AI di Sinetron Indonesia: Terobosan Trans7 atau Tantangan bagi Pekerja Kreatif?

Mahasiswa Unika Santo Thomas Medan, Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Inggris
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari melva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penayangan sinetron Legenda Bertuah di Trans7 menandai satu momen penting dalam sejarah televisi Indonesia. Untuk pertama kalinya, publik diperkenalkan pada sinetron yang diproduksi dengan melibatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Langkah ini segera memantik perdebatan. Sebagian pihak melihatnya sebagai terobosan berani dan simbol kemajuan industri televisi nasional, sementara yang lain memandangnya sebagai sinyal bahaya bagi masa depan pekerja kreatif.
Perdebatan ini wajar, karena televisi sejak lama bukan hanya medium hiburan, melainkan ruang tempat cerita manusia diproduksi dan dibagikan. Sinetron, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, telah menjadi cermin kehidupan sosial masyarakat Indonesia—dari konflik keluarga, persoalan ekonomi, hingga nilai-nilai moral yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, kehadiran AI dalam proses produksi sinetron bukan sekadar perubahan teknis, melainkan perubahan mendasar dalam cara cerita diciptakan dan dimaknai.
Dari sudut pandang industri, keputusan Trans7 menghadirkan Legenda Bertuah memang dapat dipahami. Dalam beberapa tahun terakhir, televisi menghadapi tekanan besar dari platform digital dan layanan streaming. Pola konsumsi penonton berubah drastis, terutama di kalangan generasi muda yang lebih akrab dengan konten berbasis algoritma. Banyak media global mulai memanfaatkan AI untuk membaca tren audiens, mempercepat produksi konten, dan menekan biaya operasional. Küng (2020) menyebut inovasi teknologi sebagai strategi bertahan hidup industri media di tengah disrupsi digital. Dalam konteks ini, Legenda Bertuah dapat dibaca sebagai upaya Trans7 untuk tetap relevan.
Namun, di sinilah posisi penulis perlu ditegaskan: relevansi teknologi tidak otomatis berarti kemajuan kultural. Efisiensi produksi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah karya. Sinetron hidup dari emosi, konflik, dan pengalaman manusia. Penonton tidak hanya menonton karena visual yang menarik, tetapi karena merasa terhubung dengan cerita dan karakter. Ketika teknologi mulai mendominasi proses kreatif, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana AI mampu menggantikan kepekaan manusia dalam bercerita?
Respons publik terhadap Legenda Bertuah menunjukkan ambivalensi tersebut. Banyak yang mengapresiasi visualnya yang berbeda dari sinetron konvensional, tetapi tidak sedikit pula yang menilai alur cerita dan emosi karakternya terasa kurang menyentuh. Kesan ini tidak sepenuhnya mengejutkan. AI bekerja dengan mengolah data masa lalu dan mengenali pola yang sudah ada. Ia efektif dalam meniru, tetapi terbatas dalam menghadirkan pengalaman subjektif yang benar-benar baru. Dalam kajian kreativitas, Amabile (1996) menegaskan bahwa kreativitas manusia lahir dari kombinasi keahlian, motivasi, dan pengalaman personal—unsur yang tidak dimiliki oleh mesin.
Di titik ini, penulis berpandangan bahwa AI seharusnya tidak ditempatkan sebagai “otak cerita”, melainkan sebagai alat bantu. Ketika AI terlalu jauh masuk ke wilayah naratif, risiko yang muncul bukan hanya cerita yang terasa datar, tetapi juga hilangnya keberanian untuk menghadirkan konflik sosial yang autentik. Cerita yang dihasilkan algoritma cenderung aman, rapi, dan tidak menggugat—karakteristik yang justru bertentangan dengan fungsi sastra dan drama sebagai ruang refleksi sosial.
Masalah menjadi lebih serius ketika pembahasan beralih ke dampak sosial, khususnya bagi pekerja kreatif. Produksi sinetron melibatkan banyak tenaga manusia: penulis naskah, aktor, editor, animator, hingga kru teknis. Ketika AI mulai mengambil alih sebagian proses kreatif, kekhawatiran tentang berkurangnya lapangan kerja menjadi tidak terhindarkan. Dalam studi tentang industri budaya, Hesmondhalgh dan Baker (2011) menunjukkan bahwa pekerja kreatif sejak lama berada dalam posisi rentan, dengan upah tidak stabil dan perlindungan kerja yang minim. Otomatisasi berpotensi memperparah kondisi ini jika tidak diiringi kebijakan yang berpihak pada manusia.
