Konten dari Pengguna

Pentingnya Aktivitas Fisik di Tengah Kesibukan Saat Pandemi

Melinda Violita

Melinda Violita

Mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Melinda Violita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedentary lifestyle Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedentary lifestyle Foto: pixabay

Kesehatan merupakan bagian penting dari kehidupan setiap orang. Semua orang mengetahui jika kesehatan adalah hal yang berharga. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi kesehatan, diantaranya aktivitas fisik, pola makan, istirahat, dan penyakit. Aktivitas fisik merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Selama masa pandemi COVID-19 sebagian besar orang hanya menghabiskan waktu di dalam rumah untuk bekerja maupun belajar secara online. Tidak dipungkiri bahwa banyaknya waktu luang ini membuat masyarakat menjadi lebih malas dan sering berdiam diri di rumah. Tanpa kita sadari hal ini membuat perkembangan sedentary lifestyle semakin bertambah.

Apa itu sedentary lifestyle?

Sedentary lifestyle berhubungan dengan aktivitas pergerakan tubuh yang minimal. Sedentary lifestyle dapat diartikan dengan tidak adanya atau kurangnya aktivitas fisik. Seiring perkembangan zaman, terlihat adanya perubahan gaya hidup berupa penurunan aktivitas fisik seperti ke sekolah menggunakan kendaraan, membersihkan rumah dengan teknologi otomatis, dan lebih senang berdiam diri di rumah untuk bermain komputer, games, dan menonton TV dibandingkan pergi keluar untuk melakukan aktivitas fisik. Apalagi, di masa pandemi saat ini, tidak heran apabila masyarakat juga menjadi malas berolahraga walaupun di rumah.

Ilustrasi menonton TV Foto: pixabay

Pandemi COVID-19 memaksa masyarakat untuk lebih banyak berada di rumah dengan diberlakukan kebijakan PSBB untuk mengurangi penyebaran virus. Social distancing dan work from home cenderung membuat banyak orang menjadi kurang gerak. Banyak kegiatan yang dilakukan menggunakan video conference sebagai sarana komunikasi dalam pendidikan maupun pekerjaan. Di era pandemi ini, kita sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan duduk di hadapan smartphone dan gadget. Kesibukan dengan kegiatan serba online ini memang sudah menjadi makanan sehari hari kita pada masa sekarang.

Sayangnya banyak masyarakat berpikir bahwa dengan berdiam diri di rumah sudah dapat mencegah penularan COVID-19, padahal untuk menjaga tubuh tetap sehat dan prima harus tetap diimbangi dengan pola hidup yang sehat salah satunya dengan meningkatkan aktivitas fisik. Gaya hidup kurang gerak dapat menurunkan kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi virus. Apabila hal ini tidak kita sikapi dengan bijak maka dapat berdampak buruk bagi kesehatan kita karena meningkatkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular dan penurunan sistem kekebalan tubuh.

Apakah aktivitas fisik dapat menurunkan resiko penyakit?

Aktif berolahraga secara rutin harus tetap dilakukan meskipun “work from home dan social distancing” untuk menjaga tubuh tetap bugar dan meningkatkan kekebalan. Olahraga merupakan bagian dari aktivitas fisik. Aktivitas fisik sendiri dibagi menjadi 3 yaitu aktivitas fisik harian, latihan fisik, dan aktivitas olahraga. Jenis-jenis aktivitas fisik antara lain:

a. Aktivitas fisik harian

Jenis aktivitas yang pertama ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Kegiatan sehari-hari seperti mengurus rumah dapat membantu untuk membakar kalori yang didapatkan dari makanan yang kita dikonsumsi. Contoh dari aktivitas fisik harian yaitu seperti mencuci baju, mengepel, berjalan kaki, berkebun, menyetrika, bermain dengan anak, dan sebagainya.

b. Latihan fisik

Latihan fisik adalah aktivitas yang dilakukan secara terstruktur dan terencana seperti berjalan kaki, jogging, push up, peregangan, senam aerobik, bersepeda, dan sebagainya. Dilihat dari kegiatannya, latihan fisik memang seringkali di satu kategorikan dengan olahraga.

c. Olahraga

Olahraga merupakan aktivitas fisik yang terstruktur dan terencana dengan mengikuti aturan-aturan yang berlaku dengan tujuan tidak hanya untuk membuat tubuh jadi lebih bugar namun juga untuk mendapatkan prestasi. Kegiatan yang termasuk dalam olahraga adalah sepak bola, bulu tangkis, basket, berenang, dan sebagainya.

Respon kekebalan tubuh setiap orang terhadap olahraga sangat bergantung pada intensitas dan durasinya. Saat berolahraga dengan intensitas sedang selama kurang dari 60 menit, akan terjadi peningkatan sistem kekebalan tubuh yang memiliki efek pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit. Saat dilakukan secara rutin, olahraga dapat meningkatkan dan mencegah terjadinya penurunan sistem kekebalan tubuh yang terjadi seiring dengan bertambahnya umur. Yang harus kita perhatikan ketika berolahraga adalah durasi dan intensitasnya, karena sesuatu yang berlebihan juga akan menimbulkan dampak yang tidak baik.

Pada masa pandemi COVID-19, aktivitas fisik menjadi semakin terbatas. Kebijakan physical distancing membuat pergerakan tubuh kita menjadi minimal karena kegiatan daring yang menuntut penggunaan smartphone dan gadget sambil duduk atau berbaring dalam waktu lama. Penyakit dapat mengintai apabila kita tidak aktif bergerak. Perlu diingat, bahwa aktif berolahraga secara rutin harus tetap dilakukan di tengah kesibukan meskipun “work from home dan social distancing” untuk menjaga tubuh tetap bugar dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pandemi tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak berolahraga, tetapi justru menjadi motivasi tambahan untuk membantu meningkatkan kebugaran agar tubuh kita tetap sehat dan terhindar dari penyakit

Penyusun:

Melinda Violita

Ajeng Widyastuti

Referensi:

Ashadi, Kunjung., Andriana, L. M., Pramono, B.A., 2020. Pola Aktivitas Olahraga Sebelum dan Selama Masa Pandemi Covid-19 pada Mahasiswa Fakultas Olahraga dan Fakultas Non-Olahraga. Jurnal Sporif: Jurnal Penelitian dan Pembelajaran, 6(3): 713-728

Hadi, Faisal Kusuma. 2020. Aktivitas Olahraga Bersepeda Masyarakat di Kapubaten Malang pada Masa Pandemi Covid-19. Sport Science & Education Journal, 1(2): 28-36

Mandriyarini, Retno. 2016. Sedentary Lifestyle sebagai Faktor Risiko Kejadian Obesitas pada Remaja Stunted Usia 14-18 tahun di Kota Semarang. Skripsi. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro: Semarang

National Safety Council. 2021. Family Safety and Health: Sedentary lifestyles proving a pain during the pandemic, survey finds (Online). Tersedia pada https://www.safetyandhealthmagazine.com/articles/20721-sedentary-lifestyles-proving-a-pain-during-the-pandemic-survey-finds. Diakses pada tanggal 22 April 2021

Tiksnadi, B.B., Sylviana, N., Cahyadi, A.I. and Undarsa, A.C., 2020. Olahraga Rutin Untuk Meningkatkan Imunitas Pasien Hipertensi Selama Masa Pandemi COVID-19. Indonesian Journal of Cardiology, 41(2), pp.113-9.