Konten dari Pengguna

Mungkinkah Usaha Mikro & Kecil Melepaskan Diri dari Kenaikan Biaya Marketplace?

Merza Gamal (Pensiunan Gaul Banyak Acara)

Merza Gamal (Pensiunan Gaul Banyak Acara)

Malang melintang di dunia perbankan sejak tahun 1990, dan 15 tahun diantaranya bergabung dengan sebuah Bank Syariah terbesar di Indonesia yang merupakan grup perbankan papan atas, membuat Merza siap sharing knowledge dan experience-nya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Merza Gamal (Pensiunan Gaul Banyak Acara) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi Merza Gamal diolah dengan Copilot.Microsoft
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi Merza Gamal diolah dengan Copilot.Microsoft

Awalnya hanya angka kecil di layar ponsel.

Biaya layanan naik beberapa persen. Komisi penjual bertambah. Subsidi ongkos kirim mulai dikurangi.

Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi banyak pelaku usaha mikro dan kecil, angka-angka kecil tersebut perlahan terasa seperti ombak yang terus menggerus keuntungan harian mereka.

Di sebuah dapur rumah di pinggiran kota, seorang penjual keripik mulai menghitung ulang harga jual produknya. Ia sadar harga tidak bisa dinaikkan terlalu tinggi karena pembeli sekarang sangat mudah berpindah ke toko lain. Sementara itu, harga bahan baku terus naik dan biaya di marketplace ikut bertambah.

Di tempat berbeda, seorang pengrajin tas handmade mulai berpikir untuk mengurangi ketergantungannya pada marketplace. Ia mencoba menjual lewat WhatsApp Business dan media sosial. Sesekali ia juga berpikir membuat website sendiri.

Namun pertanyaan berikutnya segera muncul:

jika keluar dari marketplace, bagaimana cara mendapatkan pembeli?

Pertanyaan itu kini mulai banyak terdengar di kalangan pelaku usaha kecil Indonesia.

Mungkinkah mereka benar-benar melepaskan diri dari marketplace?

Marketplace yang Perlahan Menjadi Ruang Hidup

Selama beberapa tahun terakhir, marketplace telah membuka jalan besar bagi jutaan usaha kecil di Indonesia.

Tanpa harus menyewa toko fisik, pelaku usaha bisa langsung menjual produknya ke berbagai kota. Banyak usaha rumahan yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar, tiba-tiba memiliki pembeli dari luar daerah.

Bagi usaha mikro dan kecil, marketplace bukan lagi sekadar aplikasi belanja. Ia sudah berubah menjadi ruang hidup ekonomi sehari-hari.

Di sanalah transaksi terjadi. Di sanalah pelanggan datang. Bahkan bagi sebagian pelaku usaha, hampir seluruh pendapatan bergantung pada platform tersebut.

Masalahnya, ketergantungan itu kini mulai terasa mahal.

Ketika biaya layanan naik, komisi bertambah, dan subsidi ongkir mulai dikurangi, dampaknya langsung terasa pada keuntungan usaha kecil yang marginnya memang sudah tipis sejak awal.

Bagi perusahaan besar, kenaikan biaya mungkin masih bisa ditutup lewat efisiensi atau skala produksi yang besar. Namun bagi usaha kecil yang bekerja dengan modal terbatas, tambahan biaya sedikit saja bisa langsung mengurangi penghasilan harian.

Ketika Keluar Tidak Semudah yang Dibayangkan

Banyak orang menyarankan agar usaha kecil mulai mandiri dan membangun kanal penjualan sendiri.

Secara teori, gagasan itu memang terdengar ideal.

Namun praktik di lapangan jauh lebih rumit.

Marketplace selama ini bukan hanya menyediakan tempat jualan. Mereka juga menghadirkan pengunjung, sistem pembayaran, layanan logistik, promosi, hingga rasa aman bagi pembeli.

Semua fasilitas itu membuat usaha kecil bisa langsung berjualan tanpa harus membangun semuanya dari nol.

