Konten dari Pengguna

Mengenal Imah, Ratu Kuliner Halua Khas Medan

mhendrayani

mhendrayani

Pranata Humas di BIRO HIP Kementan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari mhendrayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh ; M. Hendrayani

Mengolah ubi, singkong dan beras jadi pangan olahan sudah biasa, tapi mengolah sayuran jadi pangan olahan, luar biasa, dan patut diapresiasi.

Namanya Karimah (53), dipanggil Imah), sejak kecil sudah tertarik dengan kuliner, bahkan sejak usia 8 tahun, dia bisa betah berlama lama berada di dapur membantu ibunya.,

Hasrat akan kuliner ini berlanjut hingga dia beranjak remaja dan masuk SMA. Jika anak remaja seusia Imah sibuk dengan dunianya, dia justru memutuskan bergabung dengan kegiatan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan di kampungnya yang didominasi ibu-ibu rumah tangga.

Awalnya, dia amati sayuran tidak begitu disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa, lalu muncul ide mengolah sayuran menjadi halua.

Halua artinya sama dengan manisan, tapi bagi orang medan halua adalah manisan tanpa bahan pengawet. “di Medan semua orang sudah tau kalau halua itu manisan tanpa bahan pengawet beda dengan manisan umumnya, jadi jika sebut halua sudah tau itu” kata Imah dengan logat melayu.

Saat ini ada beragam sayuran dioleh jadi halua, cabe besar, bunga papaya, pucuk papaya, wortel, tomat, pare, kulit semangka, labu, kulit jeruk kasturi dan berbagai sayuran lainnya. Selama itu sayuran yang bisa dikonsumsi, maka bisa dijadikan halua kata dia.

Tak butuh waktu lama, produk Imah semakin dikenal di Medan, terlebih jika ada acara pernikahan dengan budaya Melayu Deli, yaitu “makan nasi hadap-hadapan”, halua sayuran jadi bagian dalam panganan khas melayu. Bahkan saat Ramadhan dan Hari Raya Idul fitri, halua jadi primadona.

Omzet bersih yang diraihnya mencapai 40 juta per bulan di hari besar keagamaan, diluar itu 30 juta perbulan.

Ditahun 2004, Imah beserta 30 peserta UMKM asal kota medan dikirim ke Jakarta selama 2 minggu untuk pelatihan In country Training Support for small and Medium Scale Industries in Agribusiness, yang diselenggarakan oleh Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) bekerjasama dengan Japan international Cooperantion Agency (JICA).

Setelah pelatihan, para peserta diseleksi untuk mengikuti pelatihan lanjutan di Jepang guna memperdalam pembuatan pangan olahan dan kemasan. Imah lulus dalam seleksi, mengalahkan peserta UMKM lainnya yang sudah malang melintang.

“pada saat interview, saya jujur bahwa saya tidak punya outlet, saya belum punya karyawan, peralatanpun sederhana, tapi saya punya mimpi bisa punya karyawan, punya dapur produksi yang kecil, bisa buat kemasan dan punya outlet sendiri, rupanya kata mereka, bagus, saya salut, kamu tidak mengada ada ” ujar dia.

Sekembalinya dari jepang, Imah sukses bangun usaha yang diberi nama Pondok Halua Delima, ilmu yang didapat selama pelatihan di jepang diterapkan.

Tak lupa untuk meyakinkan produk haluanya agar diterima masyarakat, dia lampirkan hasil uji laboratorium dari Balai Riset dan Standardisasi Industri Medan, Laboratorium Tekhnologi Pangan, Universitas Sumatera Utara, dan Saraswanti Indo Genetch. Produk halua sayuran lulus uji lab dan memenuhi standar keamanan pangan.

Tanpa bahan pengawet produk halua sayuran mampu bertahan dalam kurun waktu 1 tahun. Luar biasa..!

Di Tahun 2018, produk Pondok Halua Medan mendapat sertifikat keamanan pangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Medan No.B-ST.06.82.825.02.18.320.

Produknya dianggap telah menerapkan prinsip dasar keamanan pangan meliputi higenis karyawan, penanganan dan penyimpanan pangan, pengendalian hama, sanitasi tempat dan peralatan.

Imah tidak hanya menjalankan usaha Pondok Halua Delima, lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) Dharma Putera di Medan ini, sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum tentang kewirausahaan oleh Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Medan, Disperindag, Diskop Sumut, Kemenkeu, dan Bank Swasta.