Dalam konteks Indonesia, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Banyak pekerja seni dan media bekerja tanpa kontrak jangka panjang dan jaminan sosial memadai. Jika teknologi digunakan semata-mata untuk menekan biaya produksi, maka AI berisiko menjadi alat yang menggusur tenaga manusia, bukan membantu mereka. Inovasi yang tidak disertai perlindungan sosial pada akhirnya hanya menguntungkan pemilik modal, sementara pekerja kreatif menjadi pihak yang paling terdampak.
Selain persoalan ketenagakerjaan, penggunaan AI dalam Legenda Bertuah juga memunculkan pertanyaan etis, terutama terkait hak cipta. Sistem AI dilatih menggunakan kumpulan data besar yang sering kali berasal dari karya manusia. Ginsburg dan Budiardjo (2019) mengingatkan bahwa penggunaan karya kreatif sebagai data pelatihan AI berada dalam wilayah abu-abu hukum. Tanpa mekanisme pengakuan dan kompensasi yang jelas, kreator manusia berpotensi dirugikan secara sistemik.
Isu ini menjadi semakin sensitif karena Legenda Bertuah mengangkat cerita legenda dan nuansa budaya Nusantara. Cerita rakyat bukan sekadar bahan hiburan, melainkan warisan budaya kolektif. Ketika narasi budaya diproduksi oleh mesin yang tidak memiliki pemahaman konteks sosial dan sejarah, ada risiko penyederhanaan makna. Lev Manovich (2019) menegaskan bahwa AI tidak memiliki kesadaran budaya atau empati; ia hanya memproses pola visual dan naratif. Karena itu, keterlibatan manusia tetap krusial dalam mengolah cerita-cerita yang berakar pada identitas budaya.
Meski demikian, menempatkan AI sebagai ancaman mutlak juga bukan pendekatan yang adil. Teknologi pada dasarnya adalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada cara manusia menggunakannya. Sejumlah kajian tentang seni digital menunjukkan bahwa kolaborasi antara manusia dan mesin justru dapat memperluas kemungkinan kreatif. Candy dan Edmonds (2018) berpendapat bahwa AI dapat menjadi mitra eksplorasi artistik jika digunakan sebagai pendukung, bukan pengganti.
Dalam konteks sinetron, AI seharusnya membantu proses teknis seperti pengolahan visual, riset latar cerita, atau simulasi adegan. Namun, keputusan kreatif utama—penulisan naskah, pengembangan karakter, dan pengolahan emosi—tetap harus berada di tangan manusia. Di sinilah garis batas yang perlu ditegaskan oleh industri televisi Indonesia.
Kehadiran Legenda Bertuah seharusnya menjadi pemicu diskusi publik yang lebih luas tentang masa depan industri kreatif. Media bukan sekadar industri ekonomi, melainkan institusi budaya yang membentuk cara masyarakat memahami realitas. Raymond Williams (1983) menegaskan bahwa televisi memiliki peran kultural yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, setiap inovasi teknologi perlu disertai pertimbangan etika dan dampak sosial, bukan hanya pertimbangan bisnis.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Legenda Bertuah bukan sekadar apakah AI bisa membuat sinetron. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana teknologi ini digunakan dan untuk kepentingan siapa. Jika AI dijadikan alat untuk memperkaya kreativitas manusia dan membuka ruang cerita baru, maka ia layak disebut terobosan. Namun, jika ia digunakan semata-mata untuk efisiensi dan pengurangan tenaga kerja, maka kekhawatiran para pekerja kreatif bukanlah hal yang berlebihan.
Legenda Bertuah telah membuka pintu menuju masa depan baru televisi Indonesia. Tantangannya kini adalah memastikan bahwa langkah ke depan tidak meninggalkan manusia di belakang layar. Sebab pada akhirnya, cerita yang paling diingat penonton bukanlah yang paling canggih teknologinya, melainkan yang paling jujur, berani, dan manusiawi.
