Masyarakat Pati Gelar Kenduri Nusantara 2019

Tulisan dari Melysa Luthia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenduri Nusantara 2019 yang di gelar di daerah Pati Jawa Tengah pada hari Sabtu 9 Maret 2019, merupakan tradisi turun termurun yang selalu diadakan setiap satu tahun sekali. Namun Kenduri Nusantara yang di gagas oleh masyarakat Pati itu sendiri, merupakan ritual berdoa bersama serta makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Pati kepada Sang Pencipta akan nikmat rejeki dari hasil tangkapan ikan-ikan yang didapatkan oleh para Nelayan.
Masyarakat Pati yang sebagain besar merupakan para Nelayan tersebut, sangat antusias menyambut acara Kenduri Nasional ini, karena acara ini terinspirasi dari masyarakat Solo Raya yang menggelar acara Doa Anak Negeri pada hari Minggu 3 Maret 2019 lalu, sebagai ungkapan kekhawatiran yang tengah melanda negeri kita tercinta Indonesia. Maka mereka berfikir bahwa, sebagai bangsa Indonesia yang taat beragama, merasa harus bertanggung jawab untuk mendamaikan negeri ini.
Baik yang di Solo maupun di Pati, keduanya sama-sama menggelar acara Kenduri Nusantara 2019 namun ada beberapa hal yang membedakannya, yaitu tempat penyelenggaraan acara serta tradisi Umbul Donga Larung Sukarto.
Apakah yang dimaksud dengan Tradisi Umbul Larung Sukarto Tersebut?
Tradisi tersebut merupakan Pelepasan bala atau marabahaya melalui sebuah simbol atau lambang berupa kembar Mayang dan dua ekor Bebek yang di Larung ke lepas pantai. Prosesi ini dimaksudkan untuk membuang semua energi negatif yang ada di negara kita, ke lepas pantai. Dan proses pelepasannya yaitu dengan mengerahkan 5 perahu nelayan untuk melarung, sejauh kurang lebih satu kilometer dari bibir pantai.
Oleh karenanya tempat penyelenggaraan acara ini yaitu tepatnya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Banyutowo, Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten PATI. Nah kedua hal tersebutlah yang membedakan acara Kenduri Nusantara 2019 di Solo dan Pati. Sedangkan kalau di Solo, tempat penyelenggaraannya yaitu di Benteng Vastenburg, dengan tema acara “Umbul Donga Merawat NKRI”. Prosesnya berbeda dengan Umbul Donga Larung Sukerto, namun sama-sama mempunyai tujuan ingin menjaga persatuan Indonesia.
Dan sebelum acara Larung Sukerto dimulai, terlebih dahulu menampilkan tarian Gamyong sebagai tarian pembuka. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia Kenduri Nusantara 2019 yaitu bapak Ipong Ismunarto. Selesai mendengarkan sambutan-sambutan, lalu bapak Gus Umar Fayumi memimpin doa serta dilanjutkan dengan doa lintas agama. Selesai berdoa, akhirnya prosesi Larung Sukerti pun dimulai, dan setelahnya dilanjutkan dengan acara makan-makan nasi tumpeng yang disajikan dengan cara yang unik.
Nasi tumpeng yang sering kita jumpai biasanya berwarna kuning atau putih atau campuran keduanya. Namun di acara Kenduri di daerah Pati ini, nasi tumpengnya berwarna Merah dan Putih, yang melambangkan Bendera negara Indonesia. Oleh karenanya, keseluruhan acara ini sangat jelas terlihat bahwa, masyarakat Pati menginginkan semua warga negara Indonesia bersatu padu merawat NKRI yang melambangkan persatuan negara Indonesia.
Jangan mengkotak-kotakan perbedaan yang ada disekeliling kita, seperti yang dikatakan oleh bapak Ipong Ismunarto, beberapa hari yang lalu sebelum acara ini digelar, yaitu “Acara pelepasan simbol kembar Mayang dan sepasang Bebek tersebut tidak hanya sekedar tradisi, tapi juga sebagai perwujudan tekad masyarakat Pati yang tidak ingin melihat ibu pertiwi bersusah hati, melihat bangsanya terkotak-kotak akibat dari perbedaan, dan membuang hal negatif dari segala macam tindak tanduk yang dapat mengancam keselamatan negeri.”
Dan selesai acara makan-makan tumpeng merah putih sebanyak 25 tupeng, kemudian acara pun di tutup oleh tarian yang berbeda yaitu tari Tayub. Nah demikian lah acara Kenduri Nusantara 2019 ini kemudian berakhir, dan sepertinya acara seperti ini sangat patut di contoh oleh daerah-daerah lainnya, agar seluruh lapisan masyarakat di Indonesia selalu bersatu padu tanpa merasa adanya perbedaan dan tidak saling mengkotak-kotakkan.
