Literasi Pajak Mahasiswa: Bekal Penting Sebelum Memasuki Dunia Kerja

Mahasiswa Akuntansi Perpajakan di Universitas Pamulang, Content Writer & Penulis isu UMKM, Bisnis Digital & Ekonomi, Founder Meimann.ly
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Meiman Dermawan Buulolo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Literasi pajak mahasiswa merupakan bekal penting sebelum memasuki dunia kerja. Mahasiswa perlu memahami dasar perpajakan sejak bangku kuliah agar lebih siap menghadapi kewajiban administrasi ketika mulai memperoleh penghasilan dari pekerjaan, kegiatan freelance, bisnis online, maupun aktivitas digital lainnya. Pemahaman ini juga membantu mahasiswa mengenali hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Bagi sebagian mahasiswa, pajak masih dianggap sebagai persoalan yang baru perlu dipelajari setelah memiliki pekerjaan tetap. Padahal, pemahaman dasar perpajakan dapat menjadi bekal penting sejak masa kuliah, terutama bagi mahasiswa yang mulai memperoleh penghasilan dari pekerjaan paruh waktu, freelance, bisnis online, atau aktivitas digital.
Pajak bukan sekadar materi yang dipelajari dalam mata kuliah tertentu. Pemahaman tentang pajak juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk ketika seseorang menerima gaji, menjalankan usaha, atau memperoleh penghasilan dari berbagai sumber.
Literasi pajak penting bagi calon pekerja
Mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja perlu memahami bahwa penghasilan dapat memiliki konsekuensi perpajakan. Namun, kewajiban setiap orang tidak selalu sama karena bergantung pada jenis penghasilan, status wajib pajak, penghasilan kena pajak, serta ketentuan yang berlaku.
Sebagai contoh, seorang lulusan baru yang bekerja sebagai karyawan perlu memahami slip gaji, pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21, dan bukti potong dari pemberi kerja. Pengetahuan tersebut dapat membantunya memahami komponen penghasilan yang diterima dan memeriksa dokumen perpajakan yang diberikan perusahaan.
Sementara itu, mahasiswa yang memperoleh penghasilan dari jasa desain, penulisan, pembuatan konten, atau kegiatan freelance perlu memahami pentingnya menyimpan catatan penerimaan dan dokumen pendukung. Pencatatan tersebut dapat membantu ketika penghasilan perlu dihitung atau dilaporkan sesuai ketentuan perpajakan.
Meski demikian, menerima uang tidak otomatis membuat seseorang harus membayar pajak dalam jumlah tertentu. Penentuan kewajiban pajak perlu mempertimbangkan aturan yang berlaku dan kondisi masing-masing wajib pajak.
Data menunjukkan pentingnya edukasi keuangan
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan atau SNLIK 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 93,61 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat mengenai keuangan dan penggunaan produk atau layanan keuangan merupakan dua hal yang berbeda. Akses terhadap layanan keuangan yang luas tetap perlu diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakannya secara bijak.
Walaupun SNLIK mengukur literasi keuangan secara umum dan bukan literasi perpajakan mahasiswa secara khusus, hasilnya relevan sebagai konteks pentingnya pendidikan keuangan. Pemahaman pajak dapat menjadi salah satu bagian dari bekal mahasiswa dalam mengelola penghasilan dan memenuhi tanggung jawab administrasi ketika memasuki dunia kerja.
Sumber data: OJK, LPS, dan BPS, hasil SNLIK 2026.
Memahami SPT Tahunan sebelum memperoleh penghasilan
Salah satu hal yang perlu dikenal mahasiswa adalah Surat Pemberitahuan Tahunan atau SPT Tahunan Pajak Penghasilan. SPT digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak, serta informasi lain yang dipersyaratkan sesuai ketentuan.
Direktorat Jenderal Pajak menyediakan panduan SPT Tahunan untuk wajib pajak orang pribadi, termasuk karyawan, orang yang menjalankan usaha, dan orang yang melakukan pekerjaan bebas. Pelaporan dilakukan sesuai status dan kondisi wajib pajak masing-masing.
