Ketika Fiksi Menyimpan Ingatan Gerakan Tuntutan Rakyat

saat ini saya sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi S1 di Universitas Pamulang program studi Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhamad Robbani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali gerakan tuntutan rakyat memenuhi jalanan, perhatian publik hampir selalu jatuh pada hal yang sama. Jumlah massa, spanduk tuntutan, bentrokan, dan pernyataan pejabat. Semua direkam, disiarkan, lalu perlahan menghilang dari ingatan kolektif. Peristiwa selesai, isu berganti, dan masyarakat diminta kembali menjalani hidup seperti biasa. Yang jarang dibicarakan adalah apa yang tertinggal di dalam diri orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya.
Di titik inilah fiksi menemukan fungsinya yang sering diabaikan. Ia bukan sekadar cerita rekaan, melainkan ruang diam tempat pengalaman emosional disimpan ketika ruang publik sudah terlalu penuh oleh opini dan kepentingan. Jika berita bekerja dengan kecepatan, fiksi justru bekerja dengan waktu. Ia tidak mengejar viralitas, tetapi ketahanan ingatan.
Gerakan tuntutan rakyat tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari rasa jenuh yang menumpuk, dari kekecewaan yang berulang, dari perasaan tidak dianggap yang terlalu lama dipendam. Emosi-emosi ini jarang mendapat ruang ekspresi yang utuh. Bahasa politik terlalu kaku untuk menampungnya. Bahasa hukum terlalu dingin. Bahkan bahasa media sering kali mereduksi emosi menjadi angka dan kronologi.
Fiksi menawarkan bahasa yang berbeda. Ia tidak menuntut kejelasan sikap, tidak meminta data pendukung, dan tidak mengharuskan kesimpulan. Ia hanya meminta kejujuran rasa. Melalui tokoh-tokoh yang mungkin tidak pernah muncul di berita, fiksi menghadirkan sisi manusiawi dari gerakan yang sering dilihat sebagai kerumunan.
Seorang mahasiswa yang ragu sebelum berangkat aksi bukan sekadar peserta demonstrasi. Ia adalah anak yang memikirkan risiko, masa depan, dan ketakutan yang tidak sempat diucapkan. Seorang buruh yang ikut turun ke jalan bukan hanya bagian dari tuntutan ekonomi, tetapi kepala keluarga yang membawa kecemasan rumah tangga ke tengah keramaian. Bahkan mereka yang memilih tidak ikut turun ke jalan pun menyimpan emosi sendiri yang jarang mendapat tempat.
Hal-hal semacam inilah yang sering luput dari pencatatan resmi. Kamera mungkin merekam teriakan massa, tetapi tidak merekam getar tangan sebelum menggenggam poster. Laporan berita mencatat gas air mata, tetapi tidak mencatat kecemasan orang tua yang menunggu anaknya pulang. Setelah aksi bubar, publik membicarakan hasil, sementara rasa hampa dan lelah emosional dibiarkan mengendap tanpa bahasa.
Fiksi bekerja di wilayah-wilayah sunyi itu. Ia menyimpan bukan hanya peristiwa, tetapi suasana batin. Dalam pengertian ini, fiksi menjadi arsip alternatif yang tidak tunduk pada logika negara atau kepentingan institusi. Ia tidak berusaha netral, tetapi jujur. Dan justru karena keberpihakannya pada pengalaman manusia, ia mampu merekam zaman dengan cara yang lebih dalam.
Menariknya, di era digital, fungsi ini tidak selalu hadir dalam bentuk novel tebal atau cerpen panjang. Puisi pendek, cerita mikro, bahkan potongan prosa yang tersebar di media sosial sering kali menjadi bentuk fiksi yang paling jujur. Ia lahir cepat, dekat dengan peristiwa, dan langsung menyentuh emosi. Meski ringkas, karya-karya ini menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang sedang bergetar di dalam masyarakat.
Fiksi semacam ini juga membuka ruang empati yang tidak bisa dipaksakan melalui debat politik. Orang yang tidak turun ke jalan mungkin sulit memahami kemarahan massa. Namun melalui cerita, ia bisa merasakan kegelisahan yang melatarinya. Sastra tidak memaksa pembaca untuk setuju, tetapi mengajak untuk memahami.
Dalam jangka panjang, peran ini menjadi sangat penting. Gerakan tuntutan rakyat akan terus datang dan pergi. Isu berganti, aktor berganti, dan perhatian publik berpindah. Tanpa arsip emosional, semua itu akan menjadi deretan peristiwa yang cepat dilupakan. Fiksi memastikan bahwa yang tersisa bukan hanya catatan kejadian, tetapi ingatan tentang bagaimana rasanya hidup di dalamnya.
Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya publik melupakan, fiksi berdiri sebagai ruang yang sabar. Ia tidak bersaing dengan kecepatan berita. Ia tidak berteriak di tengah keramaian. Ia memilih menyimpan. Dan justru melalui sikap itulah, sastra memberi makna yang lebih dalam bagi gerakan tuntutan rakyat. Bukan sebagai slogan, bukan sebagai statistik, tetapi sebagai pengalaman manusia yang layak diingat.
Muhamad Robbani, Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.
