Konten dari Pengguna

Mengapa Anak Muda Pintar di Atas Kertas, tapi Bingung di Kehidupan?

M Asyraf Addawudy

M Asyraf Addawudy

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Asyraf Addawudy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak belajar baca, tulis, dan berhitung (Calistung). Foto: Kdonmuang/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar baca, tulis, dan berhitung (Calistung). Foto: Kdonmuang/Shutterstock

Hari ini kita sering mendengar kisah anak muda yang meraih ranking kelas, memenangkan lomba akademik, bahkan berhasil masuk universitas ternama. Namun, ketika mereka lulus dan harus menghadapi dunia kerja atau sekadar persoalan hidup sehari-hari, tidak sedikit yang kelimpungan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: Mengapa anak muda bisa begitu pintar di atas kertas, tetapi begitu bingung ketika berhadapan dengan kenyataan?

Jawabannya terletak pada stigma pendidikan kita yang masih terlalu berfokus pada angka, rapor, dan gelar, sementara daya pikir kritis, integritas, dan keterampilan hidup diabaikan. Akhirnya, pendidikan menjadi ajang perlombaan nilai, bukan ruang untuk menumbuhkan manusia seutuhnya.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, anak-anak kita dituntut untuk menghafal demi nilai. Ukuran pintar dan sukses ditentukan dari rapor, ranking, hingga IPK. Mereka yang nilainya rendah sering kali dicap bodoh, sedangkan yang nilainya tinggi "diagungkan" sebagai yang paling cerdas.

Masalahnya, cerdas di ujian tidak selalu berarti cerdas dalam menghadapi realitas. Banyak lulusan yang tahu rumus matematika, tetapi bingung mengatur gajinya. Ada yang hafal teori psikologi, tapi gagal mengelola emosinya sendiri. Saya pernah mengenal seorang mahasiswa teknik yang sangat jago menghitung struktur bangunan, tetapi ketika diminta memimpin tim kecil dalam proyek nyata, ia kewalahan karena tidak terbiasa berkomunikasi dan mengambil keputusan.

Di lain sisi, survei LinkedIn 2023 menunjukkan bahwa 89% perusahaan di Asia menilai keterampilan nonteknis, seperti komunikasi, kerja tim, dan kemampuan beradaptasi. Hal tersebut lebih penting daripada sekadar IPK tinggi. Data ini menegaskan bahwa pendidikan kita sering kali gagal membekali generasi muda dengan keterampilan hidup yang paling dibutuhkan.

Paulo Freire menyebut model ini sebagai banking education, yaitu pendidikan yang hanya menjejalkan informasi seperti menyetor uang ke dalam bank. Siswa dianggap sebagai wadah kosong yang hanya perlu diisi data, tanpa diberi ruang untuk berpikir kritis. Tidak heran jika banyak siswa akhirnya pintar mengulang jawaban, tapi kaku ketika diminta mengeluarkan gagasan segar.

Ilustrasi anak dapat nilai jelek di sekolah. Foto: takasu/Shutterstock

Ketika nilai menjadi satu-satunya tujuan, jalan pintas menjadi godaan yang sulit dihindari. Menyontek saat ujian, copy-paste tugas dari internet, hingga praktik jual-beli skripsi sudah bukan hal asing. Budaya ini mencerminkan rapuhnya integritas yang justru lahir dari sistem pendidikan kita sendiri.

Survei Penilaian Integritas Pendidikan (SPI)—yang dilakukan KPK pada tahun 2024—menunjukkan skor integritas nasional hanya mencapai 69,50 poin, menurun dari 73,7 poin pada tahun sebelumnya. Lebih miris lagi, skor integritas di perguruan tinggi hanya 66,15, lebih rendah daripada di sekolah dasar. Artinya, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin goyah pula kejujuran yang seharusnya menjadi fondasi utama.

Sementara itu, laporan World Economic Forum (2020) tentang masa depan pekerjaan menekankan bahwa keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengelolaan diri akan menjadi kompetensi kunci pada tahun 2025. Sayangnya, justru aspek-aspek ini yang sering diabaikan di sekolah kita.

Pendidikan yang Seharusnya

John Dewey, seorang filsuf pendidikan, pernah mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, melainkan kehidupan itu sendiri. Jika dalam proses pendidikan anak-anak kita sudah terbiasa mencari jalan pintas, bagaimana mereka bisa diharapkan jujur dan berintegritas ketika kelak menjadi pemimpin, pegawai, atau pengusaha?

Masalah lain yang tidak kalah serius adalah stigma sosial yang melekat pada jurusan dan kampus. Jurusan tertentu dianggap mulia dan prestisius, sementara jurusan lain diremehkan. Anak yang kuliah di universitas besar "diagungkan", sedangkan yang berkuliah di kampus biasa sering dipandang sebelah mata.

