One Hundred Years Of Solitude: Seratus Tahun Dalam Bayang-bayang Kesepian
Tulisan dari Yudi Adi Prasetia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tujuh Generasi yang Berjalan di Lingkaran yang Sama
Ada sebuah kota yang lahir dari mimpi seorang lelaki. Namanya Macondo. Waktu itu belum ada apa-apa di sana — hanya rawa, sungai berbatu putih sebesar telur purba, dan dunia yang begitu baru sampai banyak benda belum punya nama, dan untuk menyebutnya orang harus menunjuk dengan jari.
José Arcadio Buendía yang membangunnya. Bersama istrinya, Úrsula Iguarán, dan segelintir orang yang ikut menembus rawa mencari laut yang tak pernah mereka temukan, ia mendirikan sebuah desa kecil dari dua puluh rumah tanah liat.
Dan di situlah semuanya dimulai. Juga di situlah, seratus tahun kemudian, semuanya berakhir.
Ini kisah tentang satu keluarga selama tujuh generasi. Tapi lebih dari itu, ini kisah tentang manusia yang mengulang kesalahan yang sama, mencintai dengan cara yang sama, dan sendirian dengan cara yang persis sama — turun-temurun, seolah waktu tak pernah benar-benar bergerak maju.
Anda akan bertemu banyak Aureliano dan banyak Arcadio. Nama-nama itu berulang seperti gema. Dan seiring cerita berjalan, kau mulai sadar: nama yang sama membawa nasib yang mirip. Seakan setiap Buendía dilahirkan untuk melewati jalur yang sudah ditapaki leluhurnya terdahulu.
Úrsula, perempuan tua yang hidup hampir seabad, adalah yang pertama menyadarinya.
"Waktu tidak berjalan," gumamnya suatu hari, "ia hanya berputar-putar."
Bersiaplah. Ini bukan cerita yang lurus. Ini cerita yang melingkar.
Dan setiap kali lingkaran itu berputar, seseorang membuat ikan emas yang sama, memulai perang yang sama, jatuh cinta pada orang yang salah dengan cara yang sama.
Sampai di akhir, kau akan mengerti kenapa satu-satunya jalan keluar dari lingkaran ini adalah dengan menghancurkannya sama sekali.
Bagian 1: Kota yang Dibangun dari Ketakutan dan Mimpi
Sebelum Macondo ada, José Arcadio Buendía dan Úrsula tinggal di desa lain. Mereka sepupu. Dan di keluarga mereka beredar kutukan tua: barangsiapa menikahi kerabatnya sendiri, akan melahirkan seorang anak berekor babi.
Úrsula begitu takut pada kutukan itu sampai bertahun-tahun ia menolak menyentuh suaminya.
Sampai suatu hari seorang lelaki mengejeknya soal itu di sabung ayam. José Arcadio Buendía pun membunuh lelaki itu dengan tombaknya. Dan sejak malam itu, hantu si korban terus muncul di rumah mereka, kesepian, meminta ditemani.
Mereka pun pergi. Meninggalkan segalanya untuk lari dari hantu dan dari masa lalu.
Begitulah Macondo lahir — bukan dari harapan, tapi dari rasa bersalah dan ketakutan. Dari keinginan memulai lagi di tempat yang bersih dari kenangan.
Tapi masa lalu itu lucu. Ia selalu menyusul.
Di tahun-tahun awal, Macondo adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Semua penghuninya muda, tak ada yang mati, tak ada yang lebih tua dari tiga puluh tahun. José Arcadio Buendía memimpin dengan penuh gairah, menata jalan, membagi tanah, memastikan semua orang mendapat air dan matahari yang adil.
Ia lelaki dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.
Dan rasa ingin tahu itulah yang, pelan-pelan, akan menariknya menjauh dari kewarasan.
Bagian 2: Melquíades dan Keajaiban yang Datang Setahun Sekali
Setiap tahun, serombongan gipsi datang ke Macondo membawa keajaiban dari dunia luar.
Pemimpin mereka bernama Melquíades. Lelaki tua berat dengan tangan seperti burung pipit, bak mata yang seperti sudah melihat sisi lain dari kematian. Ia membawa magnet, kaca pembesar, es batu — dan bagi orang Macondo yang belum pernah melihat apa pun, semua itu adalah sihir.
