Apakah Kebaikan yang Kita Dapatkan Altruis atau Egois?

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Hanif Annabawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah suatu saat kalian berpikir, apakah kebaikan yang diberikan orang lain murni ingin berbuat baik atau malah ingin mendapatkan imbalan atas kebaikan yang telah diperbuat kepada kita. Kebaikan seharusnya dilandasi dengan rasa tanpa pamrih, dimana adanya rasa tanpa membutuhkan imbalan atas kebaikan yang telah kita perbuat. Tetapi pastinya kita pernah mengalami setelah mendapat bantuan oleh teman kita dan ketika kita tidak dapat membantu dia, dia mengungkit apa saja bantuan yang telah ia perbuat ke kita. Nah, hal tersebut dinamakan kebaikan egois, kemudian apa yang dimaksud dengan kebaikan altruis dan egois itu.
Menurut Auguste Comte, altruisme berasal dari kata “alter” yang memiliki arti “orang lain”. Secara bahasa altruisme adalah perilaku yang berorientasi pada kebaikan orang lain. Auguste Comte membagi kebaikan menjadi dua, yaitu kebaikan altruis dan juga egois. Kebaikan egois bertujuan untuk mencari manfaat dari orang yang ditolong, sedangkan kebaikan altruis adalah kebaikan yang ditujukan semata-mata untuk kebaikan orang tersebut.
Adapun hal yang melatarbelakangi kebaikan altruis itu sendiri seperti yang dikemukakan oleh Eisenberg dan Miller (1987), perilaku sukarela dengan maksud untuk memberi manfaat bagi orang lain dimana tidak dilakukan dengan adanya harapan menerima imbalan. Contoh dari perilaku kebaikan altruis itu sendiri, seperti pada saat kita membantu teman yang sedang mengalami kesulitan dan setelah kita membantu mereka kita tidak mengharapkan imbalan atas bantuan yang telah kita lakukan.
Perilaku altruistik bisa dibilang biasanya muncul sendiri, tetapi ternyata perilaku altruistik ini bisa dibentuk atau dibiasakan. Menurut Pribanto (1999), ada tiga cara dalam membentuk perilaku altruistik, yaitu :
Pendekatan dengan Pengukuhan (Reinforcement)
Pendekatan ini dilakukan dengan cara pemberian hadiah atau hukuman. Kita bisa memberi hadiah kepada perilaku yang baik atau dalam konteks ini perilaku altruis dimana nantinya akan menghasilkan perilaku altruis yang selanjutnya. Sedangkan, kita bisa memberi hukuman (punishment) pada perilaku yang tidak kita inginkan seperti perilaku egois.
Peniruan (Modelling)
Cara selanjutnya melalui peniruan atau modelling, dimana seseorang mempunyai role model yang mencontohkan perilaku altruis sehingga seseorang tersebut akan melakukan modelling terhadap perilaku yang dilakukan oleh role modelnya.
Mengajarkan Perilaku Altruis
Bisa dilakukan melalui perilaku parenting, dimana sang orang tua akan mengajarkan bagaimana perilaku altruis tersebut yang tentunya akan dicontohkan atau dilakukan oleh sang anak, sehingga sang anak nantinya akan berperilaku altruis.
Setelah mengetahui bagaimana cara untuk menumbuhkan atau membiasakan perilaku altruis, ternyata terdapat tahapan dalam perilaku altruis yang dikemukakan oleh Latene dan Darley, yaitu :
Rasa Perhatian Terhadap Suatu Peristiwa
Pertama dimulai dengan kita memperhatikan adanya suatu peristiwa yang dimana membuat kita merasa peduli akan sebuah peristiwa tersebut.
Interpretasi
Setelah adanya rasa perhatian, maka selanjutnya dari peristiwa tersebut bagaimana kesan yang kita dapat, apakah dibutuhkan pertolongan atau tidak.
Tanggung Jawab
Setelah kita merasa dibutuhkan pertolongan, maka kita harus siap untuk bertanggung jawab atas apapun yang terjadi saat kita menolong.
