Konten dari Pengguna

Menelusuri Harmoni Keberagaman Melalui Peta Tempat Ibadah dan Situs Budaya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ETNA IYANA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peta Indonesia. Foto: Ardy Dwi Prayoga/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peta Indonesia. Foto: Ardy Dwi Prayoga/Shutterstock

Kerukunan masyarakat dapat dikenali melalui berbagai cara, salah satunya melalui ruang tempat mereka hidup. Dukuh Sukorejo merupakan salah satu dukuh di Desa Kranggan yang dikenal memiliki kehidupan masyarakat yang rukun di tengah keberagaman agama dan budaya. Keberadaan masjid, musala, pura, serta situs budaya menunjukkan bahwa ruang di wilayah ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat beraktivitas, tetapi juga menjadi ruang yang memperkuat kehidupan sosial masyarakat. Keragaman tersebut menjadi salah satu potensi lokal yang penting untuk didokumentasikan. Penyusunan peta dilakukan sebagai media informasi yang memperkenalkan potensi spasial, sosial, dan budaya Dukuh Sukorejo kepada masyarakat.

Peserta Universitas Negeri Malang Belajar Bersama Masyarakat (UM BBM) Desa Kranggan menyusun Peta Persebaran Tempat Ibadah dan Situs Budaya untuk mendokumentasikan berbagai lokasi penting yang ada di Dukuh Sukorejo. Pemetaan dilakukan melalui survei lapangan dengan pengambilan koordinat pada setiap objek, kemudian diolah menggunakan perangkat lunak QGIS dengan citra dasar Google Satellite. Pemetaan difokuskan pada Dukuh Sukorejo karena wilayah ini memiliki keberagaman tempat ibadah serta keterkaitan dengan situs budaya yang masih dimanfaatkan dalam tradisi Bersih Desa. Hasil pemetaan tidak hanya menyajikan informasi mengenai letak suatu objek, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara pola permukiman, jaringan jalan, aktivitas masyarakat, dan warisan budaya yang berkembang di wilayah tersebut. Kehadiran peta ini diharapkan dapat membantu masyarakat maupun pengunjung mengenal potensi Dukuh Sukorejo secara lebih mudah.

Peta Persebaran Tempat Ibadah dan Situs Budaya

Peta Persebaran Tempat Ibadah dan Situs Budaya Dukuh Sukorejo, Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Dok. Istimewa

Visualisasi peta memberikan gambaran mengenai hubungan antara lokasi tempat ibadah, situs budaya, permukiman, dan jaringan jalan di Dukuh Sukorejo. Informasi tersebut tidak hanya menunjukkan posisi suatu objek, tetapi juga membantu pembaca memahami pola pemanfaatan ruang oleh masyarakat. Lokasi setiap objek disajikan secara jelas sehingga memudahkan masyarakat maupun pengunjung dalam mengenali tempat-tempat penting yang ada di wilayah tersebut. Dokumentasi lapangan yang disertakan pada peta juga memberikan informasi visual mengenai kondisi setiap lokasi. Penyajian informasi secara spasial membuat peta menjadi lebih mudah dipahami dibandingkan hanya melalui uraian teks.

Pola persebaran tempat ibadah membentuk pola memanjang mengikuti jaringan jalan desa dan kawasan permukiman. Pola tersebut menunjukkan bahwa perkembangan fasilitas ibadah berlangsung seiring dengan perkembangan permukiman masyarakat. Kondisi tersebut memudahkan masyarakat menjangkau tempat ibadah tanpa harus menempuh perjalanan yang jauh. Aksesibilitas yang baik juga mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial secara rutin. Hubungan antara jaringan jalan, permukiman, dan fasilitas ibadah menjadi salah satu karakter spasial Dukuh Sukorejo.

Persebaran Tempat Ibadah dan Kehidupan Sosial Masyarakat

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa Dukuh Sukorejo memiliki satu masjid, empat musala, dan dua pura yang tersebar pada beberapa bagian wilayah. Masjid Nurul Huda menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Muslim, sedangkan empat musala melayani kebutuhan ibadah warga di lingkungan permukiman yang berbeda. Pura Tri Buana Santi dan Pura Taman Sari Jati Luhur menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat Hindu yang tinggal di sekitar wilayah tersebut. Keberadaan tempat-tempat ibadah tersebut menunjukkan bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki ruang untuk menjalankan aktivitas keagamaan sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Persebaran yang saling berdekatan juga memperlihatkan bahwa keberagaman menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tempat ibadah di Dukuh Sukorejo tidak hanya dimanfaatkan untuk melaksanakan ibadah, tetapi juga menjadi pusat berbagai kegiatan sosial masyarakat. Masjid dan musala digunakan sebagai tempat mengaji, musyawarah warga, kegiatan keagamaan, hingga berbagai aktivitas kemasyarakatan lainnya. Pura juga menjadi pusat pelaksanaan upacara keagamaan serta kegiatan umat Hindu yang dilaksanakan secara berkala. Interaksi yang berlangsung melalui berbagai kegiatan tersebut memperkuat hubungan antar masyarakat tanpa memandang perbedaan agama. Kehidupan sosial yang harmonis inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama masyarakat Dukuh Sukorejo.

