Konten dari Pengguna

Kisah Muhdi Sukses Ekspor Kripik Singkong ke Korea

mhendrayani

mhendrayani

Pranata Humas di BIRO HIP Kementan

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari mhendrayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : M. Hendrayani

Muhdi (56) tidak pernah menyangka, jualan kripik singkong sehari-hari membawa berkah, ketika dagangnya sangat diminati oleh salah satu warga asing yang sering bermain golf di desa Tuntungan.

“Awalnya, di desa Tuntungan II tempat kami tinggal ada seorang warga negara Korea yang sering bermain golf disana , sehabis bermain, asistennya sering diminta membeli cemilan kripik singkong kami, kadang suka saya kasih bonus tambahan’.kata dia seraya senyum.

Rasa kripik singkong yang krispi produksi Muhdi rupanya sangat menggoda sang warga negara Korea tersebut. Dia menyampaikan ke asistennya, belum pernah menemukan rasa kripik singkong seperti ini. “ akhirnya, saya dihubungi oleh asistennya, dan diminta untuk menyiapkan sampel kripik singkong yang akan dikirim ke Seoul” ucapnya.

Akhirnya Sebanyak 2.400 dus, setiap dus berisi 2,4 kg kripik singkong diekspor ke Korea Selatan melalui pelabuhan laut Belawan.

Bagi Muhdi, soal rasa, harus disesuaikan dengan keinginan pasar, kadang pada saat jualan tak lupa dia bertanya kepada konsumen apa yang kurang dari rasa kripik olahannya, “pernah saya diberi masukan sama konsumen, “kripiknya kurang asin pak”, kata dia sambal ketawa. Hal ini memacunya untuk terus berinovasi, “ini yang terus membuat saya tidak pernah berhenti berinovasi soal rasa, karena tujuan saya bagaimana menggaet konsumen baru”. Ada 8 jenis rasa kripik singkong ciptaannya yang berhasil dikemas.

Sebelum menekuni kripik singkong, pekerjaan Muhdi adalah “sales sembako” selama 8 tahun dikampung halamannya Desa tuntungan II, Pancur Batu, Deli serdang, Medan. Namun, hasil yang diperoleh dirasakan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat itu, menjelang lebaran idul fitri ia mudik ke Magelang, disana perhatiannya tertarik kepada temannya seorang pengusaha kripik singkong. Dengan peralatan sederhana mampu memberdayakan warga sekitar membuat kripik singkong yang ranyah dan krispi. tak segan, ia pun belajar ke temannya.

Dari situ Muhdi bertekad mengikuti langkah temannya membuka usaha kripik singkong di kampung halaman. Soal bahan baku, dia tidak risau, desa tuntungan tempat tinggalnya, singkong sangat berlimpah, selain harganya murah, kualitas bagus serta mudah didapat.

Seusai lebaran, berbekal mesin rajangan (mesin potong sederhana) yang dibeli seharga 125 ribu dari temannya, Muhdi bersama istri kembali ke Medan dan memulai usahanya.

Usaha ini dimulai dengan modal 5 kg singkong, selain merangkap sebagai tenaga kerja, Muhdi bersama istri memasarkan langsung ke pasar tradisional dan sekolah disekitar Medan. Kemasannya pun sederhana yaitu plastik kemasan makanan tanpa merek, keuntunganpun tidak seberapa, “saat itu, satu hari omzet bersih kami hanya sebesar 20 ribu rupiah, tapi seiring berjalan, produk kami mulai dikenal luas dimasyarakat, akhirnya terpikirkan oleh saya bahwa produk kripik singkong harus punya nama”.ucapnya. Kripik Singkong Kreasi Lutvi diambil dari nama anak pertama yang bernama Lutviana.

Tak hanya omzet bertambah, pria lulusan strata satu Universitas Islam Negeri (UIN) Medan bersama istri mulai mempekerjakan banyak karyawan karena tingginya permintaan. Butuh 5 hingga 7 ton singkong perhari untuk produksi. Agar mudah peroleh pasokan bahan baku, dia menjalin kerjasama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri Sejahtera di desanya.

Sejak tahun 2014 hingga saat ini, setiap bulannya sebanyak 2 hingga 3 kontainer ukuran 40 feet berisi kripik singkong produksinya diekspor ke Korea Selatan. “Kadang, jika permintaan tinggi, ekspor 2 kali dalam sebulan”. Kata dia. Pelanggannya tidak hanya dari negeri ginseng, juga dari Malaysia. Bahkan pembeli dari Malaysia datang langsung ke Medan untuk bertransaksi. Untuk mempermudah proses ekspor,Tak lupa kripik singkong kreasi lutvi produksi Muhdi dibekali dengan Free Sale Certification, Health Certification dan ISO 22.000.

Dimasa pendemik saat ini, Muhdi tetap mempekerjakan 70 karyawannya, tidak hanya produksi kripik singkong, mereka juga diberdayakan untuk membuat pupuk organik sebagai tambahan penghasilan bagi mereka.