Transaksi Digital Mudah, Mengapa Mengatur Uang Makin Sulit?

Mahasiswa Akuntansi Perpajakan di Universitas Pamulang, Content Writer & Penulis isu UMKM, Bisnis Digital & Ekonomi, Founder Meimann.ly
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Meiman Dermawan Buulolo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transaksi digital kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Membayar makanan, membeli kebutuhan rumah tangga, berbelanja melalui marketplace, hingga membayar transportasi dapat dilakukan hanya dengan menggunakan ponsel. Kemudahan ini membuat transaksi lebih praktis, tetapi juga menimbulkan tantangan dalam mengatur keuangan pribadi.
Tanpa perencanaan yang baik, seseorang bisa kehilangan kendali atas pengeluaran bulanannya. Pembayaran yang dilakukan berkali-kali dalam jumlah kecil mungkin terasa ringan, tetapi jika terus berulang, total pengeluarannya dapat menjadi besar.
Kemudahan Pembayaran Mengubah Kebiasaan Belanja
Perkembangan teknologi keuangan telah mengubah cara masyarakat melakukan pembayaran. Dompet digital, mobile banking, dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) membuat transaksi semakin mudah dilakukan di berbagai tempat.
Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2025 mencatat bahwa volume transaksi pembayaran digital sepanjang 2025 mencapai 49,76 miliar transaksi. Data ini menunjukkan luasnya penggunaan layanan pembayaran digital dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun, kemudahan transaksi tidak otomatis membuat seseorang lebih mampu mengelola uang. Pembayaran yang cepat dan praktis tetap perlu disertai kesadaran mengenai jumlah uang yang dikeluarkan.
Mengapa Pengeluaran Digital Sulit Dikendalikan?
Salah satu tantangan dalam transaksi digital adalah seseorang dapat melakukan pembayaran tanpa harus mengeluarkan uang tunai secara langsung. Akibatnya, sebagian orang mungkin kurang memperhatikan berapa banyak uang yang telah digunakan.
Contohnya, membeli minuman, memesan makanan melalui aplikasi, membayar langganan hiburan, dan berbelanja karena promosi. Setiap transaksi mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan berulang kali, jumlahnya dapat memengaruhi anggaran bulanan.
Selain itu, promosi, potongan harga, dan gratis ongkir dapat mendorong seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Penghematan dari diskon belum tentu benar-benar terjadi apabila seseorang justru membeli lebih banyak barang.
Karena itu, masalahnya bukan terletak pada teknologi pembayaran itu sendiri, melainkan pada kebiasaan menggunakan layanan tersebut tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan keuangan.
Data Literasi Keuangan di Indonesia
Pentingnya pengelolaan uang juga berkaitan dengan literasi keuangan masyarakat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa tingkat penggunaan atau akses terhadap layanan keuangan lebih tinggi dibandingkan tingkat literasi keuangan masyarakat. Meski demikian, kedua indeks itu mengukur aspek yang berbeda dan tidak membuktikan bahwa pembayaran digital secara langsung menyebabkan seseorang boros.
Angka tersebut dapat menjadi pengingat bahwa akses terhadap layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman dan perilaku keuangan yang baik. Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan layanan pembayaran, tetapi juga perlu memahami cara mengendalikan pengeluaran.
Cara Mengatur Keuangan di Era Digital
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan agar transaksi digital tidak membuat keuangan sulit dikendalikan.
Pertama, buat anggaran bulanan. Tentukan jumlah uang untuk kebutuhan pokok, tagihan, transportasi, tabungan, dan hiburan. Dengan anggaran yang jelas, seseorang dapat mengetahui batas pengeluaran yang sesuai dengan kemampuannya.
Kedua, catat setiap transaksi. Pencatatan dapat dilakukan melalui aplikasi keuangan, buku, atau lembar kerja sederhana. Riwayat transaksi pada aplikasi pembayaran juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kebiasaan belanja.
Ketiga, bedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli barang karena diskon atau promosi, tanyakan apakah barang tersebut memang dibutuhkan. Jika tidak mendesak, pembelian dapat ditunda untuk menghindari keputusan impulsif.
Keempat, batasi pengeluaran tambahan. Seseorang dapat menetapkan anggaran khusus untuk jajan, hiburan, dan belanja daring. Ketika batas anggaran tercapai, pembelian yang tidak mendesak sebaiknya ditunda.
Kelima, sisihkan tabungan sesuai kemampuan. Jika memungkinkan, tentukan jumlah tabungan sejak awal menerima penghasilan. Besarnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan pokok, kewajiban, dan kondisi keuangan masing-masing.
Teknologi Harus Diimbangi dengan Kesadaran Finansial
Transaksi digital memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Pembayaran menjadi lebih praktis, riwayat transaksi lebih mudah diperiksa, dan berbagai layanan keuangan dapat diakses dengan cepat.
Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal apabila masyarakat memiliki kebiasaan mengatur keuangan secara disiplin. Teknologi dapat mempermudah pembayaran, tetapi keputusan mengenai apa yang perlu dibeli dan berapa banyak uang yang boleh dikeluarkan tetap berada di tangan penggunanya.
Pada akhirnya, mengelola keuangan di era digital bukan berarti harus menghindari pembayaran nontunai. Hal yang lebih penting adalah menggunakan teknologi secara bijak, memantau pengeluaran, dan membuat keputusan berdasarkan kebutuhan serta kemampuan finansial.
Kemudahan transaksi seharusnya membantu kehidupan menjadi lebih teratur, bukan membuat pengeluaran semakin sulit dikendalikan.
Oleh: Meiman Dermawan Buulolo