Mulai Tahun Pajak 2025, pelaporan SPT Tahunan orang pribadi dilakukan melalui sistem Coretax DJP. Karena itu, calon pekerja perlu mulai mengenali informasi resmi mengenai akun, dokumen pendukung, dan prosedur pelaporan yang berlaku.
Memahami SPT sejak kuliah bukan berarti semua mahasiswa harus langsung melaporkan pajak. Mahasiswa perlu terlebih dahulu mengetahui apakah dirinya telah memiliki kewajiban perpajakan berdasarkan status dan kondisi yang berlaku.
Tantangan memahami informasi pajak di era digital
Saat ini, informasi mengenai pajak dapat ditemukan melalui media sosial, video pendek, forum diskusi, dan berbagai situs internet. Kemudahan tersebut membantu mahasiswa mendapatkan pengetahuan awal, tetapi informasi yang beredar belum tentu lengkap atau sesuai dengan ketentuan terbaru.
Kesalahan memahami informasi pajak dapat menyebabkan seseorang salah mengartikan kewajiban, mengabaikan dokumen penting, atau menggunakan aturan yang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.
Oleh karena itu, mahasiswa sebaiknya membiasakan diri memeriksa informasi melalui sumber resmi, seperti situs Direktorat Jenderal Pajak. Jika menemukan persoalan yang berkaitan dengan situasi pribadi, mereka juga dapat mencari penjelasan melalui saluran layanan resmi DJP.
Kebiasaan memeriksa sumber informasi merupakan bagian dari literasi pajak. Pengetahuan tidak cukup hanya diperoleh dari membaca satu unggahan atau menghafal tarif, tetapi perlu disertai kemampuan memahami konteks dan penerapan aturan.
Kampus dapat menjadi tempat awal edukasi pajak
Perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk membantu mahasiswa mengenal perpajakan melalui pembelajaran, seminar, diskusi, dan simulasi kasus sederhana. Edukasi tersebut tidak harus terbatas pada mahasiswa program studi akuntansi atau perpajakan.
Mahasiswa dari berbagai bidang dapat memperoleh manfaat dari pemahaman dasar mengenai pajak atas penghasilan, administrasi pekerjaan, dan pelaporan yang relevan. Materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan calon pekerja, pelaku usaha, maupun mahasiswa yang tertarik membangun karier di bidang digital.
Pembelajaran yang menggunakan contoh kehidupan sehari-hari juga dapat membantu mahasiswa memahami hubungan antara teori dan praktik. Misalnya, mahasiswa dapat mempelajari contoh slip gaji, bukti potong, pencatatan penghasilan freelance, dan prosedur pelaporan melalui panduan resmi.
Dengan demikian, edukasi perpajakan tidak hanya berfokus pada penguasaan peraturan, tetapi juga membangun kebiasaan tertib administrasi dan kesadaran terhadap tanggung jawab sebagai wajib pajak.
Melek pajak merupakan bekal memasuki dunia kerja
Memasuki dunia kerja membawa tanggung jawab baru, termasuk dalam mengelola penghasilan dan memahami dokumen administrasi. Mahasiswa yang mempersiapkan diri sejak kuliah akan lebih terbantu ketika harus memahami potongan gaji, menyimpan bukti penghasilan, atau mencari informasi tentang kewajiban perpajakan.
Kesadaran pajak juga tidak seharusnya dibangun hanya ketika seseorang menghadapi tenggat pelaporan. Pemahaman yang baik perlu dikembangkan melalui pembelajaran berkelanjutan dan kebiasaan memeriksa informasi yang benar.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak harus menguasai seluruh peraturan perpajakan sebelum lulus. Namun, mereka perlu memiliki pengetahuan dasar, mengetahui sumber informasi yang tepercaya, dan memahami kapan harus mencari bantuan lebih lanjut.
Melek pajak sejak bangku kuliah merupakan salah satu bentuk persiapan memasuki dunia kerja. Dengan bekal tersebut, mahasiswa dapat melangkah menuju kehidupan profesional dengan pemahaman yang lebih baik mengenai penghasilan, administrasi, dan tanggung jawab perpajakan.
Oleh: Meiman Dermawan Buulolo
