; ia adalah cermin dari cara kita memahami dan memperlakukan informasi. Dalam hitungan detik, mesin bisa menjawab pertanyaan rumit, menyusun opini, bahkan menyederhanakan teks panjang. Namun di balik kenyamanan ini, ada pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya mengendalikan pemahaman kita—manusia atau algoritma?
AI bukanlah ancaman dengan sendirinya. Tapi tanpa kesadaran kritis dari penggunanya, kecanggihan ini bisa jadi pisau bermata dua. Literasi media bukan hanya tentang bisa membaca atau mengakses informasi, tapi juga tentang kemampuan menganalisis, mempertanyakan, dan memahami konteks. Ketika kita terlalu cepat menerima jawaban dari AI tanpa berpikir ulang, proses literasi bisa mandek di permukaan.
Bukan salah teknologi jika kita menjadi malas berpikir. Tapi ketika kita mulai menyerahkan proses bernalar pada mesin, kita sendirilah yang membiarkan nalar kita tumpul. Terutama bagi generasi muda yang tumbuh dalam pelukan digital, penting untuk disadari bahwa AI tidak membawa kebijaksanaan—ia hanya mengolah data yang ada, tanpa etika atau intuisi manusia.
Meski begitu, bukan berarti AI adalah penghambat. Sebaliknya, dengan pendekatan yang bijak, AI bisa menjadi katalis yang memperkaya pemahaman. Ia bisa mempercepat proses belajar, membuka akses ke beragam perspektif, dan bahkan membangkitkan kembali semangat mencari tahu. Kuncinya adalah siapa yang memegang kendali: manusia atau mesin.
Di sinilah pendidikan memegang peran sentral. Bukan hanya soal mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga membentuk sikap kritis terhadapnya. Generasi sekarang perlu belajar bahwa tak semua jawaban yang mudah berarti benar. Mereka harus dibekali kemampuan untuk menyelidiki, menyaring, dan berdialog dengan informasi.
AI seperti ChatGPT bukan musuh literasi media—tetapi cermin dari bagaimana kita memperlakukan pengetahuan. Apakah kita membiarkan mesin berpikir untuk kita, atau menggunakannya untuk berpikir lebih dalam? Literasi media di era AI bukan tentang memilih antara manusia atau mesin, tapi tentang bagaimana keduanya bisa berjalan bersama—dengan manusia tetap sebagai nahkoda.