Akibatnya, banyak anak muda memilih jurusan kuliah bukan karena minat atau bakat, melainkan karena tekanan sosial dan gengsi. Tidak jarang mereka akhirnya lulus tanpa benar-benar tahu apa tujuan hidupnya. Mereka punya ijazah, tetapi tidak punya arah. Mereka punya gelar, tetapi tidak punya pegangan. Stigma semacam inilah yang memperburuk kebingungan generasi muda ketika harus mengambil keputusan hidup.

Ilustrasi layanan pendidikan. Foto: Kemenkeu RI

Salah satu kelemahan terbesar dari sistem pendidikan kita adalah tidak adanya perhatian serius pada keterampilan hidup (life skills). Anak-anak diajarkan teori ekonomi, tetapi tidak diajarkan cara mengatur keuangan pribadi. Mereka bisa menghafal sejarah panjang bangsa, tetapi "gagap" ketika diminta memahami dinamika sosial di sekitarnya. Padahal, menurut survei OECD 2022, hampir 45% lulusan muda di Indonesia mengaku kesulitan mengelola keuangan pribadi mereka pada tahun pertama bekerja.

Akibatnya, lulusan kita sering kali jago di ruang kelas, tetapi kikuk ketika masuk dunia nyata. Mereka cerdas menjawab soal pilihan ganda, tapi bingung menghadapi kegagalan pertama dalam hidupnya.

Saya pernah melihat mahasiswa yang pandai berdebat di kelas, tetapi ketika ditolak dalam wawancara kerja, ia jatuh mental dan butuh waktu lama untuk bangkit. Di sinilah pendidikan kita jelas kehilangan ruhnya. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajar, tetapi juga menuntun agar anak bisa hidup mandiri dan tangguh menghadapi tantangan.

Kalau sistem pendidikan terus dibiarkan seperti ini, kita akan terus menghasilkan generasi dengan gelar tinggi, tapi dangkal daya pikirnya.

Mengubah Arah Pendidikan

Oleh karena itu, arah pendidikan harus berani diubah. Beberapa langkah bisa ditempuh. Pertama, mengurangi obsesi pada nilai. Nilai memang penting, tetapi bukan satu-satunya tolok ukur kecerdasan. Bayangkan jika sekolah mulai menghargai kreativitas, kerja sama, dan empati dalam menilai anak-anaknya.

Kedua, menanamkan integritas sejak dini. Kejujuran dan tanggung jawab harus dihargai lebih tinggi daripada sekadar hasil ujian. Misalnya dengan membiasakan siswa melaporkan hasil kerja kelompok secara jujur meski nilainya tidak sempurna, atau menilai proses belajar sama pentingnya dengan hasil akhir.

Ilustrasi anak sekolah SD Negeri Foto: Shutter Stock

Kemudian mengajarkan keterampilan hidup. Anak perlu belajar cara mengelola emosi, berpikir kritis, bekerja sama, hingga berani menghadapi kegagalan. Contohnya, memasukkan literasi finansial, kesehatan mental, literasi digital, serta keterampilan komunikasi dalam kurikulum.

Terakhir, menghargai keragaman bakat. Tidak semua anak harus jadi dokter atau insinyur. Negeri ini juga butuh seniman, petani, guru, wirausaha, bahkan teknisi andal yang bisa menopang kehidupan sehari-hari. Sistem pendidikan harus memberi ruang bagi beragam bakat agar anak tumbuh sesuai potensinya.

Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk membentuk manusia, bukan sekadar mencetak angka. Namun kenyataannya, stigma nilai tinggi sama dengan pintar dan gelar tinggi sama dengan sukses masih terlalu kuat mengikat kita. Padahal, dunia nyata jauh lebih kompleks daripada kertas ujian dan rapor sekolah.

Anak muda kita sudah terlalu lama dipaksa mengejar angka. Akibatnya, banyak yang lulus dengan gelar, tetapi kebingungan melangkah. Mereka bisa disebut pintar di atas kertas, tapi gamang menghadapi kehidupan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: Apakah kita rela terus menghasilkan generasi yang hanya hebat di lembar ujian, tetapi rapuh menghadapi kenyataan? Ataukah kita berani mengubah arah pendidikan agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi tangguh, berintegritas, dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri?

Jika kita masih ingin masa depan bangsa ini cerah, perubahan harus dimulai sekarang. Bukan besok, bukan lusa, tapi hari ini: di ruang kelas, di rumah, serta di hati setiap orang tua dan pendidik. Kita harus berani mengatakan bahwa pendidikan bukan soal angka, tapi soal manusia.