Konten dari Pengguna

Personal Branding di Instagram Tidak Selalu tentang Terlihat Sempurna

Methia Sonia

Methia Sonia

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Methia Sonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI

Ketika mendengar istilah personal branding, sebagian orang mungkin langsung membayangkan akun Instagram dengan feed yang rapi, foto yang bagus, dan kehidupan yang terlihat menarik.

Seolah-olah untuk membangun personal branding, seseorang harus selalu terlihat sukses dan sempurna.

Padahal, personal branding tidak selalu seperti itu.

Di Instagram, seseorang bisa dikenal melalui hal-hal yang sederhana. Mulai dari karya yang dibagikan, hobi yang ditunjukkan, cara berbicara, sampai topik yang sering dibahas.

Tidak harus selalu menunjukkan sisi terbaik

Instagram memang menjadi tempat untuk menampilkan berbagai momen yang ingin dibagikan. Karena itu, wajar jika seseorang memilih foto atau video yang menurutnya paling menarik.

Namun, membangun personal branding bukan berarti harus membuat kehidupan terlihat sempurna setiap saat.

Seseorang tetap bisa menunjukkan dirinya secara apa adanya tanpa harus membagikan semua hal tentang kehidupannya.

Misalnya, seseorang yang ingin dikenal sebagai fotografer tidak harus selalu mengunggah foto dirinya dengan kamera. Ia bisa menunjukkan hasil foto, proses mengambil gambar, atau cerita di balik sebuah karya.

Dari situ, orang lain sudah bisa mengenali bidang yang menjadi bagian dari dirinya.

Konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan

Bayangkan sebuah akun yang hari ini membahas fotografi, besok memasang konten memasak, lalu beberapa hari kemudian mengunggah hal yang sama sekali berbeda.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun, orang lain mungkin akan lebih sulit menangkap gambaran mengenai apa yang ingin ditonjolkan dari akun tersebut.

Sebaliknya, ketika seseorang cukup konsisten membagikan hal-hal yang memang menjadi minatnya, audiens akan lebih mudah mengingatnya.

Konsistensi bukan berarti harus mengunggah konten setiap hari. Konsistensi bisa berarti tetap menunjukkan minat, gaya, atau bidang tertentu dari waktu ke waktu.

Personal branding bisa berasal dari hal sederhana

Tidak semua orang menggunakan Instagram untuk menjadi influencer.

Seorang mahasiswa dapat menggunakan Instagram untuk menunjukkan karya tugas atau proyek yang pernah dibuat. Seorang penulis bisa membagikan tulisan. Seorang fotografer dapat menampilkan hasil fotonya. Bahkan seseorang yang memiliki hobi tertentu dapat membagikan aktivitas yang berkaitan dengan hobinya.

Hal-hal sederhana tersebut bisa menjadi bagian dari identitas yang terbentuk di media sosial.

Lama-kelamaan, orang lain dapat mulai menghubungkan akun tersebut dengan bidang atau minat tertentu.

Menjadi diri sendiri tetap penting

Personal branding terkadang membuat seseorang merasa harus mengikuti gaya orang lain agar terlihat menarik.

Padahal, sesuatu yang berhasil pada satu akun belum tentu cocok diterapkan pada akun lain.

Ada orang yang nyaman membuat konten dengan gaya serius. Ada yang lebih suka bercanda. Ada yang senang berbicara di depan kamera, sementara yang lain lebih nyaman menggunakan foto dan tulisan.

Perbedaan tersebut justru dapat menjadi bagian dari karakter masing-masing.

Membangun personal branding tidak harus membuat seseorang menjadi orang lain. Yang lebih penting adalah menemukan cara untuk menunjukkan sisi diri yang ingin dikenalkan kepada orang lain.

Tidak semua hal harus dibagikan

Menjadi autentik di media sosial juga bukan berarti harus membuka seluruh kehidupan pribadi.

Seseorang tetap memiliki hak untuk menentukan mana yang ingin dibagikan dan mana yang ingin disimpan sendiri.

Personal branding justru dapat dibangun dari hal-hal yang memang sengaja dipilih untuk ditampilkan.

Misalnya, seseorang ingin dikenal sebagai orang yang suka membuat desain. Ia cukup membagikan karya dan proses kreatifnya tanpa harus menceritakan seluruh kehidupan pribadinya.

Dengan begitu, identitas yang ditampilkan tetap memiliki batas.

Instagram adalah ruang untuk membentuk kesan

Ketika seseorang mengunjungi profil Instagram, ia akan melihat apa yang dipilih oleh pemilik akun untuk ditampilkan.

Dari pilihan tersebut, audiens kemudian membentuk kesan.

Karena itu, setiap unggahan sebenarnya dapat menjadi bagian dari komunikasi. Foto, video, caption, bahkan cara seseorang merespons komentar dapat ikut membentuk bagaimana dirinya dipersepsikan.

Namun, kesan yang terbentuk tidak harus selalu berupa kehidupan yang sempurna.

Seseorang bisa saja dikenal karena karya, humor, pengetahuan, kreativitas, atau bahkan cara sederhana dalam bercerita.

Pada akhirnya, personal branding di Instagram bukan tentang membuat orang lain percaya bahwa kita sempurna.

Personal branding lebih tentang bagaimana kita menunjukkan sesuatu yang menjadi bagian dari diri kita secara konsisten dan mudah dikenali.

Karena itu, tidak perlu menunggu memiliki feed yang sempurna untuk mulai membangun personal branding. Terkadang, menjadi diri sendiri dan menunjukkan apa yang memang kita sukai justru membuat identitas digital terasa lebih nyata.