Konten dari Pengguna

Melindungi Keluarga dari Hoaks dengan Literasi Digital

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rifki Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels/Ron Lach
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels/Ron Lach

Notifikasi ponsel di pagi hari kini tak hanya berisi sapaan atau kabar dari kerabat, tetapi juga berbagai informasi yang belum tentu benar. Di tengah derasnya arus informasi, grup WhatsApp keluarga sering kali menjadi tempat beredarnya kabar yang belum terverifikasi, mulai dari berita yang menyesatkan hingga pesan berantai yang sumbernya tidak jelas.

Persoalannya bukan sekadar pada isi pesan, melainkan juga pada siapa yang mengirimkannya. Informasi yang belum terbukti kebenarannya sering kali lebih mudah dipercaya ketika datang dari orang terdekat. Kedekatan emosional membuat seseorang cenderung percaya bahwa anggota keluarga memiliki niat baik, meskipun informasi yang mereka bagikan belum tentu benar.

Ketika Grup Keluarga Menjadi Sumber Hoaks

Sumber: Pexels/The Six

Dahulu, kabar yang belum tentu benar menyebar melalui obrolan di teras rumah atau pasar, kini informasi serupa dapat tersebar dengan cepat melalui grup percakapan digital. Pesan tersebut sering dikemas dengan judul sensasional, bahasa yang memancing emosi, atau ajakan untuk segera meneruskannya kepada orang lain. Contohnya, informasi tentang hadiah palsu, kabar darurat yang tidak jelas sumbernya, hingga tautan mencurigakan yang mengatasnamakan lembaga tertentu.

Karena grup keluarga bersifat privat, informasi yang dibagikan oleh anggota keluarga terkadang langsung dipercaya tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Sebagian orang juga enggan mengoreksi pesan yang keliru karena khawatir dianggap tidak sopan, terutama ketika pesan tersebut dikirim oleh anggota keluarga yang lebih tua.

Selain kedekatan emosional, pesan juga ternyata dapat memengaruhi cara seseorang menerima informasi. Judul yang sensasional, seperti desakan untuk segera menyebarkan pesan, atau klaim yang tidak disertai sumber jelas dapat membuat orang percaya sebelum memeriksa kebenarannya.

Niat baik untuk membantu atau mengingatkan orang lain juga tidak selalu membuat sebuah informasi menjadi benar. Tanpa kebiasaan memeriksa sumber dan membandingkan informasi, anggota keluarga dapat ikut menyebarkan kabar yang keliru tanpa menyadarinya. Karena itu, grup keluarga perlu menjadi ruang berbagi informasi sekaligus tempat membangun kebiasaan berpikir kritis.

Dampak Hoaks bagi Keluarga

Sumber: Pexels/Poddar Group of Institutions

Hoaks bukan sekadar informasi keliru yang beredar di layar ponsel. Jika dipercaya dan disebarkan tanpa pemeriksaan, informasi palsu dapat memicu kesalahpahaman, menimbulkan kepanikan, bahkan merugikan keluarga secara finansial. Misalnya, kabar palsu tentang perubahan kebijakan, informasi lowongan kerja fiktif, atau pesan yang mengatasnamakan kerabat untuk meminta uang dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang merugikan.

Dampaknya tidak berhenti pada orang yang pertama kali menerima pesan. Ketika informasi tersebut diteruskan ke grup keluarga atau media sosial, jangkauannya bisa semakin luas. Karena itu, penting untuk tidak langsung mempercayai informasi hanya karena banyak orang membagikannya atau karena pesan tersebut dikirim oleh orang yang dikenal.

Membangun Literasi Digital di Rumah

Sumber: Pexels/Poddar Group of Institutions

Melindungi keluarga dari hoaks membutuhkan lebih dari sekadar mengingatkan seseorang agar berhati-hati. Keluarga perlu membangun kebiasaan bersama untuk menyaring informasi. Literasi digital bukan berarti setiap anggota keluarga harus menjadi ahli teknologi, melainkan mampu memeriksa sumber, menilai kewajaran informasi, dan memastikan kebenarannya sebelum membagikannya.

Langkah sederhana dapat dimulai dengan memeriksa siapa yang menerbitkan informasi, kapan informasi tersebut dibuat, serta apakah sumber tepercaya lain mengonfirmasinya. Jika menemukan tautan mencurigakan atau kabar yang terdengar berlebihan, jangan langsung mengeklik atau menyebarkannya. Kebiasaan ini dapat membantu keluarga mengurangi risiko menjadi korban penipuan sekaligus mencegah penyebaran hoaks.

Mengoreksi Hoaks Tanpa Melukai Perasaan

Sumber: Pexels/Julia M Cameron

Langkah terakhir adalah memberikan edukasi tanpa melukai perasaan. Komunikasi yang baik menjadi kunci. Daripada langsung menghakimi sebuah pesan sebagai hoaks, anggota keluarga dapat memberikan informasi alternatif dengan nada yang rendah hati. Menggunakan kalimat seperti, "Saya coba periksa lagi, ternyata informasi ini belum ada sumber yang jelas," bisa menjadi pendekatan yang lebih baik daripada langsung mengatakan, "Ini hoaks, jangan disebar."

Melindungi keluarga dari hoaks tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kebiasaan memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan mengoreksi kabar keliru dengan cara yang baik dapat dimulai dari rumah. Dengan literasi digital yang terus dibangun, keluarga bukan hanya menjadi tempat berbagi kabar, tetapi juga lingkungan yang mendorong setiap anggotanya berpikir kritis sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.