Konten dari Pengguna

Menghadapi Orang Plin-plan

Aunur Rofiq

Aunur Rofiq

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan bingung. Foto: Ronnachai Palas/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan bingung. Foto: Ronnachai Palas/Shutterstock

Menghadapi orang yang plin-plan (imma'ah atau tidak punya pendirian tetap) dalam Islam diajarkan dengan sikap sabar, tegas, dan bijaksana. Tiga kunci utama dalam menghadapinya meliputi bersikap sabar serta tidak mudah terbawa keraguannya, membimbing dengan komunikasi yang jelas, serta menyerahkan keputusan akhir secara tegas agar tidak merugikan diri sendiri.

Panduan Menghadapi Orang Plin-Plan

A. Bersabar dan Tidak Emosional

Sifat ragu-ragu atau plin-plan sering kali bersumber dari kelemahan psikis atau kebingungan diri mereka sendiri, sehingga kita perlu menasihati dengan lembut tanpa mencaci.

Dalil utama yang menganjurkan sikap sabar, tidak emosional, dan berlaku lemah lembut dalam menasihati orang yang sedang bingung atau berbuat kesalahan terdapat dalam QS. Ali 'Imran ayat 159 yang terjemahannya:

"Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Maknanya

Setelah memberi kaum mukmin tuntunan secara umum, Allah SWT lalu memberi tuntunan secara khusus dengan menyebutkan karuniaNya kepada Nabi Muhammad SAW. Maka berkat rahmat yang besar dari Allah SWT engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka yang melakukan pelanggaran dalam Perang Uhud.

Sekiranya engkau bersikap keras, buruk perangai, dan berhati kasar, tidak toleran dan tidak peka terhadap kondisi dan situasi orang lain, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah, hapuslah kesalahan-kesalahan mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah SWT untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, yakni urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan.

Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad untuk melaksanakan hasil musyawarah, maka bertawakallah kepada Allah, dan akuilah kelemahan dirimu di hadapan-Nya setelah melakukan usaha secara maksimal. Sungguh, Allah SWT mencintai orang yang bertawakal.

B. Memberikan Kejelasan (Tabyin)

Ajak mereka berdiskusi secara terbuka dengan menyodorkan argumen atau pilihan yang logis agar keraguan mereka berkurang.

Landasan Dalil Al-Quran

Ayat Utama: Q.S. An-Nahl: 125 berbunyi:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik."

Tiga Metode Utama Kejelasan (Tabyin)

  1. Bil-Hikmah: Menyampaikan kebenaran dengan argumen yang jelas, tepat, dan sesuai akal sehat.

  2. Mau'idzah Hasanah: Memberikan pengajaran atau nasihat yang menyentuh hati secara lembut.

  3. Wa Jadilhum Billati Hiya Ahsan: Berdiskusi atau bertukar pikiran secara terbuka menggunakan cara yang paling sopan dan santun.

C. Membuat Keputusan Tegas

Jika urusan tersebut menyangkut kepentingan Bersama atau pekerjaan, ambil alih peran untuk memutuskan setelah meminta pertimbangan terakhir, sesuai prinsip musyawarah yang berujung pada ketawakalan kepada Allah (QS Ali Imran: 159).

D. Mendoakan Kebaikan

Mohonkan kepada Allah SWT agar hati mereka diberikan keteguhan pendirian dan kemudahan dalam bersikap istiqomah. Dalilnya bersumber dari Al-Quran dan Hadis, yaitu doa Rabbana la tuzigh qulubana (QS. Ali 'Imran: 8) dan doa Ya muqallibal qulub (HR. Tirmidzi).

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (Ali-Imran 8).

Orang yang plin-plan itu tidak mempunyai keyakinan yang kuat, pendiriannya selalu bergoyang dari pagi saat rapat keputusannya “kedelai“ dan sorenya dia rubah sendiri seenaknya menjadi “Tempe”. Orang seperti ini, jika hasrat (syahwat) mendominasi dirinya, sehingga mereka menyangkal kebenaran “kedelai” diubah menjadi “Tempe”. Tahukah bahwa setan terus memupuk penyangkalan kedelai.

Orang yang dungu ini tidak memiliki kemampuan membaca kondisi. Kondisi A tetap dia bilang B. Sikap seperti ini sebetulnya susah diberi tahu dan layak diberi nasihat. Bahkan dia merasa yang paling benar dan pandai sehingga opini orang lain diremehkan, karena yang keluar sebagai keputusan adalah keinginannya.

Semoga kita semua terhindar menjadi orang yang bersikap plin-plan. Jadilah orang yang memegang teguh “kebenaran”.