Belajar Strategi Pemasaran Dua Raksasa Herbal Indonesia

ASN Kumham NTB
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Maya sastra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua iklan herbal yang menarik dan menggelitik saya untuk menulis ulasan terkait strategi pemasaran produk yang digunakan dalam menjaga eksistensi nya adalah Tolak Angin dan Antagin JRG. Yap, kedua produk tersebut menggunakan langkah yang dirasa sesuai strategi produknya yang diharapkan mampu membangun branding di tengah persaingan pasar.
Jika berbicara mengenai gejala masuk angin, hampir semua orang akan merasakan keluhan yang serupa. Gejala umum yang dirasakan mulai dari perut terasa begah, sering bersendawa, punggung terasa dingin, mual, hingga berkeringat dingin merupakan beberapa gejala yang umum dirasakan. Di Indonesia, masyarakat umumnya mengenal metode "kerokan" untuk menghilangkan masuk angin ini. Namun, era sekarang ini adanya herbal yang dikemas dengan modern menjadikan solusi menangkal masuk angin menjadi lebih praktis.
Dan setiap Brand hadir dengan menawarkan solusi untuk masalah yang sama dengan cara yang berbeda dalam mengkomunikasikan produknya kepada konsumen.
Dua produk herbal terkenal Indonesia yang berkhasiat mengatasi masuk angin adalah Tolak Angin dan Antangin JRG. Dalam perjalanannya, keduanya merek ini menggunakan strategi pemasaran unik dan menyasar segment yang berbeda.
Kali ini, dalam iklan terbarunya kedua merek ini menggunakan figur publik ternama sebagai wajah merek sekaligus membawa pesan pemasaran yang berbeda. Mari kita bahas satu per satu.
1. Tolak Angin: Membangun Citra Herbal Modern dan Intelektual
"Orang Pintar Minum Tolak Angin."
Tagline ini begitu melekat di benak masyarakat Indonesia. Pada awal kemunculannya, Tolak Angin hanyalah jamu tradisional yang harus diseduh dengan air rebusan. Inovasi besar dilakukan pada tahun 1994 ketika Tolak Angin menjadi pelopor jamu cair siap konsumsi dalam kemasan sachet.
Dalam iklan terbarunya, Tolak Angin menggandeng aktor Nicholas Saputra sebagai Brand Ambassador. Pemilihan sosok Nicholas bukan tanpa alasan. Ia dikenal sebagai figur yang cerdas, tenang, berkelas, dan memiliki citra eksklusif. Karakter tersebut selaras dengan pesan yang ingin dibangun oleh merek Tolak Angin.
Lokasi Syuting iklan terbaru Tolak Angin yang menampilkan suasana luar negeri, gaya hidup modern, serta sosok profesional berpendidikan menciptakan persepsi bahwa Tolak Angin bukan hanya sekadar jamu tradisional, namun produk herbal modern yang digunakan oleh kalangan intelektual dan masyarakat kelas menengah ke atas.
Melalui strategi ini, Tolak Angin berhasil melakukan transformasi citra produk yang dahulu identik dengan jamu tradisional kini diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup modern tanpa meninggalkan akar budaya Indonesia sebenarnya.
2. Antangin JRG: Dekat dengan Semua Kalangan
"Wes Ewes Ewes Bablas Angine."
Sebuah tagline simpel namun melekat. Mendengar itu, sebagian besar masyarakat Indonesia akan langsung teringat pada Antangin JRG. Berbeda dengan Tolak Angin yang menonjolkan kesan modern dan eksklusif, Antangin JRG memilih pendekatan yang lebih membumi dan dekat dengan masyarakat luas.
Brand produk ini menggunakan aktris Dian Sastrowardoyo sebagai Brand Ambassador. Sosok Dian yang dikenal cerdas, elegan, namun tetap dekat dengan masyarakat menjadi representasi yang tepat untuk menyampaikan pesan produk.
Keunikan Antangin JRG terletak pada penggunaan tagline berbahasa daerah yang sederhana, mudah diingat, dan terasa akrab di telinga masyarakat. Selain itu, produk ini juga menonjolkan komposisi unggulannya yaitu Jahe, Royal Jelly, dan Ginseng sebagai pembeda dari kompetitornya.
Dalam iklannya, Antangin JRG sering menghadirkan visual yang ringan, lucu, dan menghibur. Penggunaan parodi sederhana, seperti visual obor yang menyala sebagai simbol tubuh yang kembali hangat dan nyaman, membuat pesan produk lebih mudah diterima oleh berbagai segmen konsumen.
Strategi ini menunjukkan bahwa Antangin JRG ingin menjadi produk yang dekat dengan semua lapisan masyarakat tanpa batasan status sosial maupun gaya hidup tertentu.
3. Apa yang Bisa Dipelajari dari Kedua Brand Ini?
Persaingan antara Tolak Angin dan Antangin JRG memberikan banyak pelajaran penting mengenai strategi pemasaran dan pengelolaan merek diantaranya adalah :
1. Repositioning Merek
Tolak Angin berhasil melakukan repositioning dari produk jamu tradisional menjadi produk herbal modern yang relevan dengan gaya hidup masa kini.
2. Inovasi Produk
Keberanian Tolak Angin menghadirkan jamu cair dalam kemasan menjadi inovasi yang kemudian banyak diikuti oleh merek lain.
3. Memahami Positioning dan Kompetitor
Kedua merek memahami dengan baik posisi mereka di pasar. Tolak Angin memilih citra modern dan intelektual, sedangkan Antangin JRG menempatkan diri sebagai produk yang dekat dengan masyarakat luas dan mudah dijangkau oleh seluruh segmen masyarakat.
4. Konsisten Membangun Citra Merek
Tagline yang dimiliki oleh kedua produk sangat familiar dan mudah diingat oleh konsumen masing-masing. Pemilihan Brand Ambassador yang tepat hingga konsep iklan yang digunakan selalu konsisten dengan identitas merek yang ingin dibangun.
5. Membangun Kepercayaan Konsumen
Selain promosi yang kuat, kedua produk terus berupaya meyakinkan konsumen mengenai kualitas dan manfaat produknya sehingga tercipta loyalitas pelanggan.
6. Strategi Harga sebagai Pembentuk Persepsi
Harga tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga dapat membentuk persepsi kualitas. Produk dengan harga yang sedikit lebih tinggi sering kali dianggap memiliki kualitas yang lebih baik apabila didukung oleh citra merek yang kuat.
Penutup
Pada akhirnya, konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli kualitas, cerita, citra, dan pengalaman yang digambarkan dalam produk tersebut. Tolak Angin dan Antangin JRG membuktikan bahwa produk dengan fungsi yang sama dapat tampil berbeda melalui strategi pemasaran yang tepat.
Dari kedua merek ini kita belajar bahwa keberhasilan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh kualitasnya, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan dalam mengkomunikasikan nilai, membangun citra, dan menempatkan merek secara tepat di benak konsumen.
