Konten dari Pengguna

Mengapa Orang Sering Memotong Pembicaraan? Ini Dampaknya dalam Komunikasi

Methia Sonia

Methia Sonia

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Methia Sonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini dibuat oleh kecerdasan buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dibuat oleh kecerdasan buatan AI

Pernah sedang menjelaskan sesuatu kepada teman, tetapi belum selesai bicara sudah dipotong? Rasanya mungkin cukup menyebalkan, apalagi ketika kita belum sempat menyampaikan apa yang sebenarnya ingin dikatakan.

Memotong pembicaraan merupakan hal yang cukup sering terjadi dalam percakapan sehari-hari. Seseorang bisa memotong karena merasa sudah memahami maksud lawan bicara, terlalu bersemangat ingin menyampaikan pendapat, atau takut lupa dengan sesuatu yang ingin dikatakan.

Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi jalannya komunikasi.

Tidak Selalu Karena Ingin Mengabaikan

Ketika seseorang memotong pembicaraan, bukan berarti ia selalu bermaksud tidak menghargai lawan bicaranya.

Dalam percakapan yang berlangsung santai, misalnya, seseorang mungkin memotong karena merasa antusias dan ingin segera menanggapi cerita. Ada juga yang memotong karena memiliki pengalaman serupa sehingga ingin langsung menceritakannya.

Namun, niat dan dampak dari sebuah tindakan bisa berbeda. Meskipun tidak bermaksud mengabaikan, orang yang dipotong tetap bisa merasa tidak didengarkan.

Ketika Pembicaraan Menjadi Tidak Seimbang

Komunikasi yang baik membutuhkan adanya kesempatan bagi setiap orang untuk menyampaikan pesan dan memberikan respons.

Jika seseorang terlalu sering mengambil alih pembicaraan, percakapan dapat menjadi tidak seimbang. Lawan bicara mungkin akhirnya memilih diam karena merasa pendapatnya tidak memiliki ruang untuk disampaikan.

Dalam situasi tertentu, kebiasaan seperti ini juga dapat membuat seseorang enggan melanjutkan cerita, terutama jika topik yang dibicarakan bersifat pribadi atau membutuhkan perhatian lebih.

Memotong Bisa Membuat Pesan Tidak Selesai

Masalah lain muncul ketika seseorang memotong sebelum lawan bicara menyelesaikan kalimatnya.

Misalnya, seorang teman sedang menjelaskan alasan mengapa ia tidak bisa mengikuti sebuah kegiatan. Sebelum penjelasan selesai, lawan bicaranya langsung menyimpulkan bahwa ia memang tidak tertarik ikut.

Padahal, bisa saja ada alasan lain yang belum sempat disampaikan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa mendengarkan sampai selesai dapat membantu seseorang memahami pesan secara lebih utuh dan mengurangi kemungkinan salah menangkap maksud.

Mendengarkan Bukan Berarti Hanya Diam

Mendengarkan dalam komunikasi bukan sekadar tidak berbicara. Pendengar juga perlu memberikan perhatian terhadap pesan yang sedang disampaikan.

Respons sederhana seperti mengangguk, melakukan kontak mata, atau memberikan tanggapan setelah lawan bicara selesai dapat menunjukkan bahwa kita mengikuti percakapan.

Dengan begitu, percakapan tidak hanya menjadi proses berbicara, tetapi juga proses saling memahami.

Beri Ruang Sebelum Memberikan Respons

Salah satu cara sederhana untuk mengurangi kebiasaan memotong pembicaraan adalah memberikan jeda sebelum merespons.

Ketika lawan bicara berhenti sejenak, tidak selalu berarti ia sudah selesai. Bisa saja ia sedang mencari kata yang tepat atau mencoba menyusun pikirannya.

Memberikan sedikit waktu dapat membuat orang lain merasa lebih nyaman untuk menyelesaikan pembicaraannya.

Pada akhirnya, komunikasi bukan hanya tentang seberapa baik seseorang menyampaikan pendapat. Kemampuan untuk mendengarkan dan memberikan ruang kepada orang lain juga menjadi bagian penting dalam sebuah percakapan.

Dengan membiasakan diri mendengarkan sampai selesai, komunikasi dapat berlangsung lebih nyaman dan pesan yang diterima pun memiliki peluang lebih besar untuk dipahami dengan tepat.