José Arcadio Buendía jatuh cinta pada ilmu pengetahuan seperti orang jatuh cinta pada perempuan.
Ia menukar seekor bagal dan sepasang kambing dengan dua batang magnet, yakin bisa menarik emas dari perut bumi. Ia menghabiskan berbulan-bulan mengurung diri, mencoba membuktikan bahwa bumi itu bulat. Ketika ia akhirnya paham, ia berseru dengan mata berbinar:
"Bumi ini bundar, seperti jeruk."
Úrsula sudah kehilangan kesabaran. "Kalau kau mau jadi gila," katanya, "jadilah gila sendirian. Tapi jangan tanamkan kegilaan gipsimu ke anak-anak."
Melquíades istimewa. Ia sudah mati beberapa kali di berbagai belahan dunia, tapi selalu kembali karena tak tahan pada kesepian kematian. Dialah satu-satunya yang benar-benar mengerti isi hati keluarga Buendía.
Sebelum ia pergi untuk selamanya, ia meninggalkan sesuatu di sebuah kamar kecil di rumah itu. Setumpuk naskah. Ditulis dalam huruf yang tak bisa dibaca siapa pun.
Naskah itu akan menunggu, diam, selama seratus tahun. Menunggu satu orang yang ditakdirkan membacanya.
Melquíades sendiri kemudian mati di Macondo, tenggelam di sungai. Tapi bahkan kematian tak membuatnya benar-benar pergi. Hantunya tetap tinggal di kamar itu, menemani generasi demi generasi Buendía yang datang membaca naskah tuanya — memberi petunjuk, menjaga rahasia, menunggu dengan sabar orang yang tepat.
Karena Melquíades tahu satu hal yang tak diketahui siapa pun. Ia sudah melihat akhir dari cerita ini.
Dan seluruh keluarga Buendía, tanpa mereka sadari, hidup di dalam ramalan yang ia tinggalkan di kamar itu.
Bagian 3: Kolonel Aureliano Buendía dan Tiga Puluh Dua Perang yang Sia-sia
Dari semua anak José Arcadio Buendía, yang paling sunyi adalah Aureliano.
Ia lahir dengan mata terbuka, menatap dunia sejak detik pertama seolah sudah tahu semua yang akan terjadi. Sejak kecil ia bisa merasakan hal-hal sebelum terjadi. Ia pendiam, penyendiri, tukang emas yang menghabiskan hari demi hari membuat ikan-ikan emas kecil di bengkelnya.
Lalu perang datang ke Macondo, dan mengubah segalanya.
Aureliano yang pendiam itu berubah menjadi Kolonel Aureliano Buendía — pemimpin kaum Liberal, tokoh legendaris yang namanya ditakuti di seluruh negeri.
Ia memimpin tiga puluh dua pemberontakan bersenjata. Dan kalah dalam tiga puluh dua-duanya.
Ia lolos dari regu tembak. Selamat dari racun yang cukup untuk membunuh seekor kuda. Bahkan menembak dadanya sendiri dan tetap hidup. Ia punya tujuh belas anak lelaki dari tujuh belas perempuan berbeda, semua diberi nama Aureliano — dan semuanya, satu per satu, dibunuh dalam satu malam, ditandai salib abu di dahi yang tak pernah bisa terhapus.
Tapi inilah yang paling menyayat.
Di puncak kekuasaannya, sang Kolonel sadar bahwa ia sudah lupa untuk apa ia berperang. Ia tak lagi bertempur demi keadilan atau demi partai. Ia bertempur hanya karena kesombongan dan arogansi egonya. Hanya karena tak tahu cara berhenti.
Ia menyuruh menggambar lingkaran kapur sejauh tiga meter mengelilinginya, agar tak ada seorang pun, bahkan ibunya sendiri, boleh mendekat.
Ketika perang akhirnya usai, ia pulang ke Macondo. Ia kembali ke bengkelnya. Dan sampai akhir hayatnya, ia membuat ikan-ikan emas kecil — melebur, membuat, melebur lagi, membuat lagi. Berputar dengan siklus tanpa henti.
