Konten dari Pengguna

Pengaruh Sampah Terhadap Kandungan BOD dan COD dalam Perairan

Meyline Arsala

Meyline Arsala

Saya merupakan mahasiswa aktif semester 6 yang mengambil jurusan kimia.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meyline Arsala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber : pribadi

Air merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Namun, pencemaran air akibat limbah dari sampah domestik dan industri, menjadi ancaman besar yang semakin nyata. Dua indikator utama pencemaran air yang sering digunakan untuk menilai kualitas air adalah BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand). Kedua parameter ini mencerminkan seberapa besar jumlah zat organik yang terlarut dalam air dan seberapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikannya.

BOD merupakan kebutuhan oksigen secara biologis dalam air, parameter ini dapat mengukur jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh suatu mikroorganisme untuk mengurai bahan-bahan organik dalam air secara biologis dalam rentan waktu tertentu (biasanya 5 hari). Sementara itu, COD merupakan kebutuhan oksigen secara kimiawi dalam air di mana parameter ini dapat mengukur total oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi semua bahan organik melalui proses kimia. Semakin tinggi nilai BOD dan COD dalam suatu perairan, maka semakin tinggi pula tingkat pencemarannya, karena parameter ini mengindikasikan banyaknya limbah organik yang masuk ke dalam badan air.

Salah satu penyumbang utama tingginya kadar BOD dan COD dalam air adalah sampah organik, seperti sisa-sisa makanan, daun, dan limbah rumah tangga. Ketika sampah ini masuk ke dalam air maka sampah tersebut akan membusuk dan melepaskan zat-zat organik yang dapat mencemari perairan. Limbah cair dari industri makanan, rumah sakit, dan pasar juga memiliki kadar BOD dan COD yang tinggi, jika limbah ini tidak diolah dengan baik maka akan berakhir di sungai atau laut dan merusak keseimbangan ekosistem perairan.

Tingginya kandungan BOD dan COD dalam air dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut (DO). Padahal, oksigen dalam suatu peraiaran adalah unsur vital bagi kehidupan makhluk air seperti ikan, udang, plankton, dan mikroorganisme lainnya. Jika oksigen dalam air berkurang secara drastis maka:

  1. Ikan dan makhluk air lainnya akan kesulitan bernapas dan bisa mati secara massal.

  2. Air menjadi berbau busuk akibat tingginya proses fermentasi secara anaerob (tanpa oksigen) oleh mikroorganisme dan menghasilkan senyawa beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida (H₂S).

  3. Dapat terjadi proses pertumbuhan secara berlebihan alga akibat tingginya zat organik dalam air. Ketika alga mati dan terurai, menyerap lebih banyak oksigen dan memperparah krisis oksigen dalam air.

Untuk mencegah dampak buruk dari tingginya kadar BOD dan COD dalam air, diperlukan langkah-langkah yang konkret, seperti :

  1. Pengelolaan sampah yang baik, lakukan pemilahan sampah organik dan non-organik serta pengolahan limbah sebelum dibuang ke lingkungan.

  2. Pembangunan dan optimalisasi instalasi pengolahan air limbah (IPAL), baik dalam skala rumah tangga atau industri.

  3. Rehabilitasi sungai dan kawasan pesisir dengan melibatkan masyarakat dan komunitas lingkungan.

  4. Pengawasan dan penegakan hukum terhadap pembuangan limbah ilegal.

Oleh karena itu, menjaga kualitas air bukan hanya merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. Dari membuang sampah pada tempatnya, hingga mendukung program pelestarian sungai. Tentu setiap tindakan kecil dapat memberikan dampak besar bagi masa depan air dan kehidupan.