Konten dari Pengguna

Mengapa Uang Terasa Makin Sedikit meskipun Penghasilan Tetap?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reyhan Abdul Wahab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang menghitung uang tunai dalam dompet untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Foto: Ahsanjaya/Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang menghitung uang tunai dalam dompet untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Foto: Ahsanjaya/Pexels.

Pernah merasa uang bulanan sekarang lebih cepat habis dibandingkan tahun lalu, padahal penghasilan tidak banyak berubah? Uang yang biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli makanan, membayar transportasi, hingga menyisihkan sedikit tabungan, kini terasa semakin terbatas.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan cara seseorang mengatur keuangan. Ada faktor ekonomi yang ikut memengaruhinya, salah satunya adalah inflasi.

Inflasi menjadi salah satu pembahasan penting dalam ekonomi makro karena berkaitan langsung dengan harga barang dan jasa, daya beli masyarakat, serta kondisi perekonomian secara keseluruhan. Memahami inflasi dapat membantu kita melihat mengapa jumlah uang yang sama belum tentu mampu memenuhi kebutuhan yang sama pula.

Memahami Inflasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Secara sederhana, inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan. Ketika inflasi terjadi, nilai nominal uang tidak otomatis berkurang, tetapi kemampuan uang tersebut untuk membeli barang dan jasa dapat menurun.

Sebagai contoh, seseorang memiliki uang Rp100.000 untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Ketika harga barang masih relatif rendah, uang tersebut mungkin cukup untuk membeli beberapa kebutuhan sekaligus. Namun, ketika harga-harga meningkat, uang dengan jumlah yang sama bisa jadi hanya cukup untuk membeli sebagian kebutuhan tersebut.

Situasi ini memperlihatkan bahwa nilai uang tidak hanya dilihat dari jumlah nominalnya, tetapi juga dari barang dan jasa yang dapat diperoleh dengan uang tersebut.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%, sedangkan inflasi bulanan mencapai 0,30%. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan tingkat harga secara agregat dibandingkan periode pembandingnya.

Meski demikian, angka inflasi tidak berarti semua barang mengalami kenaikan harga dengan persentase yang sama. Harga beras, transportasi, pakaian, dan kebutuhan lainnya dapat mengalami perubahan yang berbeda. Dampak yang dirasakan setiap rumah tangga pun bergantung pada jenis kebutuhan dan pola konsumsinya.

Pendapatan Tetap, tetapi Daya Beli Berubah

Untuk memahami persoalan ini, kita perlu membedakan pendapatan nominal dan pendapatan riil.

Pendapatan nominal adalah jumlah uang yang diterima seseorang, misalnya gaji sebesar Rp4.000.000 per bulan. Sementara itu, pendapatan riil menggambarkan kemampuan pendapatan tersebut untuk membeli barang dan jasa setelah memperhitungkan perubahan harga.

Jika gaji seseorang tetap Rp4.000.000, tetapi harga berbagai kebutuhan meningkat, kemampuan belanjanya dapat menurun. Dengan kata lain, pendapatan nominalnya tidak berubah, tetapi daya beli riilnya berpotensi melemah.

Kondisi ini menjadi lebih terasa ketika pengeluaran terbesar seseorang dialokasikan untuk kebutuhan pokok, biaya tempat tinggal, transportasi, dan pendidikan. Kenaikan pada beberapa kebutuhan tersebut dapat mengurangi uang yang tersisa untuk hiburan, tabungan, maupun investasi.

Oleh karena itu, persoalan daya beli tidak cukup dinilai hanya dengan melihat besarnya penghasilan. Kita juga perlu memperhatikan perubahan biaya hidup dan seberapa besar kenaikan pendapatan mampu mengimbanginya.

Mengapa Kenaikan Harga Bisa Terjadi?

Dalam ekonomi makro, inflasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Pertama, meningkatnya permintaan terhadap barang dan jasa. Ketika permintaan tumbuh lebih cepat daripada kemampuan produksi untuk memenuhinya, tekanan kenaikan harga dapat muncul.

Kedua, meningkatnya biaya produksi dan distribusi. Harga bahan baku, energi, transportasi, maupun biaya operasional yang lebih tinggi dapat mendorong produsen atau pedagang menyesuaikan harga jual.

Ketiga, gangguan pasokan. Perubahan cuaca, kendala distribusi, atau terganggunya produksi komoditas tertentu dapat memengaruhi ketersediaan barang dan menyebabkan harga komoditas tersebut meningkat.

Namun, tidak semua kenaikan harga disebabkan oleh faktor yang sama. Penyebab inflasi perlu dilihat berdasarkan kondisi dan data pada periode tertentu. Karena itu, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa setiap kenaikan harga kebutuhan sehari-hari semata-mata disebabkan oleh satu faktor.

