Eksistensi Karya Sastra di Era Pandemi

Bachelor of Arts
Tulisan dari Meyvia Natallia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah menurut kalian eksistensi karya sastra di era pandemi meredup? Atau justru malah sebaliknya?
Menurut kalian, apakah bisa jika sastra dan pandemi berkolaborasi menjadi satu?
Seperti yang kita ketahui dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini, pandemi hampir melumpuhkan segala aktivitas masyarakat di seluruh penjuru dunia. Dari berbagai aspek ekonomi dan kebijakan politik turut mengalami kelumpuhan yang cukup kronis. Bahkan, pandemi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, seperti adanya sistem pembelajaran jarak jauh, Work From Home (WFH), penerapan Social Distancing untuk di tempat ramai, dan pembatasan di sejumlah wilayah.
Kondisi ini menyebabkan masyarakat harus beradaptasi dengan cara hidup yang baru. Masyarakat dituntut harus bisa menguasai teknologi dan hidup berdampingan dengan pandemi. Sejumlah media massa memberitakan PHK besar-besaran, berbagai kegiatan kewirausahaan terpaksa harus gulung tikar, dan sejumlah kebijakan yang cenderung merugikan rakyat kecil terpaksa harus dipatuhi setengah hati. Pandemi telah menghambat gerak masyarakat, khususnya bagi kalangan menengah ke bawah untuk beraktivitas.
Namun pernahkah kalian terpikirkan bahwa pandemi turut melumpuhkan keberadaan karya sastra?
Karya sastra di era pandemi justru mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Selama dua tahun terakhir, karya sastra yang hadir di era pandemi memiliki ciri khas khusus. Tema-tema yang dibawakan cenderung berupa keluhan dan kegelisahan. Derita setiap orang yang mengalami dampak langsung adanya pandemi, telah tergambarkan melalui karya sastra.
Karya sastra sebagai cerminan masyarakat telah, menjalankani fungsinya dengan baik. Para pengarang mampu menangkap fenomena-fenomena yang terjadi pada realitas kehidupan sesungguhnya dengan, menuangkan hasil gagasan dan pemikirannya melalui karya sastra. Karya sastra yang diciptakan seperti puisi, novel, maupun cerpen mampu menggambarkan situasi masyarakat di era pandemi.
Nah, dengan adanya hal ini telah, membuktikan bahwa eksistensi karya sastra di era pandemi tidak mengalami kelumpuhan. Justru sebaliknya, eksistensi karya sastra semakin berkembang bagaikan bintang-bintang di tengah pekatnya luar angkasa yang gelap. Tema maupun isi cerita yang dituangkan memiliki perbedaan dibandingkan karya sastra sebelum memasuki era pandemi. Contohnya terdapat beberapa karya sastra yang menggambarkan kesulitan pedagang kecil ketika mencari sesuap nasi, adanya hambatan untuk menuntut ilmu karena tidak mampu membeli ponsel pintar dan rasa bosan yang melanda karena harus menetap di dalam rumah. Sebagian kecil contoh-contoh tersebut, hadir pada karya sastra dan sangat sesuai dengan realitas kehidupan terkini.
Keberadaan pandemi telah membuktikan bahwa imajinasi tidak dapat dikungkung dan dilumpuhkan. Imajinasi bisa menembus batas ruang dan waktu. Pandemi tidak dapat mengurung imajinasi seseorang melalui karya sastra. Pandemi telah melahirkan warna-warna baru pada karya sastra.
Kita sebagai penerus generasi bangsa, sudah seharusnya menjaga eksistensi karya sastra bagaimanapun kondisinya. Di era pandemi seperti ini, sudah seharusnya menjadi ajang bagi siapa pun terutama, kalangan generasi milenial untuk terus meningkatkan kreativitasnya melalui karya sastra. Generasi milenial kini, diharapkan mampu dapat menghadirkan karya sastra yang imajinatif dan bermanfaat bagi masyarakat pembaca.
Mulailah dari diri sendiri untuk banyak membaca sesuai usia dan kebutuhan. Cara ini setidaknya merupakan dorongan awal kepada generasi milenial untuk terus mempertahankan eksistensi karya sastra. Sebab, karya sastra merupakan salah satu bentuk dokumentasi yang mampu menggambarkan realitas kehidupan melalui tulisan. Jika keberadaan karya sastra tidak lagi eksis maka, masyarakat akan kesulitan menemukan peradaban dunianya sendiri.
Yuk, tuangkan ide imajinatifmu melalui tulisan mulai saat ini!