Karena itu, ketika ada yang mengatakan pelaku usaha cukup pindah ke website sendiri, persoalannya tidak sesederhana itu.

Membangun website mungkin mudah.

Tetapi mendatangkan pengunjung adalah cerita yang berbeda.

Usaha kecil harus mulai memikirkan iklan digital, membangun kepercayaan pelanggan, menjaga interaksi dengan pembeli, hingga memastikan transaksi berjalan aman tanpa bantuan sistem marketplace.

Di titik inilah banyak pelaku usaha kecil mulai merasa serba sulit.

Tetap bertahan di marketplace berarti harus menerima margin yang makin menipis. Namun keluar terlalu cepat juga berisiko kehilangan pembeli yang selama ini datang dari platform tersebut.

Ketergantungan yang Tidak Terlihat: Algoritma

Persoalan terbesar sebenarnya bukan hanya soal biaya admin atau komisi penjualan.

Ada sesuatu yang jauh lebih menentukan, tetapi sering tidak disadari: algoritma.

Di marketplace, produk yang muncul di halaman pencarian sangat menentukan penjualan. Masalahnya, pelaku usaha tidak pernah benar-benar tahu bagaimana sistem itu bekerja.

Hari ini toko mereka ramai.

Besok bisa tiba-tiba sepi.

Satu perubahan algoritma saja bisa mengubah jumlah pengunjung secara drastis.

Akibatnya, banyak pelaku usaha kecil hidup dalam ketidakpastian digital. Mereka merasa harus terus mengikuti program promo, iklan, dan potongan harga agar toko mereka tetap terlihat.

Ironisnya, semakin lama mereka berada di dalam sistem itu, semakin sulit pula melepaskan diri.

Karena pelanggan yang datang sering kali lebih loyal kepada platform dibandingkan kepada tokonya sendiri.

Apakah usaha mikro dan kecil masih mungkin mandiri?

Jawabannya mungkin.

Tetapi prosesnya tidak bisa instan.

Bagi usaha mikro, marketplace kemungkinan masih akan menjadi tempat utama untuk bertahan hidup dalam beberapa tahun ke depan. Mereka membutuhkan akses pasar yang cepat, murah, dan praktis.

Namun bagi usaha kecil yang mulai berkembang, arah menuju kemandirian digital perlahan mulai menjadi kebutuhan.

Karena itu, banyak pelaku usaha mulai mencoba membangun hubungan langsung dengan pelanggan.

Ada yang mulai aktif mengelola komunitas pelanggan sendiri. Ada yang memanfaatkan WhatsApp Business untuk menerima pesanan langsung. Ada pula yang perlahan membangun media sosial dan website sederhana agar tidak sepenuhnya bergantung pada marketplace.

Tujuannya bukan langsung meninggalkan platform digital besar.

Melainkan mengurangi ketergantungan sedikit demi sedikit.

Marketplace tetap penting.

Namun jangan sampai menjadi satu-satunya sumber kehidupan usaha.

Yang Dibutuhkan Usaha Kecil Bukan Sekadar Diskon

Di tengah kenaikan biaya marketplace, pelaku usaha kecil sebenarnya tidak sedang meminta belas kasihan.

Mereka hanya membutuhkan ekosistem digital yang lebih sehat dan lebih adil.

Sebab ekonomi digital seharusnya tidak hanya menguntungkan platform besar, tetapi juga memberi ruang tumbuh bagi mereka yang berjualan dari rumah-rumah kecil, dapur sederhana, dan ruang usaha seadanya.

Jika usaha mikro dan kecil terus tertekan oleh biaya dan ketergantungan algoritma, maka yang hilang bukan hanya ribuan toko online kecil.

Yang ikut melemah adalah denyut ekonomi rakyat yang selama ini menjadi salah satu fondasi terbesar perekonomian Indonesia.

Dan ketika fondasi itu mulai rapuh, dampaknya pada akhirnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha kecil, tetapi juga oleh ekosistem ekonomi digital itu sendiri.