Konten dari Pengguna

Seberapa Hijau Shell di Tengah Bisnis Minyak dan Gas?

Ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar Shell. Sumber gambar: Krish Parmar di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar Shell. Sumber gambar: Krish Parmar di Unsplash

Perusahaan minyak dan gas kini tidak hanya dituntut menghasilkan energi, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Tekanan untuk mengurangi emisi membuat perusahaan energi mulai memasukkan energi rendah karbon ke dalam strategi bisnis. Shell menjadi salah satu perusahaan yang mengambil arah tersebut. Pertanyaannya, apakah perubahan ini cukup untuk membuat Shell benar-benar menjadi perusahaan yang lebih hijau?

Shell memiliki target mencapai net-zero emissions pada 2050. Untuk mendukung target tersebut, Shell mengembangkan sejumlah bisnis rendah karbon, seperti hidrogen, bahan bakar rendah karbon, penangkapan dan penyimpanan karbon, serta berbagai solusi energi lainnya.

Komitmen tersebut terlihat cukup meyakinkan jika hanya dilihat dari target dan program lingkungannya. Namun, arah bisnis Shell menunjukkan cerita yang lebih kompleks. Pada September 2026, Shell memutuskan melanjutkan ekspansi LNG Canada. Proyek ini akan menggandakan kapasitas produksi LNG dari sekitar 14 juta ton menjadi 28 juta ton per tahun. Shell memiliki 40 persen kepemilikan dalam proyek tersebut.

LNG masih menjadi bagian penting dari strategi Shell. Perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan LNG sekitar 4–5 persen setiap tahun hingga 2030. Produksi minyak juga tetap dipertahankan pada tingkat tertentu. Artinya, transisi energi yang dilakukan Shell tidak berarti meninggalkan bisnis bahan bakar fosil. Minyak dan gas masih memiliki tempat yang besar dalam rencana pertumbuhan perusahaan.

Bagi Shell, transisi energi bukan hanya persoalan lingkungan. Ada kepentingan bisnis yang harus tetap dijaga. Shell harus membaca kebutuhan pasar energi dunia sekaligus mempertimbangkan keuntungan, investasi, keamanan energi, kebijakan pemerintah, dan kepentingan pemegang saham. Selama minyak dan gas masih dibutuhkan, menghentikan bisnis tersebut secara cepat tentu bukan pilihan yang mudah.

Shell juga memiliki alasan untuk mempertahankan LNG. Gas alam masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi ketika sumber terbarukan belum mampu menyediakan pasokan secara konsisten. Bagi perusahaan, kondisi tersebut membuat LNG tetap memiliki nilai ekonomi dalam masa transisi energi.

Masalahnya muncul ketika komitmen hijau Shell dibandingkan dengan keputusan investasinya. Mengembangkan energi rendah karbon memang menunjukkan adanya perubahan, tetapi belum tentu berarti bisnis perusahaan telah berubah secara mendasar. Cara yang lebih tepat untuk melihatnya adalah dengan memperhatikan ke mana modal perusahaan diarahkan dan bisnis apa yang terus diperluas.

Ekspansi LNG Canada menjadi contoh yang cukup jelas. Ketika Shell memperbesar kapasitas LNG sambil mempertahankan target energi rendah karbon, perusahaan terlihat sedang menjalankan dua kepentingan sekaligus: memenuhi tuntutan transisi energi dan menjaga bisnis fosil tetap menguntungkan.

Kondisi ini tidak serta-merta membuat Shell dapat disebut melakukan greenwashing. Transisi energi memang tidak sederhana. Dunia masih membutuhkan energi fosil, sementara pembangunan energi terbarukan dan teknologi rendah karbon membutuhkan investasi serta waktu. Yang perlu dipertanyakan adalah seberapa besar transisi tersebut benar-benar mengubah arah bisnis Shell.

Shell lebih tepat dipandang sebagai perusahaan energi yang sedang menjalani transisi, bukan perusahaan yang sudah sepenuhnya hijau. Target net-zero dan pengembangan energi rendah karbon menunjukkan adanya perubahan. Pada saat yang sama, ekspansi LNG memperlihatkan bahwa bahan bakar fosil masih menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.

Komitmen terhadap lingkungan seharusnya tidak berhenti pada target yang tertulis dalam laporan perusahaan. Keputusan investasi juga menjadi ukuran penting. Jika bisnis rendah karbon terus berkembang sementara bisnis fosil tetap diperluas, publik wajar mempertanyakan seberapa besar perubahan yang sebenarnya sedang terjadi.

Shell memang sedang bergerak menuju energi yang lebih bersih. Namun, arah pergerakannya belum sepenuhnya meninggalkan bisnis lama. Di situlah pertanyaan tentang seberapa hijau Shell masih relevan untuk dibicarakan.