Konten dari Pengguna

Tak Pernah Jadi Kita

MEZSYA MARIETA FADILA
Mahasiswa Universitas Negeri Jember
3 Desember 2025 12:10 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tak Pernah Jadi Kita
Tak pernah jadi kita Kisah tentang cinta yang tumbuh diam-diam, berjalan sendirian, dan berakhir tanpa kepastian. Cerita ini menggambarkan luka lembut dari mencintai seseorang yang tak pernah cinta
MEZSYA MARIETA FADILA
Tulisan dari MEZSYA MARIETA FADILA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
foto dokumentasi diri sendiri
zoom-in-whitePerbesar
foto dokumentasi diri sendiri
ADVERTISEMENT
Tak pernah jadi kita, Mungkin ada satu masa dalam hidup di mana hati bisa jatuh tanpa pernah diminta. Begitu pula dengan kisahku, seorang gadis yang entah sejak kapan mulai menaruh hatinya kepada seseorang yang mungkin tidak pernah benar-benar melihatku dengan cara yang sama. Aku menyukai seorang laki-laki yang selalu duduk dibangku paling belakang, dengan rambut acak dan senyum yang entah kenapa bisa membuat hariku lebih terasa ringan.
ADVERTISEMENT
Cinta yang tumbuh itu aneh dan berakhir tak pernah jadi kita. Ia tidak meminta apa pun, tidak menginginkan hal besar. Ia hanya ingin ada. Diam, tapi hidup. Sunyi, tapi terasa. Dan tanpa kusadari, aku mulai membangun dunianya sendiri di dalam kepalaku. Dunia tempat aku dan dia berjalan beriringan, walau dikenyataan kami bahkan tidak pernah melangkah ke arah yang sama.
Cintaku, rasa sukaku padanya bukan cinta yang berisik. Tidak diumbar, tidak diungkapkan, bakan tidak pernah kesampaikan lewat kode apa pun. Rasa sukaku tumbuh diam-diam, seperti rumput liar yang tetap hidup meski tidak ada yang peduli. Setiap pagi aku datang lebih cepat ke sekolah, mungkin dengan alasan sederhana. Aku ingin melihat dia masuk kedalam kelas dengan langkah penuh semangat dan senyum cerah yang selalu dia berikan kepada setiap orang yang menyapanya. Dengan langkah penuh semangat, senyum secerah matahari, tas yang disampirkan dibahunya, kacamata yang bertengger pas dihidungnya entah kenapa membuatnya terlihat sempurna dimataku.
ADVERTISEMENT
Melihat tawa darinya terasa seperti hadiah kecil setiap harinya. Setiap cerita darinya terasa seperti halaman buku yang ingin kubaca berkali-kali. Dan setiap saat dia memanggil namaku, dunia terasa sangat dekat, atau mungkin aku sudah melihat dia seperti duniaku.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai berharap lebih dari seharusnya. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya. Aku mendengarkan ceritanya- tentang hobinya, tentang tugas, tentang mimpinya yang ingin menjadi dokter hebat itu. Aku tertawa ketika ia bercanda, memberi saran ketika ia bingung, pura-pura tidak peduli ketika sebenernya aku berharap obrolan kami berlangsung lebih lama dan merespon hanya selayaknya teman atau sahabat dekat.
Sore itu hujan turun perlahan, seperti seseorang yang mengetuk jendela dengan jari sedih. Kami satu-satunya orang yang belum pulang dari kelas. Aku sedang merapikan buku ketika ia mendatangiku. Wajahnya sedikit berbeda, terlihat ragu dan sedikit gugup tapi juga terlihat cukup bahagia mungkin.
ADVERTISEMENT
"Aku suka seseorang," katanya.
Aku mengangguk, seolah itu adalah hal yang biasa. Padahal di dalam kepalaku, kalimat itu seperti guntur pelan yang menghantam tanah yang rapuh.
