“Kutu Buku” Mulai Hilang, tetapi Literasi Media Justru Semakin Mendesak
Tulisan dari Melati Ayu Sogesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah “kutu buku” dulunya identik dengan sosok yang tak pernah lepas dari tumpukan buku. Mereka dianggap simbol kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan semangat belajar yang tinggi. Namun, seiring berkembangnya era digital, sebutan itu makin jarang terdengar. Kini, generasi muda lebih akrab dengan gawai ketimbang lembaran buku. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran: apakah pudarnya budaya membaca buku menandai merosotnya literasi?
Ternyata tidak sesederhana itu. Pakar pendidikan dan komunikasi menyebut bahwa literasi kini telah berkembang jauh dari definisi tradisionalnya. “Literasi bukan lagi hanya soal membaca buku fisik. Ini tentang kemampuan berpikir kritis dalam menyerap, menilai, dan memproduksi informasi dari berbagai media,” ujar Dita Larasati, pengamat media dari sebuah lembaga riset independen.
Menurutnya, walaupun citra “kutu buku” mulai memudar, bukan berarti semangat belajar ikut hilang. Banyak anak muda yang kini menjadikan YouTube, podcast, bahkan utas media sosial sebagai sumber belajar. Mereka membaca—hanya saja, bentuk bacaannya berbeda.
Namun, di balik perubahan itu, tantangan besar pun muncul. Tak semua konten digital bersifat edukatif. Tanpa literasi media yang memadai, generasi muda justru berisiko besar terpapar misinformasi, teori konspirasi, atau konten yang mendorong polarisasi.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar banyak membaca, tetapi mampu memilah informasi, memahami konteks, dan mengenali bias,” tambah Dita.
Para pendidik kini didorong untuk tidak hanya fokus pada literasi tradisional, tetapi juga mengintegrasikan keterampilan verifikasi informasi dan etika digital dalam kurikulum. Sekolah dan lembaga pendidikan nonformal dianggap memegang peran penting dalam menumbuhkan budaya literasi baru yang sesuai dengan zaman.
Selain itu, peran keluarga dan komunitas juga tak bisa diabaikan. Lingkungan yang mendukung diskusi, memberi ruang bertanya, dan mengajak anak-anak terlibat aktif dalam pencarian informasi akan menjadi fondasi penting dalam menghadapi era serba cepat ini.
Meski istilah “kutu buku” mungkin sudah usang, nilai yang dikandungnya tetap relevan: semangat mengejar pengetahuan, kemampuan berpikir jernih, dan sikap kritis terhadap dunia di sekitar. Dalam dunia digital yang bising dan penuh distraksi, justru nilai-nilai itulah yang kini paling dibutuhkan.