Dua puluh lima ikan sehari. Ketika sampai dua puluh lima, ia meleburnya kembali dan memulai dari nol. Itulah bentuk kesepian yang paling murni. Kerja yang tak menuju ke mana-mana, hanya berputar pada dirinya sendiri.
Sang Kolonel yang dulu ditakuti seluruh negeri, kini menjadi orang tua yang tak dikenali anak-anak kecil di jalanan Macondo. Ketika ia mengenang perang-perangnya, ia tak menemukan kebanggaan. Yang ia dapati hanya secerca nestapa kekosongan.
Suatu hari ia bersandar di sebatang pohon kastanye di halaman rumah — pohon yang sama tempat ayahnya, José Arcadio Buendía, dulu diikat sampai gila dan mati. Dan di sana, sendirian, tanpa suara, Kolonel Aureliano Buendía menutup mata untuk terakhir kalinya.
Dari seorang legenda perang, ia berakhir seperti ayahnya: sendiri, di bawah sebatang pohon yang sama, dilupakan dunia yang dulu menyebut namanya dengan gentar.
Dan. Lingkaran itu pun berputar kembali.
Bagian 4: Keajaiban yang Dianggap Biasa
Di Macondo, hal-hal mustahil terjadi setiap hari, dan tak ada yang menganggapnya aneh.
Inilah keajaiban dunia García Márquez: yang ajaib diceritakan seolah hal biasa, dan yang biasa diceritakan seolah ajaib.
Ada Remedios sang Cantik — perempuan tercantik yang pernah hinggap di dunia, begitu murni sampai ia seolah lahir bukan dari bumi ini. Aromanya membuat lelaki mati kesetanan. Suatu siang, saat sedang melipat seprai putih di halaman, tubuhnya perlahan terangkat. Melayang. Naik ke langit di antara kibaran kain, dan menghilang selamanya ke angkasa.
Keluarga itu hanya menatap. Lalu Úrsula, yang ironisnya lebih menyesali seprainya yang hilang, dan ia pun kembali ke pekerjaannya.
Kala itu.
Ada wabah insomnia yang menyerang seluruh kota. Orang-orang berhenti bisa tidur. Awalnya menyenangkan — begitu banyak waktu luang. Tapi kemudian datang gejala yang lebih menyeramkan.
Mereka mulai menjadi pelupa.
Lupa nama benda. Lupa fungsi benda. Lupa siapa diri mereka sendiri. Untuk bertahan, mereka menempeli semua benda dengan tulisan: "meja", "kursi", "sapi". Lalu tulisan yang lebih panjang: "Ini sapi. Ia harus diperah setiap pagi agar menghasilkan susu."
Sampai akhirnya mereka takut suatu hari akan lupa cara membaca tulisan itu sendiri.
Dan Gemuruh pun datang.
Hujan yang turun selama empat tahun, sebelas bulan, dan dua hari tanpa henti. Macondo tenggelam dalam air dan lumpur, membusuk secara perlahan, seakan langit menangisi sesuatu yang tak akan pernah bisa dimaafkan.
Karena tepat sebelum hujan itu, sesuatu yang mengerikan telah terjadi.
Bagian 5: Perusahaan Pisang dan Pembantaian yang Dihapus Sejarah
Suatu hari, orang-orang asing datang ke Macondo. Orang Camarik, dengan perusahaan pisang mereka.
Mereka membawa kereta api, listrik, dan uang. Untuk sesaat, Macondo menjadi ramai, kaya, gemerlap. Akan tetapi mereka juga membawa ketimpangan, keserakahan, dan pagar-pagar kawat yang memisahkan orang kaya dari orang miskin.
Para buruh diperas. Mereka bekerja dalam kondisi yang tak manusiawi. Dan ketika mereka menuntut hak, ribuan orang berkumpul di alun-alun stasiun untuk mogok dan berdemonstrasi.
Tentara mengepung mereka. Lalu senapan mesin mulai menyalak, dan menembaki mereka tanpa ampun.
Lebih dari tiga ribu orang — lelaki, perempuan, anak-anak — ditembak mati di alun-alun. Mayat mereka diangkut dengan kereta api sepanjang dua ratus gerbong, seperti pisang yang ditumpuk, dibuang ke laut.
José Arcadio Segundo, salah satu Buendía, selamat. Ia terbangun di antara tumpukan mayat di dalam kereta, satu-satunya yang masih bernyawa.
