Akuntansi Bukan Sekadar Angka: Perannya dalam Mengelola Keuangan Sehari-hari

Mahasiswi S1 Akuntasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Medita Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kita merasa uang baru saja diterima, tetapi tiba-tiba sudah habis sebelum akhir bulan? Padahal, kita merasa tidak membeli sesuatu yang mahal. Uang mungkin habis karena kebiasaan kecil, seperti membeli jajanan, memesan makanan secara daring, atau mengikuti tren yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa mengelola keuangan bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakannya. Menurut saya, salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan prinsup akuntansi dalam kehidupan sehari-hari. Akuntansi tidak selalu harus rumit dan penuh perhitungan, karena kebiasaan sederhana seperti mencatat pemasukan, mengatur pengeluaran, dan menyisihkan uang untuk tabungan sudah menjadi langkah awal dalam mengelola keuangan dengan lebih bijak.
Ketika mendengar kata akuntansi, sebagian orang mungkin langsung membayangkan angka, jurnal, laporan keuangan, dan perhitungan yang rumit. Padahal, menurut saya, akuntansi tidak hanya berkaitan dengan angka. Akuntansi merupakan salah satu cara untuk memahami bagaimana uang diperoleh, digunakan, dan dikelola dengan baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita sudah melakukan kegiatan yang berhubungan dengan akuntansi. Misalnya, ketika seseorang mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap bulan, menghitung sisa uang, atau membuat anggaran untuk kebutuhan tertentu. Kegiatan sederhana tersebut membantu seseorang mengetahui kondisi keuangannya dan menentukan keputusan yang lebih tepat.
Contoh pengelolaan keuangan sehari-hari dapat dilihat dari kehidupan seorang pelajar atau mahasiswa. Misalnya, seseorang menerima uang saku sebesar Rp1.000.000 setiap bulan. Agar uang tersebut cukup hingga akhir bulan, ia dapat membagi uangnya sesuai kebutuhan, seperti Rp400.000 untuk makan, Rp150.000 untuk transportasi, Rp150.000 untuk kebutuhan kuliah, Rp100.000 untuk pulsa dan internet, Rp100.000 untuk tabungan, serta Rp100.000 untuk kebutuhan tidak terduga. Dengan membuat anggaran seperti ini, ia dapat mengetahui batas pengeluaran dan menghindari penggunaan uang secara berlebihan.
Selain membuat anggaran, mencatat pengeluaran juga merupakan kebiasaan yang penting. Sebagai contoh, ketika seseorang membeli makanan seharga Rp20.000, membayar transportasi Rp15.000, dan membeli minuman Rp10.000, ia dapat mencatat total pengeluaran hari itu sebesar Rp45.000. Jika dilakukan secara rutin, catatan tersebut dapat membantu mengetahui kebiasaan belanja dan menentukan pengeluaran mana yang bisa dikurangi.
Menurut saya, kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran sangat bermanfaat, terutama bagi generasi muda. Banyak orang mengalami kesulitan keuangan bukan hanya karena pendapatannya kecil, tetapi juga karena kurang mampu pengeluaran. Membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan, terlalu sering memesan makanan secara daring, atau mengikuti tren yang dapat membuat uang habis sebelum waktunya. Dengan perencanaan keuangan yang baik, seseorang dapat membedakan kebutuhan dan keinginan.
Akuntansi juga memiliki peran penting dalam dunia usaha. Sebuah perusahaan tidak cukup hanya memiliki produk yang bagus dan banyak pelanggan. Perusahaan juga perlu mengetahui berapa pendapatan yang diperoleh, berapa biaya yang dikeluarkan, serta apakah kegiatan usahanya menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui pencatatan dan pelaporan keuangan.
Contohnya, seorang pemilik usaha makanan mencatat pendapatan penjualan sebesar Rp500.000 dalam satu hari. Sementara itu, biaya bahan baku, kemasan, dan biaya operasional mencapai Rp350.000. Dengan pencatatan sederhana, pemilik usaha dapat mengetahui selisih pendapatan dan biaya tersebut adalah Rp150.000 sebelum memperhitungkan biaya lain yang belum dicatat. Informasi ini dapat digunakan untuk megevaluasi usaha dan merencanakan pengeluaran berikutnya.
Terlebih lagi, perkembangan teknologi membuat transaksi keuangan semakin mudah dilakukan. Pembayarab digital, belanja daring, dan layanan paylater memberikan kemudahan, tetapi juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan kemampuan finansialnya. Dalam kondisi seperti ini, pencatatan keuangan menjadi semakin penting agar seseorang dapat mengetahui kemana uangnya digunakan.
Pada akhirnya, menurut saya, akuntansi bukan hanya tentang debit dan kredit atau sekumpulan angka dalam laporan keuangan. Akuntansi juga dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana, seperti membuat anggaran, mencatat pengeluaran, menyisihkan uang untuk tabungan, dan mengevaluasi kondisi keuangan secara berkala. Oleh karena itu, memahami dasar-dasar akuntansi sejak dini dapat membantu seseorang membangun kebiasaan mengelola keuangan secara lebih terencana, bijaksana, dan bertanggung jawab.
