Konten dari Pengguna

Dari Satu Video ke Video Berikutnya: Bagaimana Algoritma Membentuk Ruang

Methia Sonia

Methia Sonia

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Methia Sonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini dibuat oleh oleh kecerdasan buatan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dibuat oleh oleh kecerdasan buatan AI.

Pernah mengalami situasi ketika awalnya hanya menonton satu video, tetapi beberapa menit kemudian hampir semua video yang muncul membahas topik yang sama?

Misalnya, kita menonton satu video tentang skincare. Setelah itu muncul rekomendasi produk, tips perawatan wajah, pengalaman pengguna lain, sampai video dari kreator yang membahas topik serupa.

Tanpa disadari, satu video dapat menjadi awal dari rangkaian konten berikutnya.

Hal ini berkaitan erat dengan cara platform media sosial memanfaatkan Sistem Rekomendasi (Recommender Systems) dan algoritma pembelajaran mesin (machine learning) untuk menganalisis, menyusun, serta mengarahkan konsumsi konten penggunanya.

Satu Interaksi Bisa Menjadi Petunjuk

Ketika menggunakan media sosial, kita secara berkelanjutan memberikan berbagai sinyal perilaku (behavioral signals) kepada platform digital.

Menonton video sampai selesai (watch time), menyukai unggahan, membagikan, berkomentar, mengikuti akun tertentu, hingga menggeser konten dengan cepat (skip rate) dicatat sebagai data aktivitas.

Secara teknis, platform menggunakan dua metode utama dalam sistem rekomendasi:

Filtering Berbasis Konten (Content-Based Filtering): Menyarankan konten baru yang memiliki karakteristik atau topik serupa dengan konten yang pernah Anda nikmati sebelumnya.

Filtering Kolaboratif (Collaborative Filtering): Menyarankan konten berdasarkan pola perilaku pengguna lain yang memiliki kemiripan minat dengan Anda.

Melalui kombinasi algoritma ini, platform dapat memprediksi jenis konten yang paling berpeluang mempertahankan durasi perhatian (attention span) pengguna. Itulah sebabnya halaman rekomendasi setiap orang bersifat sangat individual (hyper-personalized).

Konten yang Disukai Bisa Terus Muncul

Ketika kita berulang kali berinteraksi dengan topik tertentu, sistem akan memperkuat pembobotan (algorithmic weighting) terhadap topik tersebut.

Misalnya, seseorang beberapa kali menonton video tentang traveling. Setelah itu, ia mungkin menemukan lebih banyak konten tentang tempat wisata, rekomendasi hotel, hingga tips perjalanan dari berbagai pengguna lain.

Hal tersebut membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa semakin personal. Kita seolah-olah memiliki ruang informasi yang secara khusus dirancang sesuai preferensi pribadi.

Ruang Informasi Setiap Orang Bisa Berbeda

Bayangkan dua orang membuka TikTok atau Instagram Reels pada waktu yang bersamaan.

Orang pertama lebih sering berinteraksi dengan konten olahraga, sedangkan orang kedua lebih banyak menonton konten memasak. Walaupun menggunakan aplikasi yang sama, realitas informasi yang tampil di layar mereka akan sangat berseberangan.

Fenomena ini dalam studi literasi digital dikenal dengan istilah Filter Bubble (Gelembung Filter), sebuah konsep yang diperkenalkan oleh aktivis internet Eli Pariser (2011). Filter bubble menggambarkan kondisi ketika algoritma secara otomatis menyaring dan mengisolasi pengguna dari informasi yang beragam, sehingga pengguna hanya disuguhkan informasi yang sejalan dengan preferensi historis mereka.

Dari Rekomendasi Menjadi Kebiasaan

Konten yang terus-menerus muncul menciptakan ruang linier yang konsisten.

Awalnya pengaguman atau kepenasaran menjadi pemicu awal. Namun, sistem umpan balik algoritmik (algorithmic feedback loop) bekerja dengan prinsip stimulus-respon:

Pengguna memberikan respons terhadap konten.

Algoritma memberikan rekomendasi baru yang relevan.

Pengguna kembali merespons rekomendasi tersebut.

Siklus ini secara bertahap membentuk kebiasaan konsumsi media yang terkondisikan.

Ketika Dunia di Layar Terasa Seperti Dunia Sebenarnya

Ketika kita secara konstan terpapar oleh topik atau sudut pandang yang seragam, kita berisiko masuk ke dalam fenomena yang disebut Echo Chamber (Ruang Gema). Dalam echo chamber, gagasan, keyakinan, atau tren tertentu terus diulang dan diperkuat di dalam kelompok tertutup, sementara pandangan alternatif tersaring keluar.

Akibatnya, timbul Availability Heuristic atau bias kognitif di mana seseorang menganggap suatu isu atau tren sedang terjadi secara masif di dunia nyata, padahal hal tersebut hanyalah cerminan dari gelembung informasi yang diciptakan oleh riwayat interaksinya sendiri.

Pengguna Tetap Punya Pilihan

Meskipun algoritma memegang peranan besar dalam mendistribusikan konten, pengguna media sosial bukanlah agen pasif (passive consumers).

Teori komunikasi Uses and Gratifications menegaskan bahwa pengguna media memiliki kontrol aktif dalam memilih dan memanfaatkan media untuk memenuhi kebutuhannya. Pengguna dapat secara sadar mengambil langkah-langkah berikut untuk mengendalikan arus informasi mereka:

Memanfaatkan fitur “Not Interested” atau “Reset Algorithm”.

Secara aktif mencari topik atau sudut pandang alternatif (deliberate searching).

Menjaga keberagaman akun yang diikuti untuk memecah filter bubble.

Kesimpulan

Algoritma sistem rekomendasi dirancang untuk meningkatkan keterikatan (engagement). Namun, memahami mekanisme di baliknya memberi kita kesadaran kritis bahwa apa yang hadir di layar ponsel bukanlah representasi penuh dari dunia nyata, melainkan sekadar cerminan dari pola dan jejak digital yang kita tinggalkan sendiri.