Instagram sebagai Etalase Diri: Ketika Seseorang Mulai Membangun Branding

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Methia Sonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buka Instagram, lihat profil seseorang, lalu tanpa sadar kita mulai membentuk gambaran tentang dirinya. Dari foto profil, unggahan, bio, sampai cara menulis caption, semuanya bisa memberikan kesan tertentu.
Hal tersebut membuat Instagram tidak hanya digunakan untuk berbagi foto atau video. Bagi sebagian orang, Instagram juga menjadi tempat untuk menunjukkan minat, kemampuan, gaya hidup, bahkan karakter yang ingin dikenal oleh orang lain.
Di sinilah personal branding mulai terbentuk.
Profil Instagram sebagai kesan pertama
Ketika seseorang mengunjungi profil Instagram, biasanya tidak semua unggahan akan dilihat satu per satu. Tampilan awal profil sering kali menjadi bagian pertama yang diperhatikan.
Foto profil, bio, beberapa unggahan terbaru, hingga highlight dapat memberikan gambaran singkat mengenai pemilik akun.
Misalnya, seseorang yang sering mengunggah hasil desain mungkin akan lebih mudah dikenal sebagai orang yang memiliki ketertarikan pada bidang kreatif. Sementara seseorang yang rutin membagikan aktivitas olahraga dapat membangun kesan sebagai pribadi yang menyukai kegiatan tersebut.
Kesan itu tidak selalu muncul karena pemilik akun secara langsung mengatakan siapa dirinya. Orang lain dapat menangkapnya melalui berbagai pesan visual yang ditampilkan di profil.
Tidak harus menjadi terkenal
Personal branding sering kali dianggap hanya diperlukan oleh influencer, content creator, atau orang yang ingin terkenal di media sosial. Padahal, siapa pun sebenarnya dapat membangun personal branding melalui akun Instagram.
Mahasiswa, pekerja, fotografer, desainer, penulis, hingga pemilik usaha dapat menggunakan Instagram untuk menunjukkan bidang yang mereka minati.
Misalnya, seorang mahasiswa yang sering mengunggah hasil desain tugas atau proyek kreatif secara tidak langsung sedang memperlihatkan kemampuannya. Jika dilakukan secara konsisten, orang lain bisa mulai mengaitkan akun tersebut dengan bidang kreatif.
Artinya, personal branding tidak selalu tentang memiliki banyak pengikut. Hal yang lebih terlihat adalah bagaimana seseorang ingin dikenal melalui apa yang ia tampilkan.
Setiap unggahan ikut membentuk cerita
Satu foto mungkin hanya terlihat sebagai sebuah unggahan biasa. Namun, ketika seseorang melihat beberapa unggahan sekaligus, terbentuklah sebuah cerita mengenai pemilik akun.
Cara berpakaian, tempat yang dikunjungi, kegiatan yang dibagikan, topik yang sering dibicarakan, hingga gaya visual dapat menjadi bagian dari cerita tersebut.
Karena itu, Instagram bisa dianggap seperti etalase diri. Pengguna memilih apa yang ingin ditampilkan kepada orang lain, sementara audiens memberikan makna berdasarkan apa yang mereka lihat.
Namun, bukan berarti seluruh kehidupan seseorang harus ditampilkan di Instagram.
Personal branding bukan berarti berpura-pura
Membangun personal branding bukan berarti seseorang harus menciptakan karakter yang sepenuhnya berbeda dari dirinya.
Justru, personal branding akan lebih mudah dipertahankan ketika hal yang ditampilkan sesuai dengan minat atau aktivitas yang memang dijalani.
Seseorang tidak harus selalu terlihat produktif, sukses, atau sempurna. Personal branding juga bisa terbentuk dari hal sederhana, seperti konsisten membagikan karya, membahas topik tertentu, atau menunjukkan ketertarikan terhadap suatu bidang.
Yang penting adalah adanya gambaran yang cukup jelas mengenai hal yang ingin dikenalkan kepada audiens.
Instagram menjadi bagian dari identitas digital
Di era media sosial, akun Instagram terkadang menjadi salah satu tempat orang lain mengenal seseorang sebelum bertemu secara langsung.
Bahkan dalam situasi tertentu, profil media sosial bisa menjadi bagian dari pertimbangan ketika seseorang ingin mengetahui latar belakang, minat, atau karya seseorang.
Karena itu, apa yang diunggah di Instagram dapat menjadi bagian dari identitas digital. Unggahan yang terlihat sederhana hari ini bisa saja menjadi hal yang membentuk kesan seseorang terhadap kita di kemudian hari.
Pada akhirnya, personal branding di Instagram bukan sekadar membuat profil terlihat menarik. Lebih dari itu, Instagram menjadi ruang komunikasi tempat seseorang menunjukkan siapa dirinya, apa yang ia sukai, dan hal apa yang ingin ia kenalkan kepada orang lain.
Tidak harus sempurna dan tidak harus terkenal. Terkadang, konsistensi dalam menunjukkan sesuatu yang memang kita jalani sudah cukup untuk membuat orang lain mengenali kita melalui apa yang kita tampilkan.