Ia berhasil melarikan diri dan kembali ke Macondo untuk menceritakan apa yang terjadi.
Tapi. Naas, tak ada yang percaya padanya.
"Di sini tak pernah terjadi apa-apa," kata orang-orang. "Macondo kota yang bahagia."
Pemerintah menyatakan tidak ada pembantaian. Koran-koran menulis bahwa para buruh pulang dengan tenang ke rumah masing-masing. Sekolah mengajarkan versi itu. Dan pelan-pelan, seluruh kota benar-benar melupakan bahwa tiga ribu nyawa pernah lenyap dalam satu hari, di pagi yang mencekam itu.
Dan setelah itulah hujan empat tahun turun, seperti bentuk penyucian, untuk membersihkan sekaligus mengubur segala dosa yang pernag ada.
Bagian 6: Cinta, Nafsu, dan Kesepian yang Diwariskan
Di sepanjang tujuh generasi, keluarga Buendía tak pernah benar-benar bisa mencintai dengan utuh.
Mereka jatuh cinta dengan hebat. Mereka bernafsu dengan liar. Kendati demikian, selalu ada dinding tak terlihat yang memisahkan mereka dari orang yang mereka cintai — dan dari diri mereka sendiri.
Ada yang menikahi anak kecil yang belum akil balig. Ada yang mencintai perempuan bersuami sampai gila. Ada Amaranta, yang menolak dua lelaki yang mencintainya karena takut, lalu menghabiskan sisa hidup menjahit kain kafan untuk dirinya sendiri — merajut siang hari, membongkarnya malam hari, agar kematian tak kunjung datang.
Pilu.
Ketakutan pada cinta membuat mereka memilih kesepian. Dan kesepian itu, seperti nama-nama, diwariskan dari generasi ke generasi.
Úrsula, yang menyaksikan semuanya, akhirnya paham polanya.
Para Aureliano penyendiri dan cerdas, tapi seolah bertanda tragedi. Para José Arcadio impulsif dan bergairah, tapi tak abadi. Setiap generasi mengulang watak leluhur, mengulang kesalahan, mengulang kesepian yang sama.
Seolah keluarga ini dihukum. Bukan oleh Tuhan, tapi oleh diri mereka sendiri — oleh ketidakmampuan menembus dinding yang mereka bangun di sekeliling hati.
Úrsula hidup begitu lama hingga menyusut sebesar boneka, buta, tapi menyembunyikan kebutaannya agar tak dikasihani. Dialah akar rumah itu, jangkar yang menahan segalanya agar tak runtuh.
Ketika ia akhirnya mati, keluarga, dan kota itu pun, mulai benar-benar hancur.
Bagian 7: Naskah yang Akhirnya Terbaca
Generasi demi generasi berlalu. Rumah Buendía yang dulu megah kini reyot, dimakan rayap dan semut merah. Macondo perlahan mati, ditinggalkan, dilupakan dunia.
Yang tersisa hanya Aureliano Babilonia — Buendía terakhir. Lelaki muda yang mengurung diri di kamar tua Melquíades, ditemani naskah kuno yang tak terbaca selama seratus tahun.
Ia jatuh cinta pada bibinya sendiri, Amaranta Úrsula, tanpa tahu bahwa mereka sedarah. Cinta mereka begitu dahsyat, begitu utuh — akhirnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga, dua Buendía saling mencintai tanpa dinding.
Dan justru dari cinta itulah lahir dari akhir segalanya.
Anak mereka lahir dengan ekor babi. Kutukan tua yang ditakuti Úrsula seabad lalu, akhirnya terwujud. Amaranta Úrsula mati saat melahirkan. Dan bayi berekor babi itu diseret dan dimakan oleh semut-semut merah.
Dalam kesendirian total, yang hancur oleh kehilangan, Aureliano akhirnya berhasil membaca naskah Melquíades.
Ternyata naskah itu ditulis dalam bahasa Sanskerta. Dan isinya adalah sejarah keluarga Buendía — bukan diurutkan menurut kronologis waktu, tapi ditumpuk menjadi satu, seakan semua peristiwa seratus tahun terjadi dalam satu momen yang padu.
