Mengapa Berita Negatif Lebih Mudah Menarik Perhatian?
Tulisan dari asrina mawarni'ma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat membuka media sosial, kita sering menemukan berita tentang kecelakaan, konflik, kejahatan, atau berbagai peristiwa yang membuat khawatir. Berita seperti itu terkadang membuat kita berhenti menggulir layar dan membaca sampai selesai. Bahkan, tidak jarang kita membuka kolom komentar untuk mengetahui tanggapan orang lain.
Sebaliknya, berita tentang keberhasilan seseorang, kegiatan sosial, atau kabar baik terkadang hanya dibaca sekilas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa berita negatif lebih mudah menarik perhatian dibandingkan berita positif?
Manusia cenderung lebih memperhatikan informasi negatif
Dalam psikologi, terdapat istilah negativity bias, yaitu kecenderungan seseorang memberikan perhatian lebih besar terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif. Hal ini bukan berarti manusia selalu menyukai hal buruk. Informasi negatif sering dianggap lebih penting karena dapat berkaitan dengan ancaman, risiko, atau sesuatu yang perlu diwaspadai.
Sebagai contoh, ketika membaca berita tentang kondisi jalan yang berbahaya, seseorang mungkin langsung memperhatikan lokasi dan penyebab kejadian tersebut. Informasi itu dianggap penting karena dapat membantu dirinya lebih berhati-hati ketika berkendara. Sementara itu, berita tentang kegiatan yang berjalan lancar mungkin tidak menimbulkan dorongan yang sama untuk segera mencari tahu lebih jauh.
Judul berita juga memengaruhi rasa ingin tahu
Perhatian pembaca tidak hanya dipengaruhi oleh isi berita, tetapi juga cara informasi tersebut disampaikan. Judul yang mengandung kata-kata negatif atau menggambarkan peristiwa mengejutkan sering kali membuat orang ingin mengetahui kelanjutannya.
Penelitian Robertson dan rekan-rekannya (2023) yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behaviour menemukan bahwa penggunaan kata negatif dalam judul berita dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengeklik artikel. Penelitian tersebut menganalisis lebih dari 105.000 variasi judul berita dengan sekitar 370 juta tayangan. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap tambahan satu kata negatif pada judul dengan panjang rata-rata dapat meningkatkan rasio klik sekitar 2,3 persen.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pilihan kata dalam judul memiliki pengaruh terhadap perhatian pembaca. Dengan kata lain, cara sebuah berita dikemas dapat menentukan apakah seseorang tertarik untuk membacanya atau justru melewatinya.
Ketika terlalu banyak berita negatif dikonsumsi
Membaca berita negatif sebenarnya tidak selalu buruk. Informasi tentang bencana, masalah kesehatan, atau peristiwa sosial dapat membantu kita memahami keadaan dan meningkatkan kewaspadaan. Namun, terlalu sering terpapar berita yang mengandung konflik, kekerasan, dan berbagai masalah dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosional.
Misalnya, seseorang yang setiap hari membaca berita buruk mungkin mulai merasa khawatir ketika membuka media sosial. Bahkan, setelah membaca satu berita, ia terdorong mencari berita serupa lainnya. Kebiasaan terus-menerus mencari dan membaca informasi negatif ini dapat membuat pikiran dipenuhi berbagai hal yang mengganggu kenyamanan.
Penelitian Soroka, Fournier, dan Nir (2019) yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa rata-rata responden dari 17 negara memberikan respons psikologis yang lebih kuat terhadap berita negatif dibandingkan berita positif. Meskipun demikian, respons setiap orang tidak selalu sama.
Menjadi pembaca yang lebih bijak
Kita tidak perlu menghindari seluruh berita negatif karena informasi tersebut tetap penting untuk diketahui. Namun, kita perlu lebih bijak dalam memilih informasi yang dikonsumsi. Tidak semua berita yang menarik perhatian harus langsung dipercaya atau dibagikan.
Sebelum memberikan tanggapan, ada baiknya membaca isi berita secara menyeluruh, memeriksa sumber informasi, dan membandingkannya dengan pemberitaan dari sumber tepercaya lainnya. Kita juga dapat membatasi waktu membaca berita apabila mulai merasa tidak nyaman.
Menurut saya, menjadi pembaca yang bijak bukan berarti hanya memilih berita yang menyenangkan. Kita tetap perlu mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi, tetapi jangan sampai perhatian kita hanya dipenuhi oleh kabar buruk.
Berita negatif memang sering membuat orang berhenti sejenak dan mencari tahu lebih banyak. Namun, berita positif juga memiliki nilai penting yang tidak seharusnya diabaikan. Dengan lebih selektif dalam membaca informasi, kita dapat tetap mengikuti perkembangan keadaan tanpa membiarkan berita yang dikonsumsi menguasai pikiran dan perasaan.

