Opini & Cerita
·
10 September 2020 15:23

Memutus Rantai Penularan TBC di Lingkungan Kerja

Konten ini diproduksi oleh Yayasan KNCV Indonesia
Tuberkulosis kerap dialami oleh berbagai kalangan. Terlebih bagi mereka yang tinggal di kelompok lingkungan dengan sirkulasi dan sanitasi yang tidak memadai, sehingga mudah menularkan penyakit. Terkait hal ini, lingkungan kerja menjadi salah satu tempat yang berisiko terjadi penularan TBC. Pekerja rata-rata menghabiskan waktu produktifnya sehari-hari di lokasi kerja, sehingga tidak menutup kemungkinan potensi penularan penyakit terjadi di tempat ini.
ADVERTISEMENT
Tuberkulosis menjadi salah satu penyakit yang menjadi perhatian hingga saat ini. Berdasarkan laporan badan kesehatan dunia, WHO, tahun 2019, Indonesia merupakan negara dengan beban TBC tertinggi nomor tiga sesudah India dan Republik Rakyat Tiongkok. Estimasi kasus TBC di Indonesia mencapai 845.000 sementara yang telah terlaporkan baru 53% atau sebanyak 446.732 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua kasus yang ditemukan mendapat penanganan sesuai standar, sehingga potensi penularan menjadi tinggi. Persoalan ini turut didukung dengan upaya penemuan kasus TBC di lokasi kerja yang belum menjadi prioritas.
Penyakit TBC tidak hanya merupakan persoalan individu, namun juga merupakan persoalan semua pihak. Kesakitan dan kematian akibat TBC memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap permasalahan sosial dan ekonomi, baik bagi penderita, masyarakat, keluarga, serta perusahaan. Yayasan KNCV Indonesia (YKI) bekerjasama dengan Fullerton Health Foundation, dan didukung oleh TB Reach Wave 7 mengimplementasikan sebuah proyek untuk mendukung penanggulangan tuberkulosis di tempat kerja dengan menggalakan perempuan sebagai agen perubahan.
ADVERTISEMENT
YKI bersama PT. JIEP telah melakukan penandatanganan kerjasama awal September 2020 sebagai bentuk dukungan dan komitmen perusahaan untuk memberikan perlindungan kepada karyawan agar bebas dari tuberkulosis. Melalui dukungan dan komitmen perusahaan, kedepan semakin banyak pekerja terlibat dalam skrining TBC, sehingga kasus TBC di kalangan pekerja dapat ditemukan dan segera diobati. Penemuan kasus TBC dan pengobatan TBC ini penting dalam memutus rantai penularan TBC.
Arief Adhi Sanjaya, Direktur Keuangan PT. JIEP mengatakan bahwa penemuan kasus di tempat kerja penting dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya potensi penularan di kalangan pekerja. Kesepakatan ini menjadi bentuk upaya eliminasi TBC di Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan semata, namun juga tanggung jawab setiap individu, baik pemerintah, swasta, serta masyarakat.
ADVERTISEMENT
Melalui deteksi dini gejala TBC, penanganan untuk pengobatan akan semakin cepat sehingga peluang pasien untuk sembuh dengan tuntas pun tercapai. Momentum ini menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menyadari bahwa eliminasi TBC bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan tetapi tanggung jawab setiap individu, baik pemerintah, swasta, serta masyarakat. Dengan semakin banyak temuan kasus di tempat kerja, maka mendukung pada terciptanya pekerja sehat, mampu bekerja dengan giat, serta meningkatkan produktivitas.