Melquíades sudah menuliskan segalanya. Seratus tahun sebelum terjadi.
Setiap kelahiran, setiap perang, setiap cinta, setiap kematian — sudah tertulis sejak awal. Keluarga itu tak pernah punya kebebasan.
Mereka hanya menjalani takdir yang sudah dibukukan.
Dan di baris-baris terakhir naskah itu, Aureliano membaca ramalan tentang dirinya sendiri. Ia membaca bahwa saat ia selesai membaca kalimat terakhir, ia akan lenyap bersama seluruh Macondo.
Di luar, angin mulai bertiup. Angin yang dahsyat, yang mencabut kota itu dari muka bumi.
Aureliano terus membaca, tak berhenti, mengejar kalimat terakhir hidupnya sendiri. Dan tepat ketika ia sampai pada kata terakhir.
Macondo tersapu angin. Lenyap. Dihapus dari ingatan manusia selamanya.
Karena, seperti tertulis di naskah itu, keluarga-keluarga yang dihukum seratus tahun kesepian tidak diberi kesempatan kedua di muka bumi.
Penutup: Mengapa Kesepian Ini Terasa Begitu Dekat
Kenapa cerita tentang keluarga aneh di kota fiktif ini menyentuh begitu banyak orang di seluruh dunia?
Mungkin karena kita semua, diam-diam, mengenali diri kita di setiap bait cerita dan karkater di dalamnya.
Kita juga mengulang kesalahan orang tua kita. Kita juga membangun dinding di sekeliling hati saat seharusnya kita membiarkan orang masuk. Kita juga, kadang, berperang untuk hal-hal yang akhirnya kita lupa alasannya.
Dan kita juga hidup di dunia yang gemar melupakan. Tragedi terjadi, lalu dihapus. Kebenaran dikubur di bawah versi yang lebih nyaman. Sejarah ditulis ulang sampai yang mati seolah tak pernah hidup.
Buku ini mengajarkan sesuatu yang pahit tapi penting: "Melupakan adalah bentuk kematian kedua, yang lebih menyakitkan".
Tapi ada juga keindahan di dalamnya.
Keindahan tentang manusia yang tetap membangun, tetap mencintai, tetap bermimpi — meski tahu semuanya mungkin berputar dan kembali ke titik awal. José Arcadio Buendía yang menatap es batu dan menyebutnya "penemuan terbesar zaman kita". Úrsula yang menahan rumahnya agar tak runtuh selama hampir seabad. Aureliano yang terus membaca sampai kata terakhir.
Ada martabat dalam cara mereka bertahan, meski takdir sudah tertulis.
Barangkali itulah pesan terdalamnya. Bahwa kesepian adalah nasib manusia — tapi cara kita menyikapi dan menjalaninya, dengan gairah atau dengan pasrah, dengan cinta atau dengan ketakutan, itu tetap milik kita.
Dan barangkali, satu-satunya jalan keluar dari lingkaran itu adalah dengan berani mencintai tanpa dinding. Meski hanya sekali. Walaupun itu di akhir zaman.
Tentang Buku Asli
One Hundred Years of Solitude (judul asli: Cien años de soledad) adalah karya Gabriel García Márquez, sastrawan besar dari Kolombia, yang pertama kali terbit pada tahun 1967.
Novel ini adalah salah satu karya paling berpengaruh dalam sastra dunia abad ke-20, dan menjadi ikon dari gaya bercerita yang disebut realisme magis — cara bertutur di mana hal-hal ajaib dan mustahil diceritakan dengan nada biasa, seolah bagian wajar dari kehidupan sehari-hari, sehingga batas antara nyata dan gaib menjadi kabur.
Melalui kisah keluarga Buendía dan kota Macondo, García Márquez tidak hanya mendongeng, tapi juga memotret sejarah, politik, dan jiwa Amerika Latin — kolonialisme, perang saudara yang tak berkesudahan, eksploitasi perusahaan asing, sampai kecenderungan manusia untuk melupakan lukanya sendiri.
Karya ini mengantarkan Gabriel García Márquez meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1982. Hingga kini, novel ini telah diterjemahkan ke puluhan bahasa dan terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia, menjadikannya salah satu buku yang paling banyak dibaca dan dicintai sepanjang masa.