"Siapa" tanyaku, meski pertanyaaan itu terasa seperti memecahkan diriku sendiri dari dalam. Ia tersenyum sangat manis, senyum yang membuatku merasa hangat dan sudah ribuan kali kulihat, tapi kali ini terasa seperti pisau kecil yang menggores kulitku dengan sangat pelan. "Namanya Tania. Beberapa hari terakhir kami dekat dan sepertinya aku menyukai dia".
Sejenak aku terdiam. Dunia dalam diriku runtuh dengan elegan. Tidak ada suara. Tidak ada puing-puing, Yang tersisa hanya kehampaan yang memelukku sangat erat.
Aku tersenyum, seperti orang yang sedang mencoba memaklumi ssuatu yang mematahkan dirinya sedikit demi sedikit. aku masih bisa memberi dukungan dan senyum manis kepadanya. "semoga dia bisa membuat dirimu jauh lebih bahagia," jawabku.
ADVERTISEMENT
Begitu saja. Kalimat sesederhana yang menyembunyikan perang dalam dadaku. Tidak ada tangisan dramatis, hanya sepi yang tiba-tiba menempel di dadaku dan tidak mau lepas.
Aku hanyalah sebuah tempat singgah. Tempat ia berserita, tertawa, mengeluh. Bukan tempat ia jatuh cinta.
Aku berjalan pulang hari itu dengan langkah yang terasa asing. Seakan bumi di bawahku berubah teksturnya. Ada sesuatu dalam diriku yang hancur pelan, tetapi tidak meledak. Rasanya seperti kaca retak yang tidak pecah, ia hanya membentuk garis pecah di seluruh permukaannya, namun tetap menahan diri agar tidak berhamburan.
Malam-malam setelah itu menjadi teman yang lebih sunyi. Tapi di balik rasa sakit yang menahun itu, perlahan aku belajar menerima bahwa mencintai seseorang bukan berarti memiliki hak atas hatinya. Cinta, pada akhirnya, bukan transaksi. Bukan timbal balik yang harus seimbang. Kadang cinta hanya ingin dirasakan, bukan dimiliki.
ADVERTISEMENT
Aku mulai menjaga jarak. Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup untuk menyelamatkan diriku sendiri dari harapan-harapan yang bisa membunuhku perlahan. Luka itu tidak hilang, tapi mengecil. Tidak lagi menjadi jeritan, melainkan menjadi bisikan yang sesekali datang menjelang malam. Aku memandang diriku di depan cermin. Mata yang pernah sembab, pipi yang pernah basah, bibir yang pernah bergetar menahan tangis. Semuanya masih ada, tapi lebih kuat dari sebelumnya.
“Aku pantas dicintai kembali,” bisikku pelan.
Dan untuk pertama kalinya, aku percaya pada kalimat itu. Aku tidak tahu kapan waktu itu akan datang. Tidak tahu kapan seseorang akan melihatku tanpa ragu. Tapi aku tahu sesuatu bahwa akuu telah belajar mencintai meski sendirian dan itu saja sudah membuatku lebih hidup daripada sebelum aku mengenalnya.
ADVERTISEMENT
Dan mungkin, ketika waktu akhirnya membawa seseorang yang benar-benar datang untuk tinggal, bukan hanya singgah sebentar, bukan hanya menggenggam lalu melepaskan. Aku akan memahami bahwa seluruh rasa sakit, seluruh harapan yang tumbuh lalu layu, seluruh kalimat yang pernah kutelan, seluruh malam yang kututup dengan dada sesak, seluruh keheningan yang mengajarkanku bertahan. Semuanya bukan untuk disesali, melainkan untuk membentuk diriku menjadi seseorang yang cukup kuat, cukup lembut, dan cukup percaya bahwa cinta yang datang paling lambat kadang adalah cinta yang paling pantas diperjuangkan dan paling tulus untuk diterima tanpa ketakutan lagi.