Mengulas Manuskrip yang Berjudul "Adab Beribadah" dari Baubau, Sulawesi Tenggara

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Muhibbin Sulthoni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Naskah kuno atau manuskrip merupakan dokumen baik dalam bentuk buku, gulungan, atau kodeks yang ditulis tangan atau diketik yang belum dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih. Terdapat berbagai informasi dari berbagai bidang seperti pada bidang sastra, agama, hukum, sejarah, adat istiadat dan lain sebagainya.
Di beberapa manuskrip kita bisa menjumpai sebuah gambar atau simbol tertentu dengan berbagai macam warna yang membuatnya menjadi lebih indah. Simbol-simbol atau gambar ini dinamakan dengan iluminasi. Dari total manuskrip nusantara yang telah ditemukan hanya sekitar lima persen diantaranya beriluminasi.
Gambar di atas merupakan sebuah manuskrip berjudul adab beribadah yang berasal dari Baubau, Sulawesi Tenggara. Manuskrip ini tidak beriluminasi akan tetapi terdapat keunikan dimana untuk bagian tulisan tertentu diberi tinta warna merah sebagai tanda yang menunjukkan bahwa bagian itu penting.
Memiliki 22 halaman akan tetapi halaman awal dan akhir dari naskah ini hilang. Selain itu, naskah ini terdapat halaman yang berlubang dan sobekan dibagian sisi tertentu. Ditulis dengan menggunakan aksara arab pegon arab dan arab.
Ditulis di atas kertas Eropa dengan dimensi kertas 21.1 x 17.1 cm dan dimensi blok teks 17.2 x 12.2 cm lengkap dengan watermark (cap kertas) dan tanpa countermark (cap tandingan). Tidak berjilid dan beriluminasi akan tetapi memiliki rubrik. Naskah ini merupakan koleksi dari La Ode Zaenu. Didalamnya tidak dituliskan siapa nama pengarangnya.
Secara garis besar naskah ini tentang adab beribadah dibalut dengan tasawuf, Di halaman pertama diawali dengan sebuah doa meminta disucikan hati dari nifaq serta dijaganya kemaluan dari perbuatan keji. Penting bahwa seseorang ketika ingin beribadah mulailah dengan membersihkan hati terlebih dahulu baru kemudian dengan anggota badan.
Kemudian dijelaskan tentang bab adab berwudhu seperti memperhatikan sumber air wudhu kemudian membaca doa ketika membasuh anggota wudhu seperti tangan, mulut, wajah, kaki, dan lain sebagainya.
Di naskah dijelaskan tentang pentingnya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah serta terus meminta ampunan, petunjuk serta pertolongannya agar bisa selamat di dunia ini dan ketika di akhirat nanti mendapatkan ganjaran yang banyak atas segala amal baik yang pernah dilakukan semasa hidup di dunia.
Juga yang tak kalah penting adalah untuk selalu berdzikir atau mengingat Allah Swt. dimana pun kita berada karena dengan berdzikir ini bisa membuat kita terhubung kepada-Nya. Setelah dijelaskan tentang adab berwudhu setelahnya dijelaskan tentang adab bertayamum meliputi doa tata caranya dan lain sebagainya.
Pembahasan selanjutnya yaitu tentang adab ketika keluar dari masjid. Dijelaskan pula bahwa orang yang salat berjamaah di masjid lebih baik 27 derajat dari pada salat sendirian dan beberapa penjelasan tentang keutamaan lain seperti salat subuh berjamaah, salat isya berjamaah dan lain sebagainya.
Yang ke-empat yaitu tentang adab masuk ke dalam masjid sampai matahari terbit. Di bab ini disinggung pula tentang i’tikaf dimana seseorang beri’tikaf atau berdiam diri di dalam masjid akan diampuni dosa-dosanya. Siapa yang beri’tikaf sepuluh hari dibulan ramadhan pahalanya seperti dua kali haji dan umrah.
Ada pula amalan lain yang dijelaskan di naskah ini yaitu anjuran untuk membaca surah al-kahfi pada malam jumat sesuai maka dirinya akan dipancarkan cahaya untuknya sejauh dirinya dengan baitul atiq serta keutamaan lain dalam memabaca surah ini.
Itulah sedikit penjelasan tentang isi dari manuskrip secara garis besar. Manuskrip tasawuf tentang adab beribadah.