Kehidupan masyarakat di Dukuh Sukorejo tidak hanya tercermin dari keberadaan tempat ibadah, tetapi juga dari interaksi yang berlangsung di dalamnya. Berbagai kegiatan seperti gotong royong, musyawarah, pengajian, dan peringatan hari besar keagamaan menjadi ruang pertemuan masyarakat. Hubungan sosial tersebut membentuk rasa saling menghormati antar warga meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda. Nilai toleransi tumbuh melalui kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari karakter masyarakat Dukuh Sukorejo. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerukunan tidak hanya terlihat dari keberadaan bangunan ibadah, tetapi juga dari hubungan sosial yang terjalin di antara masyarakat.

Lokasi yang Dipetakan. Dok. Istimewa

Situs Budaya sebagai Bagian dari Identitas Masyarakat

Peta juga menampilkan Punden Agung Taman Sari Budi Luhur dan Prasasti Kranggan sebagai bagian dari kekayaan budaya Desa Kranggan. Kedua situs tersebut berada di wilayah sekitar Dukuh Sukorejo, tetapi masih memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat. Tradisi Bersih Desa menjadi salah satu kegiatan yang masih melibatkan kedua lokasi tersebut sebagai bagian dari rangkaian acara. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menjaga hubungan dengan warisan sejarah dan budaya yang dimiliki desa. Nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun tetap terjaga melalui berbagai aktivitas yang dilakukan bersama.

Punden Agung Taman Sari Budi Luhur dan Prasasti Kranggan tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga masih dimanfaatkan oleh masyarakat dalam pelaksanaan tradisi Bersih Desa. Keberadaan kedua lokasi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap menjaga hubungan dengan warisan budaya yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Tradisi yang masih berlangsung hingga saat ini menjadikan kedua situs tersebut tetap memiliki fungsi sosial dan budaya bagi masyarakat Desa Kranggan.

Peta sebagai Media Informasi Desa

Peta Persebaran Tempat Ibadah dan Situs Budaya tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk lokasi, tetapi juga menjadi media informasi yang menggambarkan karakter wilayah Dukuh Sukorejo. Informasi spasial yang disajikan mampu menunjukkan hubungan antara persebaran tempat ibadah, pola permukiman, jaringan jalan, dan situs budaya dalam satu tampilan yang mudah dipahami. Penyajian tersebut membantu masyarakat mengenali potensi wilayah secara lebih cepat karena informasi disampaikan melalui peta dan dokumentasi lapangan. Kehadiran peta juga memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan pelestarian budaya. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi pada website Desa Kranggan.

Pemanfaatan peta dalam media digital desa juga mendukung upaya promosi potensi wilayah kepada masyarakat yang lebih luas. Pengunjung dapat mengenali lokasi tempat ibadah dan situs budaya sebelum datang ke Dukuh Sukorejo. Masyarakat desa juga memperoleh dokumentasi spasial yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi maupun pengembangan potensi desa pada masa mendatang. Penyajian informasi berbasis peta membuat potensi desa lebih mudah dipahami dibandingkan hanya melalui penjelasan naratif. Kehadiran peta ini diharapkan mampu memperkuat identitas Desa Kranggan sebagai wilayah yang memiliki kehidupan masyarakat yang harmonis serta tetap menjaga warisan budayanya.

Penutup

Peta Persebaran Tempat Ibadah dan Situs Budaya Dukuh Sukorejo menunjukkan bahwa ruang mampu menggambarkan kehidupan masyarakat secara utuh. Persebaran tempat ibadah yang mengikuti kawasan permukiman mencerminkan kemudahan akses masyarakat dalam menjalankan aktivitas keagamaan. Keberadaan pura, masjid, musala, serta situs budaya menunjukkan bahwa keberagaman dan pelestarian budaya tumbuh berdampingan dalam kehidupan masyarakat. Informasi yang disajikan melalui peta diharapkan dapat menjadi media edukasi sekaligus promosi potensi Desa Kranggan kepada masyarakat yang lebih luas. Kerukunan dan budaya yang terus terjaga menjadi modal penting dalam membangun identitas Desa Kranggan di masa mendatang.