Mengapa Kritik Lebih Membekas daripada Pujian?
Tulisan dari Ulya Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamu sengaja memilih baju yang paling bagus hari itu. Berdiri lebih lama di depan kaca, mengganti pakaian beberapa kali, merapikan rambut, lalu akhirnya merasa, "Oke, hari ini gue kelihatan bagus.” Ketika sampai di tempat tujuan, beberapa orang memujimu. Ada yang bilang bajumu bagus, ada yang bilang cocok, ada juga yang mengatakan kamu terlihat berbeda hari itu. Kamu senang. Rasanya seperti usaha kecilmu untuk tampil baik akhirnya mendapatkan pengakuan. Sampai seseorang berkata, “Tapi menurut gue bajunya kurang cocok deh.” Sesederhana itu. Pujian yang kamu dengar sebelumnya tidak hilang. Tidak ada satu pun orang yang menarik kembali perkataannya. Kamu bahkan masih tahu bahwa beberapa orang benar-benar menganggap penampilanmu bagus. Namun, entah kenapa, justru satu komentar terakhir itu yang terus teringat. Sepanjang perjalanan pulang, kamu memikirkannya. Sesampainya di rumah, kamu kembali melihat pakaian yang tadi membuatmu percaya diri. Tiba-tiba muncul pertanyaan, “Emang bajunya sejelek itu?” Lalu muncul pertanyaan lain, “Jangan-jangan yang lain juga sebenarnya mikir begitu?” Padahal, beberapa jam sebelumnya kamu baik-baik saja. Bukan pujian yang mengubah suasana hatimu hari itu. Justru satu komentar negatif. Kenapa? Mungkin karena sejak awal kita tidak hanya ingin terlihat. Kita juga ingin diakui. Manusia hidup di tengah penilaian sosial. Kita tidak hanya membentuk pandangan tentang diri sendiri dari apa yang kita pikirkan, tetapi juga dari bagaimana orang lain merespons keberadaan dan apa yang kita tampilkan. Kita ingin diterima, dihargai, dan merasa bahwa apa yang kita lakukan memiliki nilai. Itulah sebabnya kita bisa begitu serius memilih pakaian sebelum pergi, mengulang presentasi berkali-kali, memikirkan caption sebelum mengunggah sesuatu, atau merasa bangga ketika seseorang mengapresiasi hasil pekerjaan kita. Kita mungkin tidak melakukan semuanya demi mendengar kata "bagus” atau "cocok" tetapi kita tahu bahwa ketika sesuatu yang kita tampilkan bertemu dengan orang lain, akan ada penilaian. Dan penilaian itu bisa berarti sesuatu, terutama ketika menyentuh bagian diri yang memang sedang ingin kita banggakan. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Manusia memang memiliki dorongan untuk diterima, dihargai, dan merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Dalam Need to Belong Theory, Roy F. Baumeister dan Mark R. Leary menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal yang bermakna. Hal ini juga berkaitan dengan cara kita memandang diri sendiri. Ketika penerimaan dari lingkungan terasa penting, respons orang lain dapat ikut memengaruhi bagaimana kita menilai diri. Kita bisa merasa lebih percaya diri ketika mendapatkan pengakuan atau pujian. Sebaliknya, sebuah komentar negatif dapat terasa lebih berat ketika menyentuh sesuatu yang memang penting bagi kita.Hal ini juga terlihat dalam penelitian MacDonald, Saltzman, dan Leary mengenai social approval dan self-esteem. Mereka menjelaskan bahwa evaluasi sosial dapat memiliki arti yang lebih besar ketika menyangkut atribut yang dianggap penting bagi penerimaan atau penolakan sosial. Artinya, komentar tentang baju tidak selalu benar-benar hanya tentang baju. Kalau penampilan sedang menjadi sesuatu yang penting bagi kita, komentar tentang penampilan bisa terasa jauh lebih personal. Kalau kita sedang berusaha membuktikan bahwa kita mampu berbicara di depan banyak orang, kritik terhadap presentasi bisa terasa lebih berat. Begitu pula