Ketika Host Live TikTok Terasa Seperti Teman: Fenomena Kedekatan Di Ruang Media

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Methia Sonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa akrab dengan seseorang yang sebenarnya belum pernah ditemui secara langsung?
Hal ini bisa terjadi ketika seseorang sering menonton Live TikTok dari host tertentu. Awalnya mungkin hanya karena tertarik dengan kontennya. Namun, setelah beberapa kali menonton, kita mulai mengenali cara bicaranya, gaya bercandanya, sampai kebiasaan kecil yang sering dilakukan saat live.
Lama-kelamaan, host tersebut terasa seperti orang yang sudah cukup dikenal. Padahal, interaksi yang terjadi sebenarnya berlangsung melalui layar secara daring.
Secara ilmiah, fenomena psikologis ini dikenal sebagai Interaksi Parasosial (Parasocial Interaction), sebuah konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Donald Horton dan Richard Wohl (1956). Interaksi parasosial menggambarkan kondisi psikologis di mana pengguna media merasakan hubungan sosial satu arah yang intim dan intuitif dengan sosok di layar (media figure), meskipun hubungan pribadi yang nyata tidak pernah ada.
Sering Pertemuan Membangun Familiaritas
Live TikTok memiliki suasana yang berbeda dari video pra-rekam. Dalam live, penonton dapat melihat host berbicara dan merespons situasi secara langsung (real-time).
Seringnya frekuensi menonton menciptakan fenomena psikologis yang dinamakan Mere-Exposure Effect (Efek Paparan Berulang) oleh psikolog Robert Zajonc (1968). Teori ini menjelaskan bahwa semakin sering seseorang terpapar oleh stimulus yang sama dalam hal ini wajah dan suara host semakin tinggi tingkat keterbiasaan, rasa nyaman, dan kesukaan yang muncul secara alami terhadap sosok tersebut.
Jika seseorang sering hadir dalam live yang sama, ia akan semakin mengenali pola kebiasaan host: cara membuka live, topik favorit, hingga candaan khasnya.
Interaksi Kecil yang Terasa Personal
Bayangkan sedang menonton live bersama ratusan orang, lalu komentar kita tiba-tiba dibaca dan namanya dipanggil oleh host.
Meskipun hanya berlangsung beberapa detik, pengalaman tersebut memberikan penguatan sosial (social reinforcement). Berbeda dengan media tradisional seperti televisi yang bersifat satu arah, Live TikTok menawarkan Guided Parasocial Interaction. Host memberikan umpan balik langsung yang mengaburkan batas antara komunikasi massa (mass communication) dan komunikasi antarpribadi (interpersonal communication).
Respons sederhana tersebut memicu pelepasan dopamin neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa dihargai dan koneksi sosial sehingga penonton merasa kehadirannya diakui secara pribadi.
Tidak Harus Selalu Ikut Berbicara
Kedekatan parasosial tidak selalu membutuhkan partisipasi aktif seperti mengetik komentar.
Dalam studi perilaku media, penonton pasif ini memanfaatkan fungsi Lurking yang konstruktif. Mereka bertindak sebagai pendengar (listeners) yang menyerap dinamika sosial di ruang obrolan. Walau tanpa kata-kata, kehadiran yang berulang (pseudo-presence) tetap membentuk rasa memiliki (sense of belonging) terhadap komunitas live tersebut.
Menonton live akhirnya bergeser menjadi rutinitas harian sebuah tempat persinggahan virtual yang memberikan rasa nyaman dan familiar di tengah kesibukan sehari-hari.
Peran Host dalam Membangun Illusion of Intimacy
Kedekatan tidak terbentuk dari satu sisi saja. Gaya komunikasi host memegang peranan krusial dalam membangun Illusion of Intimacy (Ilusi Keintiman).
Host yang mahir akan menggunakan teknik komunikasi dialogis:
Menyapa penonton dengan nama depan/akun.
Menggunakan kata ganti yang merangkul (seperti "kita" atau "teman-teman").
Membagikan cerita personal yang relevan (self-disclosure).
Pendekatan ini menurunkan jarak sosial (social distance) dan membuat siaran terasa seperti percakapan hangat di ruang tamu sendiri.
Menjaga Batas: Antara Realitas Virtual dan Nyata
Media sosial secara efektif memanfaatkan kapasitas manusia untuk berempati melalui layar. Namun, riset dalam literasi digital menekankan pentingnya kesadaran batas (boundaries).
Meskipun rasa dekat yang muncul itu nyata secara emosional, hubungan parasosial tetap bersifat asimetris: penonton mungkin mengetahui banyak detail tentang hidup host, tetapi host tidak benar-benar mengenal kehidupan penonton secara mendalam. Memahami batasan ini mencegah timbulnya ekspektasi yang tidak realistis terhadap figur publik digital.
Kesimpulan
Live TikTok membuktikan bahwa komunikasi digital dapat mentransformasi orang asing menjadi sosok yang terasa akrab.
Di balik angka penonton dan algoritma, terjadi proses psikologis yang kompleks. Live streaming bukan sekadar sarana hiburan atau promosi, melainkan ruang interaksi digital di mana paparan berulang, pengakuan sosial, dan komunikasi interaktif melebur menciptakan rasa kebersamaan yang nyata di dunia maya.
