MENEMBUS ARUS, MERAJUT ASA: PERJALANAN RANDY MENJADI MANTRI BRI

Focuss, Learn and Give My Best. Penulis bekerja di salah satu perusahaan BUMN terbesar di Indonesia. Penulis memiliki hobi food and travelling.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Matahari baru saja menampakkan semburat jingganya di ufuk timur ketika Randy (32) memeriksa Honda Verza-nya menyala dengan sempurna. Sudah dua tahun ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang Mantri BRI Unit Tumbang Samba, ujung tombak bank yang bertugas mendekatkan layanan perbankan hingga ke ujung Sungai Samba.
Bagi sebagian orang, tugas seorang mantri mungkin hanya sebatas mencatat pinjaman dan mengumpulkan angsuran. Namun bagi Randy, tugas ini adalah sebuah misi kemanusiaan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat pedalaman yang terisolasi oleh bentang alam dan sungai.

Tantangan Dua Aliran Sungai
Hari itu, agenda Randy cukup padat. Ia harus melakukan pendampingan dan penagihan serta survei pinjaman kepada para pelaku usaha mikro di seberang Sungai Samba. Medan yang harus ia tempuh bukanlah jalanan beraspal mulus, melainkan labirin perairan yang menantang nyali.
Perjalanan dimulai dengan menyusuri Sungai Katingan. Arus di sungai ini terkenal tenang namun menyimpan pusaran air di beberapa tikungannya. Randy melajukan perahunya dengan penuh perhitungan, menyapa warga yang beraktivitas di atas lanting (rumah aping) di pinggir sungai.
Tak berhenti di situ, tantangan bertambah berat ketika ia harus memasuki Sungai Samba, anak sungai yang arusnya jauh lebih deras dengan banyak batang kayu besar yang melintang di tengah alur. Dengan cekatan, Randy mengemudikan ketintingnya menghindari kayu-kayu tersebut, memastikan tas kedap udara yang berisi dokumen nasabah dan perangkat perbankan digitalnya tetap aman.
Ujian Terberat di Sungai Harapan
Puncak dari perjalanan hari itu adalah ketika Randy harus melintasi Sungai Samba. Nama sungai ini seolah menjadi simbol doa bagi warga setempat. Namun hari itu, Sungai Samba sedang tidak bersahabat. Hujan lebat dari malam sebelumnya membuat debit air meluap tinggi dan arusnya menerjang garang.
Meski sempat ragu, bayangan Pak Sori, seorang Pekebun Sawit yang sangat membutuhkan tambahan modal untuk menyelamatkan usahanya, membuat tekad Randy bulat. Dengan membaca doa, ia menumpangi perahunya melawan arus Sungai Samba yang bergemuruh.
Guncangan hebat beberapa kali menghantam perahu kecilnya. Jantungnya berdegup kencang, namun fokusnya tidak goyah. Berbekal pengalaman dua tahun blusukan di lapangan, Randy berhasil menaklukkan arus dan menyeberang dengan selamat sampai ke dermaga tujuan.
Buah Manis Pengabdian
Kedatangan Randy disambut hangat oleh Pak Sori dan beberapa warga Desa Tura. Di sebuah warung sederhana beratapkan rumbia, Randy tidak hanya memproses pengajuan pinjaman Kupedes BRI untuk mengembangkan Perkebunan Sawit, tetapi juga mendampingi mereka cara menggunakan aplikasi Brimo agar transaksi bisa lebih mudah di masa depan.
"Menjadi mantri bukan sekadar bekerja di balik meja atau mengejar target kantor. Ini tentang hadir nyata di tengah masyarakat, merasakan denyut nadi perjuangan mereka, dan membuktikan bahwa kehadiran BRI mampu memberikan harapan hingga ke sudut-sudut terdalam negeri," ujar Randy sambil tersenyum menatap air Sungai Samba yang kini tampak lebih tenang.
Dua tahun sudah Randy melangkah, dan ribuan kilometer sungai telah ia belah. Di setiap percikan air dan senyum para nasabah yang usahanya berhasil bangkit, Randy menemukan alasan terkuat untuk terus melaju, membawa misi literasi dan inklusi keuangan tanpa kenal lelah.