ketika kita baru saja membagikan sesuatu yang sangat kita banggakan, respons negatif terhadapnya dapat terasa seperti penolakan terhadap bagian diri yang baru saja kita tunjukkan. Di titik itu, sebuah kritik bisa berubah makna. Komentar bahwa pakaian kita kurang cocok perlahan dapat diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa kita tidak memiliki selera. Kritik terhadap presentasi dapat berubah menjadi keyakinan bahwa kita memang tidak pandai berbicara. Begitu pula komentar tentang foto yang dianggap biasa saja dapat membuat kita merasa tidak menarik. Padahal, kritik terhadap satu hal yang kita lakukan tidak otomatis menjadi penilaian terhadap keseluruhan diri kita. Namun, ketika sebuah komentar menyentuh gambaran yang sedang kita bangun tentang diri sendiri, batas antara keduanya bisa menjadi kabur. Dan di sinilah penilaian sosial mulai terasa lebih rumit. Kita sering mengatakan bahwa kita tidak peduli pada pendapat orang lain. “Terserah mereka mau ngomong apa.” “Gue nggak hidup buat menyenangkan orang." Kalimat-kalimat itu memang bisa benar. Kita tidak mungkin memikirkan semua pendapat yang datang kepada kita. Namun, bukan berarti satu kritik selalu mengalahkan sepuluh pujian. Manusia tidak bekerja seperti kalkulator yang sekadar menjumlahkan komentar positif dan negatif.
Kita peduli pada orang tertentu. Orang yang kita kagumi, orang yang kita sayangi, orang yang pendapatnya kita percaya, atau bahkan orang asing yang kebetulan mengatakan sesuatu tepat di bagian diri yang sedang kita pertanyakan. Penilaian yang sama pun belum tentu memberikan dampak yang sama kepada setiap orang. Satu orang mungkin bisa mendengar komentar tentang penampilannya lalu melupakannya beberapa menit kemudian, sementara bagi orang lain, komentar yang sama bisa terus teringat sepanjang hari. Bukan karena salah satunya terlalu sensitif. Bisa jadi, hal yang dikomentari memang memiliki arti yang berbeda bagi masing-masing orang. Dan ketika sesuatu memiliki arti besar bagi cara kita melihat diri sendiri, satu kritik bisa terasa jauh lebih besar daripada sekadar sebuah komentar. Lalu muncul pertanyaan lain: kalau kita menerima banyak pujian dan hanya satu kritik, mengapa kritik itu sering terasa jauh lebih berisik? Salah satu penjelasannya adalah negativity bias. Dalam berbagai konteks, informasi negatif cenderung memperoleh perhatian dan pengaruh psikologis yang lebih besar dibandingkan informasi positif. Hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa pengalaman buruk tidak selalu terasa seimbang dengan pengalaman baik yang jumlahnya lebih banyak. Namun, bukan berarti satu kritik selalu mengalahkan sepuluh pujian. Manusia tidak bekerja seperti kalkulator yang sekadar menjumlahkan komentar positif dan negatif. Siapa yang memberikan komentar, apa yang dikomentari, seberapa penting hal tersebut bagi kita, dan kondisi kita ketika menerimanya dapat ikut menentukan seberapa besar dampaknya. Karena itu, mungkin persoalannya bukan sekadar bahwa kritik itu negatif. Persoalannya adalah kritik tersebut datang tepat ke tempat yang sedang kita gunakan untuk mencari pengakuan. Kita ingin terlihat bagus, lalu seseorang mengatakan kita tidak terlihat bagus. Kita ingin dianggap pintar, lalu seseorang mempertanyakan kemampuan kita. Kita ingin merasa diterima, lalu seseorang memberikan respons yang membuat kita merasa ditolak. Pujian cenderung lebih mudah kita terima tanpa banyak pertanyaan. Kita mendengarnya, merasa senang, lalu melanjutkan hari. Sebaliknya, kritik membuat kita mencari tahu apa arti penilaian tersebut terhadap diri kita. Kita mulai