Keputusan Untuk Bertindak
Selanjutnya kita akan bertanya pada diri kita sendiri apakah akan membantu, dan jika iya, maka bertindak dan akan ada kemungkinan bahwa pertolongan kita diterima ataupun ditolak.
Kesungguhan Untuk Bertindak
Pada kali ini kita akan adanya dilema antara benar akan membantu atau tidak. Pada saat kita benar ingin membantu maka kita haruslah segera membantu.
Nah, setelah mengetahui bahwa dalam perilaku altruis terdapat prosesnya, perilaku altruispun memiliki manfaat dan juga kerugian. Manfaat dari perilaku altruisme ini dikemukakan melalui perspektif intensionalis, dimana setelah melakukan kebaikan altruis maka kita akan merasa lebih baik. Adapun kerugian dari perilaku altruisme ini dikemukakan melalui perspektif konsekuensialis yang beranggapan bahwa kerugian dari perilaku altruis adalah kita yang mengorbankan waktu dan energi kita untuk membantu seseorang yang akhirnya manfaatnya tidak bisa kita rasakan.
Ternyata terdapat kerugian yang didapatkan karena melakukan perilaku altruis itu sendiri, lalu bagaimana karakteristik orang yang memiliki perilaku altruis. Menurut Myers (2012) terdapat karakteristik orang yang memiliki perilaku altruis, sebagai berikut:
Empati
Perilaku alruis akan terjadi pada mereka yang memiliki empati. Dimana orang yang memiliki altruis tinggi akan sangat peka terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka akan merasa paling bertanggung jawab, bersifat sosial, selalu menyesuaikan diri, toleran, dapat mengontrol diri, dan termotivasi untuk membuat kesan yang baik.
Belief on A Just World (Meyakini Keadilan Dunia)
Seseorang yang memiliki altruis akan meyakini bahwa akan adanya keadilan dunia. Keyakinan tersebut berupa yang salah akan dihukum dan yang baik akan mendapatkan hadiah. Seseorang yang memiliki keyakinan ini akan dengan mudah untuk menunjukkan perilaku menolong.
Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial)
Orang yang memiliki rasa social responsibility akan merasa memiliki tanggung jawab atas apapun yang dilakukan oleh orang lain, sehingga pada saat ada yang membutuhkan bantuan orang tersebut harus menolongnya.
Kontrol Diri secara Internal (Internal Locus Of Control)
Individu yang memiliki perilaku altruisme akan mempunyai kontrol diri yang kuat. Kontrol diri yang dimaksud adalah segala sumber motivasi yang mendasari perilakunya berasal dari dalam dirinya.
Ego yang Rendah (Low Egosentris)
Orang yang mempunyai perilaku altruisme akan memiliki ego dalam diri yang rendah. Dimana ia tidak mementingkan dirinya sendiri atau tidak bersikap egois dan lebih mementingkan kebutuhan orang lain terlebih dahulu.
Jadi, kebaikan altruis atau kebaikan tanpa pamrih yang dilatarbelakangi memberi manfaat pada orang lain ini bisa dimunculkan dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Perasaan altruis ini pula memiliki tahapan-tahapan sebelum bertindak. Tetapi walaupun perilaku altruis ini dinilai perilaku yang positif , namun menurut perspektif konsekuensialis terdapat kerugian yang diperoleh dari melakukan perilaku tersebut. Orang yang memiliki perilaku altruis tentunya akan berperilaku berbeda dibandingkan orang lainnya yang membuatnya memiliki karakteristik yang khas.
Referensi
Mareta , G. D. (2020). Skripsi 2.pdf - Raden Intan repository. Raden Intan Repository . http://repository.radenintan.ac.id/10624/1/SKRIPSI%202.pdf
Pfattheicher, S., Nielsen, Y. A., & Thielmann, I. (2021). Prosocial Behavior and Altruism: A Review of Concepts and Definitions. https://doi.org/10.31234/osf.io/je52n
Andromeda, Satria, & Prihartanti , N. (2014). Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Altruisme Pada Karang Taruna Desa Pakang.
