Konten dari Pengguna

Obati Hatinya Dulu: Mengapa SDN 068332 Simalingkar Butuh Guru BK SD?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Melki Cicilia Pane tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis: Melki Cicilia Pane

Sekolah dasar (SD) sejatinya adalah tempat anak-anak belajar calistung (baca, tulis, hitung) dengan ceria. Namun, di UPT SD Negeri 068332 Perumnas Simalingkar, Medan, ruang kelas sering kali menjadi tempat pelarian paling aman bagi anak-anak yang hatinya sedang terluka.

Fakta di Lapangan dan Masalah Utama

Berdasarkan hasil obrolan dengan salah satu guru UPT SD Negeri 068332 Perumnas Simalingkar, sebagian besar murid di sekolah ini hidup dalam kondisi yang sangat berat. Banyak dari mereka adalah anak-anak korban perceraian (broken home), anak yatim, piatu, dititipkan ke kerabat jauh, hingga anak-anak tangguh yang tinggal di panti asuhan sekitar Simalingkar.

Kondisi ini memicu rantai masalah yang nyata di dalam kelas:

Hambatan Membaca dan Berhitung: Banyak murid di kelas tinggi belum lancar membaca karena pikiran mereka terlalu lelah memikirkan kesedihan di rumah, sehingga sulit fokus belajar.

Trauma Emosional: Anak-anak panti asuhan dan korban perceraian sering merasa kesepian dan kurang kasih sayang. Beberapa anak menjadi sangat minder, sementara yang lain menjadi nakal di kelas demi mencari perhatian.

Tidak Ada Pendamping Belajar: Di rumah atau di panti, tidak ada sosok orang tua utuh yang mendampingi mereka belajar. Buku pelajaran hanya dibuka saat di sekolah saja.

"Bagaimana mungkin seorang anak bisa fokus mengeja huruf di papan tulis, jika semalam ia menangis karena rindu pelukan ayah dan ibunya?"

Dokumentasi Penulis dengan salah satu murid SDN 068332 Perumnas Simalingkar saat melakukan test

Mengapa Beban Ini Tak Adil Bagi Guru Kelas?

Selama ini, jika ada anak yang lambat belajar atau bermasalah secara perilaku, guru kelaslah yang harus menanggung semuanya. Padahal, tugas guru kelas sudah sangat menumpuk untuk mengejar target kurikulum dan mengurus berkas administrasi yang rumit. "Kami ingin sekali memeluk anak yang murung di pojok kelas dan mengajarinya membaca dari hati ke hati. Tapi kami harus mengejar materi pelajaran hari itu juga untuk puluhan anak lainnya. Kami tidak punya waktu yang cukup, dan kami bukan konselor profesional yang paham cara menyembuhkan trauma batin anak."

Masalah akademis anak—seperti lambat membaca—sebenarnya berakar dari hatinya yang sedang terluka parah, bukan karena mereka bodoh. Guru kelas dididik untuk mengajar materi pelajaran, bukan untuk menyembuhkan luka mental anak akibat broken home atau kehidupan panti.

Solusi : Hadirkan Guru BK Khusus SD

Melihat kondisi darurat di SDN 068332 Simalingkar, pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Kota Medan harus segera menempatkan Guru Bimbingan Konseling (BK) khusus profesional di tingkat SD.

Kehadiran Guru BK sangat mendesak untuk:

1. Menjadi Tempat Bersandar: Menyediakan "ruang aman" bagi anak untuk bercerita, menangis, dan memulihkan rasa percaya diri mereka yang sempat runtuh.

2. Terapi Belajar Khusus: Membantu guru kelas mendesain metode belajar membaca dan berhitung yang ramah bagi anak-anak yang memiliki hambatan emosional.

3. Penghubung ke Rumah/Panti: Berkomunikasi intensif dengan pengurus panti atau wali murid agar anak mendapatkan perhatian yang sinkron di rumah.