mempertanyakan apakah komentar itu benar, apakah orang lain juga berpikir demikian, atau apakah selama ini ada sesuatu yang salah dari apa yang kita tampilkan. Semakin sering pertanyaan itu berputar di kepala, semakin besar pula ruang yang diberikan kepada komentar tersebut. Namun, ada satu hal yang penting untuk dibedakan: kritik tidak selalu sama dengan penghinaan. Komentar seperti “Presentasimu tadi kurang jelas di bagian akhir” merupakan umpan balik terhadap sesuatu yang kita lakukan. Kita mungkin tidak suka mendengarnya, tetapi informasi tersebut masih bisa digunakan untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, kalimat seperti “Kamu memang nggak bisa presentasi” tidak lagi membicarakan satu perilaku, tetapi membuat penilaian terhadap kemampuan seseorang secara keseluruhan. Begitu pula dengan komentar tentang penampilan. Mengatakan bahwa warna tertentu mungkin kurang cocok dengan pakaian yang kita kenakan berbeda dengan mengatakan bahwa kita memang tidak bisa berpakaian. Yang pertama memberi kita sesuatu untuk dipertimbangkan. Yang kedua bisa membuat kita mempertanyakan diri sendiri. Karena itu, menerima kritik bukan berarti kita harus menjadi orang yang kebal terhadap penilaian orang lain. Kita tetap boleh merasa tidak nyaman, sedih ketika mendengar sesuatu yang menyakitkan, atau mengakui bahwa komentar seseorang benar-benar memengaruhi suasana hati kita. Yang perlu kita pelajari mungkin bukan bagaimana supaya kritik tidak pernah membekas, melainkan bagaimana supaya kritik tidak berubah menjadi identitas. Kita bisa mengakui bahwa ada bagian yang memang perlu diperbaiki tanpa harus menyimpulkan bahwa diri kita memang tidak cukup baik. Kita juga bisa menerima bahwa seseorang tidak menyukai apa yang kita lakukan tanpa mengubahnya menjadi keyakinan bahwa tidak akan ada orang yang menyukai kita. Karena pada akhirnya, di balik keinginan kita untuk dipuji, ada sesuatu yang jauh lebih manusiawi. Kita ingin dilihat, diterima, dan merasa bahwa keberadaan serta apa yang kita lakukan memiliki nilai bagi orang lain. Mungkin itu sebabnya kritik bisa terasa begitu besar. Bukan hanya karena kata-katanya negatif, tetapi karena kata-kata tersebut kadang menyentuh bagian diri yang sedang ingin kita yakini sebagai sesuatu yang berharga. Itulah mengapa satu kritik bisa tinggal lebih lama daripada sepuluh pujian. Bukan karena kita tidak menghargai pujian, bukan pula karena semua kritik benar. Manusia tidak hanya mendengar apa yang dikatakan orang lain, tetapi juga berusaha memahami apa arti perkataan tersebut tentang dirinya. Pada akhirnya, kita tidak perlu belajar untuk berhenti peduli pada penilaian orang lain. Kita hanya perlu belajar memilah mana yang memang perlu diperbaiki dan mana yang cukup kita terima sebagai sebuah pendapat. Kita boleh menerima bahwa ada bagian dari diri atau sesuatu yang kita lakukan yang masih perlu diperbaiki. Namun, hal itu tidak harus berubah menjadi kesimpulan bahwa kita tidak cukup baik. Sebab, menerima kritik bukan berarti menyerahkan penilaian tentang diri kita sepenuhnya kepada orang lain. Kita tetap bisa mendengarkan, mempertimbangkan, lalu memilih mana yang memang perlu diperbaiki dan mana yang cukup kita terima sebagai sebuah pendapat. Mungkin, pada akhirnya, yang perlu kita pelajari bukan bagaimana membuat kritik tidak pernah membekas, melainkan bagaimana memastikan bahwa satu kritik tidak memiliki cukup ruang untuk menentukan siapa diri kita. Karena ada perbedaan antara “Ada sesuatu yang bisa aku perbaiki” dan “Ada sesuatu yang salah dengan diriku.” Dan keduanya tidak pernah benar-benar sama.

