GERUSI: Membangun Ruang Afeksi Menjaga Kesehatan Mental Anak Panti
Tulisan dari Yudi Adi Prasetia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pamulang – Di balik senyum anak-anak yatim, terdapat kebutuhan yang sering kali luput dari perhatian, yaitu kebutuhan akan dukungan emosional dan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan mereka. Berangkat dari kepedulian terhadap hal tersebut, program GERUSI (Gerakan Ruang Afeksi), mengangkat pentingnya dukungan emosional dan komunikasi suportif sebagai salah satu fondasi kesehatan mental anak, di lingkungan Yayasan Sahabat Yatim Rawa Mekar Jaya.
Melalui kegiatan wawancara bersama Bapak Bambang Hermawanto Mursalin, Selaku ketua Yayasan Sahabat Yatim Rawa Mekar Jaya, terungkap bahwa yayasan ini lahir dari kepedulian terhadap anak-anak yatim di lingkungan sekitar yang berisiko kehilangan akses pendidikan akibat keterbatasan ekonomi maupun kehilangan orang tua.
“Awalnya kami melihat ada anak-anak yatim di sekitar yang kurang mendapat perhatian, bahkan ada yang terancam putus sekolah. Dari situ kami mulai memberikan bimbingan dan santunan bulanan, hingga akhirnya berkembang menjadi kegiatan pembinaan yang dilakukan secara rutin,” Ujar Pak Bambang.
Yayasan yang telah berdiri sekitar satu dekade (10 tahun) dan memperoleh legalitas resmi pada tahun 2021 itu kini membina 55 anak yatim berusia 5 hingga 17 tahun. Berbeda dengan panti asuhan berasrama pada umumnya, yayasan menerapkan sistem non-panti, sehingga anak-anak tetap tinggal bersama keluarga masing-masing dan datang ke yayasan setiap sore, mulai waktu Magrib hingga Isya, untuk mengikuti berbagai kegiatan pembinaan.
Lebih dari Sekadar Bantuan Materi
Menurut pak Bambang, pembinaan yang dilakukan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan ekonomi semata. Kehilangan sosok ayah membuat sebagian anak membutuhkan figur yang mampu memberikan perhatian, arahan, dan rasa aman dalam proses tumbuh kembang mereka.
“Kami ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak, bukan hanya dari segi pendidikan dan kesehatan, tetapi juga pembinaan karakter agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri,” tuturnya.
Setiap hari, pengurus mendampingi anak-anak melalui kegiatan mengaji, belajar bersama, dan membantu menyelesaikan tugas sekolah. Pendekatan tersebut menjadi sarana membangun kedekatan sehingga komunikasi dapat berlangsung secara lebih terbuka.
Ruang Aman untuk Didengar
Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian yayasan adalah membangun ruang afeksi melalui komunikasi sehari-hari. Pengurus berupaya menciptakan suasana yang hangat agar anak-anak merasa nyaman untuk bercerita dan tidak merasa sendirian menghadapi persoalan mereka.
“Anak-anak ini rata-rata tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Karena itu, kami berusaha merangkul mereka, memberi perhatian, dan menghadirkan rasa aman agar mereka tetap memiliki arah dalam menjalani kehidupan,” Jelas Pak Bambang.
Pendekatan tersebut juga diperkuat melalui komunikasi aktif dengan para ibu atau wali dari sang anak. Menurutnya, pembinaan akan lebih efektif apabila nilai-nilai yang ditanamkan di yayasan berjalan seiring dengan pola asuh yang ada di rumah.
Dalam konteks kesehatan mental, ruang afeksi seperti ini menjadi penting karena memberikan kesempatan bagi anak untuk didengar tanpa merasa dihakimi. Interaksi yang hangat dan suportif membantu membangun rasa percaya diri sekaligus memperkuat hubungan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya.
Menumbuhkan Kemandirian dan Kepedulian
Selain pembinaan harian, yayasan menjalankan program Jumat Berkah, yaitu pemberian santunan tunai minimal Rp50.000 kepada setiap anak serta bantuan sembako bagi keluarga. Seluruh kegiatan tersebut didukung oleh sekitar 15 orang pengurus yang secara konsisten mendampingi proses pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan kemandirian anak.
Buah dari pembinaan itu pun mulai terlihat. Beberapa anak yang dahulu dibina sejak usia kecil kini telah berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi, kemudian memilih kembali ke yayasan untuk mengabdi sebagai pengurus.
“Ada anak-anak yang dulu kami dampingi sejak kecil. Sekarang mereka sudah kuliah dan kembali ke yayasan untuk membantu membina adik-adiknya. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” Tukas Pak Bambang.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan secara konsisten tidak hanya membantu anak bertahan menghadapi tantangan hidup, tetapi juga melahirkan generasi yang meneruskan nilai-nilai kepedulian.
Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Melalui GERUSI, tim pelaksana ingin mengajak masyarakat melihat bahwa kesehatan mental anak yatim bukan hanya persoalan individu atau keluarga, melainkan tanggung jawab bersama. Dukungan emosional, komunikasi yang hangat, dan lingkungan yang menerima dapat menjadi modal penting bagi anak untuk dapat tumbuh dengan lebih percaya diri dan mandiri.
Menutup wawancara, Bapak Bambang menyampaikan pesan yang menjadi inti dari semangat gerakan ini.
“Anak-anak yatim dan dhuafa adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan pernah mengucilkan mereka. Anggaplah dan cintai mereka seperti anak kita sendiri, karena siapa yang menaungi anak yatim akan dekat dengan Rasulullah SAW di surga kelak.” (HR. Muslim no. 2983)
Pesan tersebut menjadi pengingat bersama, bahwa kepedulian tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Terkadang, ruang untuk mendengar, perhatian yang tulus, dan komunikasi yang suportif dapat menjadi langkah pertama dalam menjaga kesehatan batin sekaligus membuka jalan bagi masa depan anak-anak yang lebih penuh harapan.

