Konten dari Pengguna

Ademos Menggelar Acara Sarasehan Sinau Bareng Desa

Melysa Luthia

Melysa Luthia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Melysa Luthia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamis, 14 Maret 2019, Asosiasi Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos), menggelar acara Sarasehan Sinau Bareng Desa, di desa Magersari, Patebon, Kendal, Jawa Tengah. Sekaligus untuk memperingati ulang tahunnya yang ke 21, dan acara ini juga bertujuan untuk menumbuhkan semangat membangun kekuatan Indonesia dari Desa, menjaga keutuhan serta memulihkan kembali semua keretakan yang terjadi di Indonesia. Menumbuhkan kembali cita-cita pembangunan masyarakat Indonesia yang berbhineka dan berbudaya.

Untuk menggelar acara Sarasehan yang bertajuk “Desa Sebagai Pilar Ketahanan Pangan Nasional”, Ademos bekerjasama dengan Sanggar Maos Tradisi. Ketahanan pangan merupakan kunci dari kukuhnya suatu bangsa dengan pilarnya yaitu Desa. Oleh karenanya secara nyata, pembangunan masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah membangun masyarakat di desa. Dimana pada jaman dulu, Desa selalu dianggap sebagai Subsistem terbawah dari birokrasi pemerintah nasional, lalu mempunyai fungsi yang di reduksi sebagai kepanjangan kebijakan pemerintah pusat serta penyedia sumber daya alam, terutama dalam bidang pangan.

Belimbing Ngrinnginrejo (sumber foto : tempatwisataindonesia.id)
zoom-in-whitePerbesar
Belimbing Ngrinnginrejo (sumber foto : tempatwisataindonesia.id)

Namun sekarang fungsi desa sudah mremberikan perubahan, dalam reformasinya telah memberikan keleluasaan ruang bagi desa untuk berdaya dalam konteks ekonomi, social, politik dan budaya. Nah melalui Nawacita inilah, pemerintah mewujudkan komitmennya untuk membangun desa yang lebih mandiri dan berdigdaya. Maka dengan diadakannya Sarasehan ini dan juga Kenduri Nusantara 2019 di Pendopo Malowopati Kabupaten Bojonegoro, akan menjadi salah satu manifestasi harapan bersama untuk membangun kekuatan Indonesia yang akan dimulai dari desa.

Ada beberapa Narasumber yang hadir dalam acara ini, yaitu :

  1. Dr. Arie Sujito sebagai Sosiolog UGM serta mantan Satuan Tugas Dana Desa

  2. Bapak Wakil Bupati Bojonegoro

  3. Bapak Wisma sebagai GM PT. Petrokimia, yang akan membagikan pengalamannya selama berkecimpung di bidang ketahanan pangan khususnya pertanian nasional.

Acara ini juga dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan desa, yaitu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Gabungan Kelompok Ternak, Kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang ada di daerah Bojonegoro.

Mochammad Kundori sebagai Ketua Ademos menjelaskan, bahwa saat ini peran dan tantangan ademos untuk ke depannya adalah, mengajak dan menemani masyarakat desa, menuju desa yang mandiri di berbagai bidang, namun yang paling utama yaitu di bidang pangan. “Desa harus menjadi pilar ketahanan pangan nasional, segala potensi yang ada di desa harus dikelola dan dikemas secara kreatif," Ujarnya. Kemudian beliau juga menjelaskan lagi, bahwa Ademos telah mendampingi produksi UMKM untuk menciptakan produk hasil pertanian, hingga menembus pasar premium dan mendampingi peternak lokal dalam mengembangkan usahanya.

Namun dalam hal ini, bapak Arie Sujito pun menegaskan bahwa, tujuan pemerintah membangun Indonesia yang dimulai dari desa ini, bukan berarti akan menjadikan wajah desa akan menyerupai kota, melainkan akan disesuaikan dengan konteks dan potensi yang ada di desa, terutama tentang kekuatan ekonomi dan pangan nasional. “Dengan adanya keberadaan organisasi seperti Ademos ini, maka akan merubah nadi desa di tingkat lokal. Dan akan menjadi tempat bagi anak-anak muda atau para aktivis desa untuk belajar menggali dan mengembangkan potensi diri, yang ada pada masyarakat pedesaan”, tambahnya lagi.

Hal tersebut diperjelas lagi oleh Kepala Desa Magersari yaitu Muhyidin, bahwa masyarakat di desanya masih memegang dan merawat kesenian, budaya dan tradisi di daerahnya. Di dalam desanya, kegiatan pertanian seperti bercocok tanam, tidak pernah lepas dari praktek budaya keseharian masyarakatnya. Dengan adanya acara Sarasehan dan kenduri ini, masyarakat di desanya semakin memahami cara menyusun sebuah ketahan pangan desa tanpa harus meninggalkan tradisi dan budaya. Mereka selalu merawat keutuhan dalam bermasyarakat, untuk tetap semangat membangun Bhineka Tunggal ika.