Konten dari Pengguna

Belajar Berpikir Jernih Lewat Buku "Makanya, Mikir!"

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahyu Hidayatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampul buku "Makanya, Mikir! Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia" karya Abigail Limuria dan Cania Citta
zoom-in-whitePerbesar
Sampul buku "Makanya, Mikir! Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia" karya Abigail Limuria dan Cania Citta

"Makanya, Mikir! Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia" adalah buku pengembangan diri karya Abigail Limuria dan Cania Citta yang terbit Agustus 2025 lewat Penerbit Malaka. Buku ini berisi delapan kerangka berpikir yang disusun Abigail dan Cania berdasarkan pengalaman personal mereka, mulai dari cara menentukan tujuan hidup sampai cara bersikap biar tidak jadi orang pintar yang menyebalkan. Acara peluncurannya sendiri sempat jadi perhatian karena dihadiri Anies Baswedan dan Ahok dalam satu panggung yang sama, yang menurut Anies buku ini berhasil menyederhanakan gagasan rumit jadi lebih mudah dicerna.

Buku dibuka dengan bab Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup, yang pada dasarnya mengajak pembaca berhenti sejenak dan benar-benar memetakan apa yang sebenarnya diinginkan sebelum mengambil keputusan besar, bukan sekadar ikut arus atau ekspektasi orang lain. Bab ini jadi pondasi yang pas sebelum masuk ke bab kedua, Kerangka Berpikir Dua Ranah, yang membahas pentingnya membedakan antara realitas dan preferensi, dua hal yang sering kita campur aduk sampai akhirnya bikin keputusan berdasarkan harapan belaka bukan fakta yang ada.

Bagian yang cukup menarik ada di bab ketiga, Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar, karena menyentil kebiasaan banyak orang, termasuk di media sosial, yang sering salah mengartikan kepercayaan diri sebagai kebenaran. Abigail dan Cania menekankan bahwa berpikir ilmiah itu soal keterbukaan buat salah dan terus menguji argumen, bukan soal siapa yang paling keras suaranya. Dari sini buku lanjut ke bab empat dan lima yang membahas cost-benefit analysis, mengenalkan Objective-Oriented Principle sebagai cara menimbang untung rugi sebelum mengambil keputusan hidup yang kadang terasa ribet, dari urusan karier sampai hubungan.

Bab keenam, Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan, kemungkinan jadi salah satu bagian paling relate buat pembaca awam, karena membahas bagaimana otak kita sering tertipu oleh bias kognitif tanpa disadari, entah itu karena terlalu percaya insting atau terbawa opini mayoritas. Setelah itu bab tujuh soal menentukan prioritas mengajak pembaca realistis dengan sumber daya yang terbatas, baik waktu, uang, maupun energi, dan memilih mana yang benar-benar perlu diutamakan ketimbang mencoba menyenangkan semua pihak sekaligus.

Buku ini ditutup dengan bab Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin?, yang terasa jadi pengingat penting bahwa semua kerangka berpikir tadi tidak akan banyak berguna kalau penyampaiannya ke orang lain malah bikin hubungan jadi rusak. Judul babnya sendiri sudah mewakili gaya penulisan buku ini secara keseluruhan, santai, jujur, dan tidak menggurui, meski membahas konsep yang sebenarnya cukup berat seperti objective-oriented principle atau cost-benefit analysis.

Kekuatan buku ini terletak pada caranya menyusun konsep berpikir kritis dan pengambilan keputusan jadi runtutan bab yang logis, dari menentukan tujuan, menimbang risiko, sampai menjaga hubungan sosial, sehingga pembaca diajak membangun pola pikir secara bertahap bukan loncat-loncat. Kekurangannya, karena topik tiap bab cukup padat dan konseptual, pembaca yang baru pertama kali kenal istilah seperti bias kognitif atau cost-benefit analysis mungkin perlu membaca lebih pelan agar tidak sekadar lewat begitu saja.

Secara keseluruhan, "Makanya, Mikir!" cocok dibaca siapa saja yang merasa hidupnya terlalu banyak keputusan rumit tapi bingung dari mana mulai berpikir jernih, apalagi di tengah banjir informasi dan opini di media sosial yang sering membuat orang lebih cepat bereaksi ketimbang berpikir.