Dampaknya terhadap Konsumsi Rumah Tangga

Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam perhitungan produk domestik bruto (PDB), yang digunakan untuk mengukur aktivitas ekonomi suatu negara. Ketika daya beli masyarakat melemah, pola konsumsi dapat ikut berubah.

Misalnya, rumah tangga yang sebelumnya dapat membeli sejumlah kebutuhan dengan leluasa mungkin mulai mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak mendesak. Sebagian orang dapat beralih ke barang yang lebih murah, menunda pembelian barang tahan lama, atau mengurangi anggaran hiburan.

Perubahan tersebut tidak selalu berarti konsumsi nasional langsung mengalami penurunan. Namun, apabila tekanan biaya hidup berlangsung sementara pendapatan tidak bertambah secara memadai, kemampuan sebagian rumah tangga untuk berbelanja dapat semakin terbatas.

Dari sudut pandang ekonomi makro, kondisi ini penting karena konsumsi masyarakat berkaitan dengan permintaan terhadap barang dan jasa, kegiatan produksi, serta pendapatan pelaku usaha. Jika permintaan melemah secara luas, dampaknya dapat menjalar ke aktivitas ekonomi lainnya.

Apa Peran Pemerintah dan Bank Indonesia?

Menjaga kestabilan harga merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan perekonomian. Pemerintah dan Bank Indonesia memiliki peran yang saling melengkapi dalam menghadapi tekanan inflasi.

Bank Indonesia menjalankan kebijakan moneter untuk menjaga kestabilan nilai rupiah, termasuk melalui pengelolaan suku bunga dan likuiditas sesuai dengan kondisi perekonomian. Kebijakan tersebut dapat memengaruhi permintaan, pembiayaan, konsumsi, dan investasi.

Sementara itu, pemerintah dapat berperan melalui kebijakan yang mendukung kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan pangan, serta pengendalian harga komoditas tertentu. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia juga penting untuk mengantisipasi tekanan harga.

Berdasarkan informasi Bank Indonesia, sasaran inflasi Indonesia untuk periode 2025–2027 ditetapkan sebesar 2,5% dengan deviasi 1%. Sasaran ini menjadi salah satu acuan dalam upaya menjaga kestabilan harga. Meski begitu, inflasi aktual dapat berfluktuasi karena dipengaruhi berbagai kondisi ekonomi.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Masyarakat memang tidak dapat mengendalikan inflasi secara langsung. Namun, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menyesuaikan keuangan dengan perubahan biaya hidup.

Pertama, mencatat pengeluaran secara rutin agar terlihat kebutuhan mana yang paling banyak menyerap pendapatan. Kedua, membedakan kebutuhan utama dan pengeluaran yang masih dapat ditunda. Ketiga, membandingkan harga serta mencari alternatif produk tanpa mengabaikan kualitas. Keempat, membangun dana darurat sesuai kemampuan keuangan.

Di sisi lain, meningkatkan keterampilan dan mencari peluang pertumbuhan pendapatan juga dapat membantu memperkuat kondisi keuangan dalam jangka panjang. Langkah-langkah tersebut bukan solusi untuk menghilangkan inflasi, tetapi dapat membantu rumah tangga menghadapi perubahan harga dengan lebih terencana.

Penutup

Uang yang terasa semakin sedikit meskipun penghasilan tetap merupakan fenomena yang dapat dijelaskan melalui konsep inflasi dan daya beli. Ketika harga barang dan jasa meningkat, jumlah uang yang sama berpotensi membeli lebih sedikit kebutuhan dibandingkan sebelumnya.

Karena itu, memahami ekonomi makro bukan hanya penting bagi mahasiswa atau pembuat kebijakan, melainkan juga bagi masyarakat dalam mengambil keputusan sehari-hari. Perubahan harga, pendapatan, dan konsumsi saling berkaitan dalam membentuk kondisi ekonomi.

Pada akhirnya, menjaga daya beli tidak cukup hanya dengan mengatur pengeluaran. Stabilitas harga, pertumbuhan pendapatan, kesempatan kerja, dan kebijakan ekonomi yang tepat juga memiliki peran penting. Sebab, kesejahteraan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar penghasilan yang diterima, tetapi juga oleh seberapa baik penghasilan tersebut mampu memenuhi kebutuhan hidup.

Sumber referensi:

1. Badan Pusat Statistik (BPS). Inflasi Year-on-Year pada September 2026 Sebesar 3,28 Persen. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/10/01/2623/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-september-2026-sebesar-3-28-persen-.html

2. Bank Indonesia. Inflasi dan Penetapan Target Inflasi. https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/moneter/inflasi/Default.aspx