Ketika Joko Pinurbo Menjadi Si Kecil yang Suka Makan Es Krim

Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma. Suka menggambar dan membaca novel bertema perempuan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yunia Melia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi adalah alat komunikasi tersirat untuk menyampaikan kritik sosial, pesan moral, serta emosi kompleks. Pada era orde baru (1966-1998) puisi sering menjadi alat perlawanan kritik terhadap otoritarianisme, represi, dan ketimpangan sosial. Namun, semakin berkembangnya zaman, puisi tidak hanya sebagai alat perlawanan, melainkan dijadikan alat untuk mengekspresikan ungkapan hati dan perasaan.
Salah satu penyair tersohor yang mampu menyampaikan kritik sosial yang tajam ialah Joko Pinurbo atau kerap dipanggil Jokpin. Joko Pinurbo dikenal dengan bukunya yang berjudul “Celana” yang berisikan kumpulan puisi-puisi yang ia tulis. Salah satu puisi yang menurut saya menarik adalah“Poster Setengah Telanjang.”
Si kecil yang suka makan es krim itu sudah besar, sudah tidak pemalu dan ingusan.
la gemar melucu dan pintar juga menggodamu.
"Kau penyair ya? Kutahu itu dari kepalamu yang botak dan licin seperti semangka."
Kau tergoda dan ingin lebih lama terpana
ketika matanya mengerjap dan bulan muncrat
di atas rambutnya yang hitam pekat.
Malam heboh sekali.
Orang-orang mulai resah menunggu kereta.
Perempuan, kau mau ikut?"
"Emoh ah," katanya.
Kereta sudah siap.
Para pelayat berjejal di dalam gerbong
sambil melambai-lambaikan bendera.
"Perempuan, ikutlah bersama kami.
Kita akan pergi menyambut revolusi."
"Ah, revolusi. Revolusi telah kulipat dan kuselipkan ke dalam beha."
"Lancang benar ia. Berani menantang kita dengan senyumnya yang sangat subversif.
Ia sungguh berbahaya."
Lonceng terakhir telah selesai menyanyikan
"Sepasang Mata Bola".
Tinggallah malam
yang redam, langit yang diam.
Tinggallah air mata yang menetes pelan
ke dalam segelas bir yang menempel pada dada yang setengah terbuka, setengah merdeka.
Sikap Ironi dan Main-Main
Puisi “Poster Setengah Telanjang” menggambarkan situasi yang unik, serta memadukan elemen-elemen humor, seksualitas, dan kritik sosial. Bait pertama puisi yang memperkenalkan karakter “si kecil yang suka makan es krim” yang digambarkan sudah beranjak dewasa. Di sini Jokpin menggunakan hal-hal kecil atau konyol, seperti semangka dan es krim. Hal ini digunakan sebagai alat mengkritik sesuatu yang besar (politik, kematian, Tuhan)
Wayne Both mendeskripsikan bahwa implied author merupakan penulis tersirat atau tersembunyi dalam teks. Pengarang tersirat yang dimaksudkan adalah pengarang yang tidak hadir dalam suatu karyanya. Joko Pinurbo sebagai pengarang yang menyampaikan kritik dan refleksi serius khas dengan jenaka dan tidak menggurui. Lalu pada puisi ini digantikan dengan implied author “si kecil yang suka makan es krim” dengan karakter yang sudah beranjak dewasa, suka melucu, dan pintar menggoda.
Persona poetica ini bukan sekadar gaya bahasa. Namun, ditujukan agar pembaca percaya sekaligus dapat membayangkan bagaimana dunia masa kecilnya. Di sinilah teks menciptakan pengalaman retorika yang mana pengarang berhasil menciptakan figur yang jauh lebih kuat dan nyata dalam pengalaman membaca. Pengalaman membaca yang lebih kuat ini membuat pembaca merasa bahwa masa kecil pengarang seperti yang ada pada isi puisinya.
Melawan Revolusi dengan Tubuh Perempuan
Tubuh perempuan pada puisi tersebut menandakan sebuah perlawanan. Hal itu begitu nampak pada kalimat “Revolusi telah kulipat dan kuselipkan ke dalam beha.” Di sini implied author seolah berkata bahwa revolusi bukan seseuatu yang besar, melainkan sebuah hal yang begitu intim. Revolusi yang sesungguhnya dimaksud adalah urusan pribadi, tubuh, dan seksualitas. Dari sini bisa dilihat bagaimana pengarang mengkritik tentang politisasi tubuh yang dilakukan rezim.
Gaya bahasa yang digunakan penuh dengan metafora yang tersirat, seperti pada kalimat “dada yang setengah terbuka dan setengah merdeka” yang bermakna bahwa kebebasan tidak pernah utuh, tetapi selalu dalam keadaan setengah. Pengarang mencoba untuk membawa pengalaman retorika pembaca agar ikut merasakan ambiguitas dan ketidakpastian yang menyertai setiap klaim tentang kemerdekaan. Dengan memadukan unsur fisik (“dada terbuka”) dan abstrak (“merdeka”), Jokpin seolah bersabda kemerdekaan tidak pernah tertutup, terdapat celah yang terbuka.
Joko Pinurbo tidak sekadar menyajikan puisi erotis, melainkan mengajak pembaca merenungkan bahwa setelah rezim berganti, setelah revolusi usai, kebebasan individu khususnya kebebasan atas tubuh dan hasrat tetaplah “setengah”. Pembaca diajak bertanya: bagian mana yang sudah merdeka, dan bagian mana yang masih terbelenggu? Dengan cara ini, metafora tidak hanya berfungsi sebagai hiasan bahasa, tetapi sebagai alat untuk membangun kesadaran kritis pembaca terhadap realitas sosial-politik yang tidak pernah hitam-putih.
